Sukses Berkat Rajin Networking

Graham Hills, Managing Director Wego

Jika ingin maju di industri online travel yang sangat penting adalah bagaimana kita belajar dari kesalahan yang telah kita lakukan, karena tanpa melakukan kesalahan industri online travel ini tidak akan maju.

NERACA

Bagi sebagian kalangan, melakukan kesalahan adalah hal yang tidak boleh dilakukan, tidak demikian untuk industri online travel, kesalahan yang terjadi justru akan membuat pelakunya semakin matang dan bijaksana dalam membuat keputusan.

“Kesalahan itu merupakan hal yang wajar di bisnis online travel, bahkan tanpa melakukan kesalahan industri ini tidak akan bisa maju,” kata Graham Hills pada Neraca beberapa hari yang lalu di kantornya di bilangan Kuningan Jakarta Selatan.

Menurut Graham, industri online travel yang baru seumur jagung ini tidak akan bisa maju tanpa adanya kesalahan-kesalahan. Tetapi, bukan hanya berdiam diri saat melakukan kesalahan tentunya, harus diikuti dengan perbaikan-perbaikan di semua sektor. Tanpa itu semua, industri ini dipastikannya juga tak akan maju.

Karena bisnis online travel tergolong bisnis yang baru di Indonesia, Graham menyatakan sangat penting untuk menjalin networking dengan semua kalangan, dan menurutnya networkinglah kunci sukses untuk mengembangkan bisnis ini. Bahkan, bukan hanya di bisnis online travel, tetapi bisnis travel secara keseluruhan.

“Saya sangat senang melakukan networking dengan orang-orang baru. bahkan, boleh dibilang itu kunci utama saya untuk meraih sukses di sektor pariwisata. Karena sektor ini membutuhkan link yang luas,” ujar dia.

Ya, dengan melakukan networking, segalanya memang tampak mudah bagi Graham, makanya tak heran ketika bekerja sebagai content publisher di salah satu perusahaan di Singapura, dia diajak bergabung oleh Wego yang merupakan partner perusahaannya ke Indonesia.

Gayung pun bersambut, karena mengenal Indonesia dengan baik dia pun menerima tawaran itu. Kini dia menjabat Managing Director Wego Indonesia. yang merupakan anak perusahaan Wego Singapura.

“Saya belajar banyak tentang online marketing. Lalu saya pindah ke Singapura dan bekerja di sana. Setelah itu saya mausuk yahoo travel jadi produk manager, 2 tahun bekerja di saana, saya berupaya mengembanagkan produk, yang kemudian launching di indonesia yang merupakan, perusahaan saya itu ber-partner dengan wego,” sebut dia.

Sempat mengenyam pendidikan di Indonesia membuatnya sangat mencintai Indonesia. Baginya, Indonesia tak seperti anggapan orang di luar sana. banyak hal yang belum diketahui tentang Indonesia.

Mungkin masyarakat Australia banyak yang tidak tahu kalau Bali itu adalah Indonesia, nah melalui Wego ini dia ingin mempromosikan Indonesia melalui dunia pariwisatanya. Karena menurutnya banyak hal-hal yang bisa di gali selain Bali dan Lombok.

“Saya pernah belajar di UGM saat pertukaran pelajar, beberapa bulan saja di Indonesia pas kembali ke Australia saya ingin balik lagi ke sana. Pokoknya saya senang Indonesia, masyarakatnya ramah, kaya akan budaya, dan yang pasti masakannya enak-enak,” sebut Graham yang sedari duduk di bangku sekolah dasar di Australia telah belajar bahasa.

Kedepannya, Graham ingin terus mengembankan bisnis online travel melalui Wego ke seluruh Indonesia. bahkan bukan hanya ke seluruh Indonesia tetapi ke seluruh dunia, karena potensi wisata Indonesia yang sangat besar. Intinya, menurut dia masih banyak hal yang bisa dikembangkan dari bisnis pariwisata ini.

Bahkan bukan hanya itu, ia juga berniat untuk membuka usaha yang masih ada kaitannya dengan sektor pariwisata. Seperti membuka restoran atau membuka tempat hiburan, dia menyatakan banyak peluang usaha di sini.

