Dunia Apresiasi Model Sekolah Perikanan di Indonesia

NERACA

Jakarta – Metode pendidikan vokasi dengan pendekatan teaching factory yang digagas oleh Sekolah Tinggi Perikanan (STP) di bawah binaan Badan Pengembang Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPSDMKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam sistem pembelajarannya menuai hasil yang maksimal. Dari pola pendidikan ini telah menelurkan terobosan baru berbudidaya seperti Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik (Busmetik), budidaya bioflock lele skala mini, budidaya ikan nila dan lainnya. Selain diakui oleh Indonesia, tapi kini sudah diakui dan mendapatkan apresiasi lebih dari dunia international.

“Metode pendidikan vokasi yang diterapkan oleh STP ini sudah banyak menemukan penemuan-penemuan dan terobosan baru dalam berbudidaya sektor perikanan, atas dasar penemuannya itulah mendapatkan apresiasi lebih dari dunia international,” kata Kepala BPSDMKP Suseno Sukoyono kepada Neraca, Jumat (27/12).

Apresiasi itu ditunjukan dengan mengajak para anak didik dari STP untuk dikirimkan ke Afrika dalam rangka menjalankan misi memerangi kelaparan bersama Food and Agriculture Organization (FAO) di Afrika, dan rencananya akan dimulai pada awal tahun 2014 nanti dengan bertahap. “Berdasarkan prestasi yang sudah ditemukan oleh anak didik STP maka FAO tertarik untuk melibatkan mereka dalam misi kemanusiaan memerangi kelaparan di dunia, dan rencananya dalam jangka pendek akan dikirim ke Afrika,” imbuhnya.

Adapun nantinya di Afrika, para anak didik ini rencananya akan mencoba mengembangkan budidaya seperti Busmetik, budidaya bioflock lele skala mini, budidaya ikan nila, dengan pola yang sama hanya saja disesuaikan dengan kondisi alam negaranya. Kerana memang saat ini anak-anak sudah bisa menemukan terobosan baru seperti busmetik, adapun nanti di Afrika pola dan metode seperti busmetik akan coba dikembangkan, hanya saja menyesuaikan dari keadaan alam negera tersebut. Atau bahkan nanti disana bisa menemukan cara berbudidaya yang lain. “Anak didik kami sudah diberikan bekal dan pelatihan yang matang, dan siap dikirimkan kapan saja, tinggal menunggu keputusan dari FAO,” paparnya.

Pembekalan dan pelatihan itu sudah diimplementasikan dalam sehari-hari, dimana dengan metode pendidikan dengan program vokasi dengan pendekatan teaching factory ini dicirikan dengan porsi praktek sebanyak 60% dan teori 40%. Dengan pola pendidikan ini anak-anak didik bisa lebih terampil, dan sudah siap sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan dunia industri. “Alhamdulillah metode ini berhasil diterapkan, atas dasar keterampilan itu yang akhirnya memberikan daya tarik tersendiri bagi FAO untuk menerjunkan anak didik kami ikut serta dalam program mereka yaitu mengatasi kelaparan di dunia, salah satunya dengan budidaya perikanan,” terangnya.

Sedangkan untuk realisasinya tinggal menunggu keputusan dari FAO saja, intinya berapun yang dibutuhkan kami siap memberangkatkan. Tapi mungkin untuk tahap awal tidak terlalu banyak dulu karena buat pembelajaran lingkungan dinegara tersebut, jika memang sudah bisa dikembangkan lebih besar baru mengirimkan lebih banyak lagi. “Sebenarnya kerjasam kami dengan FAO sudah belajar, adapun tinggal pemantapannya saja, untuk dapat memberangkatkan anaka didik kami realisasinya dalam jangka pendek ini, awal tahun 2014 mudah-mudahan sudah mulai ada yang bisa diberangkatkan,” jelasnya.

Mitra Kerjasama

Kerjasama antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Food and Agricultural Organization of The United Nations (FAO) sudah cukup lama terjalin. Program dan aktivitas yang dilakukan dalam kerjasama KKP - FAO tidak hanya berupa proyek-proyek yang secara langsung di implementasikan pada tataran teknis, namun juga berbagai kegiatan yang bersifat pengembangan kapasitas, kursus singkat dan pertukaran informasi di bidang kelautan dan perikanan. Dan dimata FAO disini KKP merupakan mitra kerjasama.

Indoroyono Soesilo, Director of Fisheries and Aquaculture FAO, ditemui pada saat memberikan paparannya di STP, Pasar Minggu, Jakarta, mengatakan, salah satu kerjasama antara FAO dan KKP adalah program kerjasama selatan selatan atau Capacity Development under South-South Cooperation yaitu kerjsama antara negara berkembang dengan negara berkembang, dan kita sudah melaksanakan 20 program, dan salah satunya yaitu masalah perikanan dan disini KKP bisa membantu dalam program ini khususnya untuk tekhnis perikanan kepada bangsa-bangsa di Asia Pasifik dan Afrika. “Oleh karenanya saya mewakili FAO, dari program ini mengucapkan terimaksih pada pemerintah Indonesia KKP, karena bersama-sama dengan FAO menggalang kerjasama di perikanan dan Aquaculture utuk tahun 2014 ini,” katanya.

Selain itu juga, ada kerjasama antara FAO dan KKP khususnya dengan BPSDM KP yaitu untuk kerjasama pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Disini nantinya ada pertukaran dosen maupun mahasiswa. Jadi nantinya dari dosen maupun mashasiswa bisa melanjutkan studinya ke perguruan tinggi luar negeri seperti di University of Washington USA, atau Oregon State University USA. “Kerjasama ini terjalin hasil pertemuan bilateral antara KKP dengan FAO di Roma, yang disepakati ada lima program yang akan dijalankan, salah satunya adalah pengembangan SDM,” terangnya.

Related posts