Tantangan Lain Ketahanan Pangan

Oleh: Kencana Sari, SKM., MPH

Peneliti Balitbang Kemenkes

Harga bahan pangan yang semakin meningkat tentu saja berpengaruh terhadap ketahanan pangan rumah tangga. Kemampuan seluruh anggota rumah tangga untuk memperoleh makanan dalam jumlah yang cukup, aman dan bergizi agar dapat menjaga kesehatan dan kemampuan beraktifitas fisik adalah esensi dari ketahanan pangan, seperti halnya yang disepakati dalam World Food Summit, 1996.

Ketahanan pangan terdiri dari tiga pilar utama yaitu ketersediaan makanan yang konsisten dari waktu ke waktu, akses yang cukup yang ditandai dengan kepemilikan sumber daya untuk memperoleh makanan yang layak dan bergizi, dan penggunaan makanan yang baik berdasar pengetahuan akan gizi dan pengolahan makanan yang juga menyangkut kecukupan air bersi h dan satitasi.

Ketahanan pangan yang buruk akan berdampak pada kesehatan melalui kekurangan gizi. Tidak hanya berakhir di status gizi kurang seseorang tetapi juga berdampak pada kesinambungan pembangunan ekonomi, lingkungan dan perdagangan suatu negara.

Harga pangan yang terus meningkat di Indonesia akibat inflasi, ketidakmampuan negara mensuplai kebutuhan masyarakat akan pangan jika berlangsung terus menerus sedikit banyak mempengaruhi kemampuan rumah tangga. Terutama mereka yang berada pada status sosial ekonomi menengah kebawah. Sebab pada kelompok ini persentase pengeluaran ruamah tangga yang terbesar adalah pengeluaran kebutuhan pangan. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan prevalensi gizi kurang pada balita (BB/U<-2SD) memberikan gambaran yang fluktuatif dari 18,4 persen (2007) menurun menjadi 17,9% (2010) kemudian meningkat lagi menjadi 19,6% (2013). Apakah hal ini diakibatkan kurangnya ketahanan pangan rumah tangga? Tidak seratus persen salah.

Dalam berbagai produk pangan, negara ini seolah bergantung pada suplai pangan dari negara lain di dunia. Kemandulan untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional semakin memprihatinkan. Waluapun memang ditengah globalisasi, perdagangan global semakin terbuka untuk dilakukan, kebutuhan pangan nasional pun mudah untuk dipenuhi tanpa harus peroduksi sendiri. Tentu saja dengan menepis kesulitan pada pendistribusian. Pertanyaanya apakah seluruh lapisan masyarakat mempunyai daya beli yang cukup? Terlebih lagi jika nilai rupiah terus menurun belakangan ini. Masyarakat menengah ke bawah akan terus dalam posisi yang sulit.

Ketergantungan terhadap pangan impor dan potensi pertanian yang terabaikan akan memperburuk ketahanan pangan nasional. Perlunya lagi membangkitkan sektor pertanian adalah hal mendesak. Terlebih jumlah penduduk Indonesia yang semakin besar, daerah yang terbantang di garis rawan bencana, musim kemarau ataupun hujan yang berkepanjangan membuat pemenuhan kebutuhan pangan nasional adalah tantangan.

Masalah ketahanan pangan ini tidak hanya terbatas pada pencegahan terhadap kelaparan tetapi juga bagaimana menjaga agar masyarakat mendapat makanan dengan kualitas gizi yang baik dan menjadikan masyarakat sehat. Konsumsi buah masyarakat rata-rata hanya setengah porsi sehari dalam seminggu. Sedangkan konsumsi sayur rata-rata hanya sekitar satu porsi setiap hari dalam seminggu (Riskesdas 2013). Harga buah dan sayur yang semakin mahal salah satu penyebabnya, lebih baik makan nasi dengan ikan daripada membeli buah yang harganya hampir sama dengan satu kali makan berat. Hal inilah yang juga perlu masuk dalam kerangka pikir ketahanan pangan agar masyarakat juga terjaga dari makanan yang hanya tinggi karbohidrat dan lemak tetapi rendah serat.

Related posts