Delta Dunia Siapkan Suntikan Modal US$ 30 Juta - Kembangkan Bisnis Anak Usaha

NERACA

Jakarta – PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) menandatangani persyaratan Deed of Undertaking yang menyatakan kesanggupan menyediakan dana bagi anak usahanya sebesar US$30 juta. Penandatanganan tersebut telah dilaksanakan pada 23 Desember 2013 yang dilakukan dengan anak usahanya PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) dan Sumitomo Mitsui Banking Corp.

Direktur PT Delta Dunia Makmur Tbk Erianto pardede dalam keterangan resminya di Jakarta, kemarin menyebutkan penandatanganan Deed of undertaking ini adalah suatu persyaratan yang diajukan oleh Agen Fasilitas sehubungan dengan permohonan persetujuan pengesampingkan (waiver) ketentuan tertenu di dalam perjanjian fasilitas yang diajukan oleh BUMA.

Seperti diketahui BUMA sebagai anak usaha perseroan pernah mendapatkan fasilitas pinjaman dimana Sumitomo ditunjuk sebagai agen fasilitas. Dalam kesepakatan itu perseroan akan menjaga tetap tersedianya dana tikda kurang dari US$30 juta dalam rekening yang ditetapkan dalam Deed of Undertaking.

Sementara itu, hingga kuartal ketiga tahun ini perseroan telah menggunakan dana belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$17 juta, dari total capex yang dianggarkan sebesar US$30 juta. Dia mengungkapkan bahwa, pada tahun ini dana capex jauh lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$200 juta.“Penurunan dana capex tersebut karena perseroan di tahun ini tidak membeli alat berat yang berkapasitas banyak untuk beroperasi. Alat berat yang kami beli di tahun kemarin masih bagus jadi masih simpan alat”, jelas dia.

Lebih lanjut dia menyatakan, dana capex direalisasikan untuk infrastruktur dan replacement. Komposisinya adalah untuk infrastruktur sebesar 70%, sedangkan sisanya sebanyak 30% untuk replacement.“Perseroan tidak akan maksimal dalam penggunaan dana capexnya sampai akhir tahun ini. Kemungkinan hanya sekitar US$25 juta hingga akhir tahun yang terealisasi”, katanya.

Hal ini dikarenakan perseroan lebih memilih menyimpan cash yang lebih optimal, dari pada mengganggarkan dana capex yang besar tapi tidak digunakan secara optimal oleh perseroan. Sementara untuk tahun depan, diakuinya bahwa perseroan tidak menganggarkan tinggi, malah kemungkinan lebih rendah dari tahun 2013.

Terkait hutang perseroan yang mencapai US$716 juta, dia menyebutkan berniat untuk melunasi total hutangnya yang jatuh tempo pada tahun 2018 mendatang. Skema yang akan dilakukan perseroan dalam melunasi hutang tersebut dengan mencicil.

Pada tahun ini perseroan akan membayar sebesar US$50 juta, pada tahun 2014 mendatang perseroan membayar sebesar US$100 juta, sedangkan pada tahun 2015 mendatang perseroan kembali membayar hutang sebesar US$100 juta.“Kemudian tahun 2016-2018 perseroan akan melunasi hutang dengan jumlah yang lebih besar dari tahun sebelumnya. Intinya pada tahun 2018 kita optimis total hutang kita akan lunas”, katanya.

Dalam melunasinya, perseroan akan menjalin kerjasama dengan beberapa client yang sudah cukup lama seperti Berau Coal, Adaro, KPC dan Bayan. Untuk kerjasama dengan Adaro pada tahun 2014 mendatang, perseroan sedang dalam tahap negosiasi final kerjasama perpanjangan. (nurul)

Related posts