Implikasi Hilirisasi Sektor Perkebunan Bagi Perekonomian - Oleh: M. Ajie Maulendra, Analis Industri Bank Mandiri

Kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian Indonesia terbilang cukup signifikan, terlihat dari porsi sektor pertanian terhadap total PDB (Produk Domestik Bruto) pada tahun 2011 dan 2012 masing-masing sebesar 14,7 % dan 14,4% dimana angka tersebut adalah urutan ketiga terbesar setelah sektor pengolahan dan perdagangan,hotel dan restoran. Dengan sumbangan yang signifikan tersebut, pertanian merupakan sektor penyerap 33,3% total tenaga kerja dan sumber utama (70%) pendapatan rumah tangga pedesaan. Selain itu, komoditas pertanian (perkebunan) juga mempunyai kontribusi besar terhadap ekspor yaitu tergolong 10 kelompok penyumbang ekspor terbesar Indonesia beserta komoditas tambang.

Sayangnya, ekspor komoditas pertanian dan juga tambang kita masih dalam bentuk mentah sehingga kondisi tersebut kurang optimal bagi perekonomian. Apabila kita mengolahnya lebih lanjut menjadi produk olahan (produk hilir) kemudian diekspor, maka kondisi tersebut akan meningkatkan nilai tambah ekspor Indonesia jauh lebih tinggi. Dengan memperbesar porsi produk hilir dalam struktur ekspor maka negara yang bersangkutan akan relatif lebih baik kondisinya ketika terjadi fluktuasi harga komoditas dunia dibandingkan apabila porsi produk mentah yang mendominasi ekspor. Kondisi tersebut dapat dilihat dari kasus Indonesia sendiri dimana nilai ekspornya akan jatuh mengikuti penurunan tajam harga batubara dan CPO (Crude Palm Oil), dimana dua komoditas tersebut adalah komoditas utama ekspor Indonesia.

Negara yang sedang mengalami bonus demografi berupa pertumbuhan kelas berpendapatan menengah seperti Indonesia juga akan sangat diuntungkan dengan adanya industri hilir yang kuat. Populasi kelas berpendapatan menengah merupakan pasar dengan daya serap yang tinggi bagi produk industri hilir dari mulai peralatan kebutuhan rumah tangga, produk makanan dan minuman sampai dengan produk kendaraan bermotor.

Dengan demikian, pasar domestik tersebut berfungsi sebagai alternatif engine of growth ketika pasar ekspor sedang mengalami kelesuan akibat dari perlambatan ekonomi global. Manfaat selanjutnya dari mengembangkan industri hilir yang kuat di sektor pertanian adalah meningkatkan daya saing industri pertanian kita di tingkat regional ASEAN dan global. Dengan sumber daya alam yang berlimpah sebagai sumber bahan baku maka seharusnya industri berbasis agro di Indonesia mempunyai competitive advantage dalam hal biaya produksi. Keunggulan serupa telah dipraktikkan oleh industri pulp dan kertas nasional dimana dua group besar pemain di industri ini mengaplikasikan konsep integrasi vertikal dari mulai bahan baku kertas yang diambil dari HTI (Hutan Tanaman Industri) sampai kepada pengolahan kertas tulis dan corrugated paper. Hasilnya mereka menjadi market leader industri kertas bukan hanya di domestik dan juga di pasar Asia.

Pemerintah menyadari pentingnya hilirisasi di sektor pertanian oleh sebab itu maka diterbitkan beberapa aturan seperti PMK No67/PMK.011/2010 untuk mendorong hilirisasi di sektor perkebunan seperti kelapa sawit dan kakao. Implementasi dari regulasi terbukti dapat mendorong peningkatan produk hilir di sektor kelapa sawit dan kakao. Dampak pemberlakuan bea keluar kakao contohnya, berhasil meningkatkan ekspor kakao olahan cukup signifikan sejak pada triwulan II 2010 diberlakukan. Pada tahun 2009 ekspor kakao olahan tercatat sebesar 82.000 ton kemudian meningkat menjadi 178.000 ton di tahun 2011, diikuti oleh penurunan ekspor kakao dalam bentuk biji dari 439.000 ton di tahun 2009 menjadi 210.000 ton di tahun 2011. Kondisi serupa terjadi pada sektor kelapa sawit dimana terjadi penambahan porsi ekspor produk turunan CPO (non crude) dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2009, porsi produk turunan CPO masih sebesar 40,5% kemudian terus meningkat sehingga mencapai 61% di tahun 2012. Kemajuan yang bagus dalam upaya hilirisasi tidak lantas membuat pemerintah berpuas diri. Masih dapat dilakukan peningkatan produk hilir perkebunan yang variasinya lebih beragam dan lebih tinggi nilainya. Sebagai perbandingan, produk hilir CPO Malaysia diperkirakan mencapai 100 jenis sementara produk hilir CPO Indonesia baru mencapai 47 jenis. Pemerintah mengharapkan adanya peningkatan hilirisasi CPO dapat memperbanyak variasi produk hilir CPO sehingga nilai ekspor CPO dan produk turunannya dapat ikut terdongkrak. Nilai ekspor CPO serta produk CPO hilir Malaysia tahun 2012 tercatat sebesar USD 25 miliar, lebih besar dibandingkan dengan nilai ekspor CPO dan produk CPO hilir Indonesia sebesar USD 23 miliar. Dengan perluasan produk hilir CPO diharapkan nilai ekspor CPO dan produk hilir CPO Indonesia dapat mengungguli Malaysia.

Peningkatan hilirisasi industri diharapkan dapat lebih cepat terjadi sejalan dengan rencana pemerintah yang akan mewajibkan industri pengolah sumber daya alam untuk mengembangkan bisnisnya hingga ke tingkat hilir. Pemerintah pun siap memberikan insentif bagi pengusaha yang mengembangkan industri hilir SDA seperti tax holiday dan tax allowance. Selain itu, promosi investasi dan pengembangan pembangunan kawasan industri di beberapa daerah pun bakal lebih digencarkan. Kebijakan pemerintah tersebut tentunya dapat menarik minat investor asing yang biasanya mempunyai kapasitas pendanaan besar untuk mengembangkan industri dari hulu ke hilir. Kabar baiknya adalah semakin banyak investor asing yang berinvestasi industri pengolahan di Indonesia maka dapat membantu meningkatkan nilai tambah produk ekspor berbasis agro.

Namun demikian, di sisi lain ekspansi investor asing dalam bisnis industri berbasis agro menjadi pesaing berat bagi para investor dan pengusaha lokal di bidang agro industri. Dominasi investor asing dalam industri berbasis agro sudah terjadi pada industri kakao olahan dimana AIKI (Asosiasi Industri Kakao Indonesia) memberikan gambaran bahwa pada tahun 2012 dari total investasi kakao olahan di Indonesia sebesar USD 460 juta, asing mendominasi dengan nilai investasi USD 357 juta. Bagi industri pengolahan kelapa sawit walaupun dominasi masih berada di pengusaha domestik namun beberapa tahun terakhir ekspansi investor asing dalam mendapatkan kebun sawit semakin marak. Hal tersebut menjadi indikasi bahwa persaingan dalam berbisnis pengolahan kelapa sawit ke depan juga menjadi semakin ketat. Para pemain lokal di industri agro sebaiknya bersiap untuk menghadapi persaingan tersebut, caranya yaitu melalui efisiensi biaya dan membangun jaringan yang kuat dengan para petani pemasok bahan baku. (Tulisan ini merupakan pendapat pribadi)

Related posts