Budidaya Ala Busmetik Panen Perdana di Pacitan

NERACA

Pacitan – Setelah sukses di kampus Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Serang, Banten, metode budidaya dengan pendekatan teknologi Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik (Busmetik) kini merambah ke daerah lain, salah satunya yaitu di Pacitan, Jawa Timur, yang kini juga menuai sukses ditandai dengan panen perdannya pada Selasa (24/12), di Dusun Soge, Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan, Jawa Timur.

Panen perdana di Pacitan ini dilakukan oleh Bupati Pacitan Indartato, didampingi Kepala Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPSDM KP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Dr. Suseno Sukoyono; Ketua Yayasan Damandiri, Prof. Dr. Haryono Suyono.

Suseno Sukoyono, Kepala (BPSDM KP, Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengatakan, Panen udang di Pacitan ini merupakan hasil dari penebaran benur yang dilakukan oleh Presiden RI Soesilo Bambang Yudhyono (SBY), beserta Ibu Ani Yudhyono pada tambak udang percontohan Busmetik ini beberapa bulan lalu, dan kini sudah bisa dilihat hasilnya karena sudah dapat dipanen. “Ini merupakan panen perdana dari tambak percontohan di Pacitan ini, yang penyebaran benurnya dilakukan oleh bapak Presidien SBY dan Ibu Ani beberapa bulan lalu,” kata Suseno dalam rilis nya yang diterima redaksi Neraca pada Rabu (25/12).

Budidaya udang dengan teknologi Busmetik, sambung Suseno merupakan terobosan baru dan merupakan inovasi teknologi budidaya udang, melalui suatu kajian ilmiah yang terukur. Teknologi ini awal mula dikembangkan oleh Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta, salah satu satuan pendidikan BPSDM KP, melalui kampus Serang, Banten dan kini mulai menjamah kedaerah lain. “Teknologi ini hasilnya sangat luar biasanya, makanya bukan hanya di Pacitan saja yang sudah mengembangkan ini, daerah lain juga sudah mulai mengembangkan teknologi ini,” imbuhnya.

Awal mula pengembangan dari Busmetik adalah dikarenakan udang merupakan komoditas unggulan perikanan nasional dan Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) khususnya dan rasio pembudidaya udang dengan kelompok pemodal menengah ke bawah masih tinggi, yaitu lebih dari 60%. Sementara itu masih banyaknya ditemukan kegagalan pembudidaya udang yang menggunakan petak konvensional dengan luasan petakan lebih dari 3.000 m dan saat ini kualitas lingkungan budidaya semakin berkurang. Karena itu diperlukan pengelolaan yang efektif dan efisien untuk mengoptimalkan margin usaha melalui Busmetik.

“Melalui inovasi teknologi Busmetik, budidaya udang menjadi lebih ramah lingkungan, biaya lebih murah, terjangkau oleh pembudidaya menengah ke bawah. Disamping itu, pengelolaan tambak mudah karena luas lahan lebih kecil (600 m2), dengan masa panen lebih singkat (3 siklus per tahun), dan hasil yang lebih banyak dan berkualitas. Keuntungan lainnya adalah resiko serangan penyakit kecil, dapat dilakukan di berbagai tipe lahan termasuk jenis tanah porous, penggunaan pakan lebih efisien, dan tidak ada antibiotic,” ujarnya.

Teknologi Busmetik telah diimplementasikan sebagai instrumen utama pembelajaran model teaching factory, yang merupakan kebijakan satuan pendidikan vokasi lingkup KKP. Pada penerapan teaching factory di kegiatan budidaya udang dengan Busmetik ini, semua peserta didik dilibatkan dalam seluruh proses kegiatan budidaya. Proses tersebut dimulai dari persiapan, pemeliharaan, panen, dan pasca panen sebagai layaknya unit produksi yang berkesinambungan. Pendekatan pendidikan teaching factory dengan presentasi 60% praktek, dan 40% teori sehingga siswa lebih banyak dilbatkan dalam prkatek kerja lapangan. “Jadi memang pendidikan ini orientasinya agar siswa, setelah lulus siap bekerja atau membuka lapangan pekerjaan baru. Karena basicnya sudah didapat dari bangku sekolah tinggal dikembangkan saja,” ungkapnya.

Penyuluhan Kemasyarakat

Bukan hanya di bangku pendidikan saja, peningkatan kapasitas SDM pembudidaya udang dengan teknologi Busmetik juga dilakukan melalui pelatihan dan penyuluhan. Pelatihan kelautan dan perikanan dilakukan melalui enam Balai Diklat dan 351 Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, yang siap mentransfer teknologi tersebut kepada pelaku utama/usaha. “Target Pelatihan dengan berbagai kompetensi atau jenis pelatihan yaitu perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengolahan dan pemasaran hasil perikanan, termasuk pelatihan budidaya udang menggunakan teknologi Busmetik,” terangnya.

Adapun penyuluhan kegiatan kelautan dan perikanan ini, atas buah dari kerjasama antara KKP dengan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia. Dan penyuluh disini bertugas melakukan pendampingan, bimbingan, Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) bagi masyarakat. Selain memberikan pelatihan, dan menyiapkan tenaga instruktur yang memiliki kompetensi standar di bidang budidaya udang dan sarana prasarana pokok maupun penunjang pelatihan, melalui Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan telah menyelenggarakan konvensi nasional Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). “Disamping pelatihan, kami juga memberikan sertifkat standar kerja yang profesional sesuai bidangnya masing-masing,” tutupnya.

Related posts