Rupiah Masih Sakit, Pengusaha Kain Tenun Tahan Kenaikan Harga

NERACA

Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuat pengusaha kain tenun harus memutar otak untuk tetap menjaga harga jual kain asli Indonesia tersebut tak naik. Salah satu pengusaha kain tenun, Wignyo Rahardi mengatakan penguatan dolar ini sangat berpengaruh karena bahan baku berupa benang sutera masih banyak diimpor dari China, sedangkan produksi dalam negeri tidak ada.

"Penguatan dolar pengaruh karena harga benangnya sudah pakai dolar, besarnya tergantung kenaikan kalau dulu saya beli masih Rp 9.000 per dolar sekarang sudah Rp 12 ribu, tetapi kenaikan harga jual kan tidak ikuivalen dengan kenaikan dolar, kalau dolar naik sekian mungkin harga benang naik sekian," ujarnya di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, untuk menjaga peminat kain ini, dirinya sebisa mungkin berupaya untuk tidak menaikan harga kain untuk konsumen kelas menengah ke bawah yang membeli kain produksinya dengan harga yang terjangkau.

Ini dilakukan dengan hanya menaikan harga produk kain dengan kualitas terbaik dan memang ditujukan untuk konsumen kelas atas. "Jadi saya mensubsidi biaya produksi untuk produk yang Rp 95 ribu ini misalnya, dari produk lain yang harganya bisa dinaikan lebih mahal. Jadi untuk konsumen yg kelasnya menengah tetap tidak keberatan, dan yang kelas atas juga bisa tetap membeli. Tapi itu (kain untuk konsumen kelas atas) juga pantas untuk dijual mahal karena ada suatu yang baru & berbeda," tutur dia.

Sementara untuk tahun depan, dengan masih melemahnya rupiah ditambah lagi dengan adanya kenaikan upah minimum provinsi (UMP) yang rata-rata sebesar 30%-40% serta rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) bagi industri, Wignyo memperkirakan akan menaikan biaya produksi usahanya sebesar 20%.

"Itu naiknya besar, cuma saya mau naikan harga jual juga pilih-pilih. Misalnya kalau harga kain yang paling murah biasanya Rp 95 ribu tadi, kalau saya naikan sangat sensitif, tapi kalau saya buat motif baru dan saya jual dengan harga yang baru juga tidak ada masalah," tandas dia.

Disisi lain, tarif listrik baru tersebut diatur Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 30 Tahun 2012 Tentang Tarif Tenaga Listrik yang disediakan PT PLN (Persero).

Berdasarkan regulasi yang ada, pemerintah telah memutuskan untuk menaikkan tarif listrik pada tahun ini sebanyak empat kali dengan jadwal sebagai berikut. Tahap pertama,1 Januari 2013-31 Maret 2013. Tahap kedua,1 April 2013-30 Juni 2013,Tahap ketiga 1 Juli 2013-3Q September 2013 dan Tahap terakhir 1 Oktober 2013.

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Euis Saedah mengatakan, sektor IKM yang paling terkena dampak atas kenaikkan TTL ini ialah IKM sektor otomotif serta IKM tekstil dan garmen. Pasalnya, dari sekian banyak, kedua sektor itulah yang paling banyak mengkonsumsi listrik dalam skala besar.

"Yang paling merasakan adalah industri otomotif dan garmen, karena listrik merupakan input faktor dari industri mereka. Kalau IKM yang lain, listrik hanya untuk penerangan saja," kata Euis sebelumnya.

Dengan naikknya TTL tersebut, Euis mengatakan, otomatis kedua sektor tersebut akan menyesuaikan produksinya. Pasalnya, kata Euis, kenaikkan TTL tersebut berpengaruh hingga 15% terhadap ongkos produksi.

"Bisa bertambah 10-15% untuk cost produksi mereka. Tapi mereka pintar untuk mengadakan penyesuaian bagaimana supaya fleksibel. Apakah produksinya dikurangi, apakah bahannya. Produk mana yang paling boros listrik itu mereka kurangi dulu. Nah itu mereka sangat cepat untuk melakukan itu," papar Euis.

Menurut Euis, tak ada bentuk protes dari para pelaku industri tersebut, karena sebelumnya, mereka telah bersiap-siap untuk melakukan antisipasi kenaikkan ini.

Dikatakan Euis, saat ini dari 9 juta lebih IKM, terdapat 100 ribu IKM yang bergerak di sektor otomotif, namun hanya 4.000 sektor usaha yang berskala besar dan mengkonsumsi listrik lebih besar. "Kalau garmen ada banyak jutaan. Tapi yang besar hanya sampai 200.ribuan," tutur Euis.

Related posts