“kalau saat ini sih saya lebih senang di sektor pariwisata, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau ada kesempatan di sektor lainnya, seperti sektor perbankan. Sektor perbankan sangat menarik di sini,” ujar dia.

Ketertarikan akan Indonesia

Ketertarikan Graham pada bahasa Indonesia, dimulai ketika di sekolahnya menerapkan wajib mempelajari empat bahasa asing. Yakni, Jerman, Prancis, Itali dan Indonesia. Saat itu setahun sekali Graham belajar bahasa asing.

Nah, ketika duduk di bangku SMA, berdasarkan saran konsultan pendidikannya ia mengambil dua bahasa, Jerman dan Indonesia. Alasannya kenapa kedua bahas itu. Karena bahasa itu ,merupakan bahas terpenting bagi masyarakat Australia.

“Saya pilih bahasa Jerman karena memang sejak kecil saya suka bahas Jerman. Sementara bahasa Indonesia itu atas saran konsultan pendidikan saya yang menyarankan untuk mengambil subyek itu, alasannya Indonesia sangat dekat dengan Australia, tak hanya itu ikatan bisnis antara kedua negara pun kerap terjalin,” Ujar Graham.

Sementara itu, dia menilai rekan kerjanya yang berasal dari Indonesia merupakan rekan kerja yang baik. Apalagi para pekerja asal Indonesia sangat menyenangi kerja sebagai tim yang mana juga disenanginya.

“Mereka masih muda, dapat bekerjasama, enerjik, dan tak takut membuat kesalahan. Semua itu saya senangi, makanya kalau ada pekerjaan yang goal, kita pasti rayakan untuk menjunjung rasa kebersamaan,” tegas dia.

Potensi Pariwisata Indonesia

Masing-masing negara menurut Graham memiliki potensi berbeda dalam urusan pariwisata. Indonesia sendiri, menurutnya sangat berpotensi di sektor pariwisata. Tetapi, memang masih banyak kendala yang harus di perbaiki. Sebut saja, masalah infrastruktur. Masalah ini seakan sudah menjadi penyakit kronis yang menjangkiti Indonesia.

“Masalahnya kan di sini banyak obyek menarik tetapi wisatawan selalu kesulitan untuk menjangkaunya. Kalau untuk ke kota besar mungkin bukan halangan, tetapi kalau untuk daerah-daerah pedalaman itu sangat sulit dicapai,” tegas dia.

Padahal, kata dia lagi, daerah-daerah di pedalaman lah letak keindahan Indonesia yang sesungguhnya. Tetapi masalahnya, sangat sulit untuk di capai. Maka dari itu, dia ingin agar pemerintah lebih gencar lagi melakukan pembangunan infrastruktur.

Anggapan Graham memang sah-sah saja, pasalnya potensi wisata Indonesia yang luar biasa ini seharusnya memang tak boleh kalah dengan negara tetangga macam Malaysia, Singapura, dan Thailand dalam hal menyumbang pendapatan negara.

Tetapi kenyataannya, potensi luar biasa ini menghilang begitu saja seiring amburadulnya fasilitas infrastruktur di Indonesia. Namun, bukan berarti wisata Indonesia akan meningkat hanya dengan pembangunan infrastruktur. Dalam hal ini perlu cara lain, yaitu dengan berpromosi ke negara luar.

“Pokoknya harus berbarengan, sambil memperbaiki infrastruktur, promosi juga harus dilakukan, kan sayang kalau infrastruktur jadi tapi belum ada yang mengetahuinya karena minimnya promosi yang dilakukan,” tegas dia.

Pariwisata Jakarta saja, menurutnya masih bisa diangkat. Yaitu dari segi night life, banyak kalangan WNA menyenangi Jakarta walaupun kondisinya macet dan polusi yang tinggi. Pasalnya, di jakarta terdapat banyak resto dengan mutu terbaik, juga sarana berbelanja yang juga lengkap.

“Jakarta saja banyak hal yang bisa digali, tak hanya macet saja, restoran di sini enak-enak, belum lagi sejarah kota Betawi yang luar biasa melalui kota tua, itu yang nanti akan kita kembangkan. Tapi yang jelas night life di sini sangat bagus,” sebut pria yang gemar traveling itu.

Related posts