Libur Akhir Tahun 2013 Tidak Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah - Mencapai Rp 12.081 per Dolar AS

NERACA

Persiapan liburan akhir tahun 2013 bukan salah satu penyebab nilai tukar rupiah melemah. Yang sampai saat ini sudah mencapai Rp 12.081 per Dolar Amerika Serikat (AS).

"Persiapan liburan akhir tahun sudah lewat. Mereka sudah tukarkan uangnya. Pembayaran utang perusahaan akhir tahun juga sudah lewat," tutur Lana Soeliastianingsih, ekonom dari PT Samuel Sekuritas Indonesia.

Gubernur BI, Agus Martowardojo, usai menghadiri rapat Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK), di Jakarta, mengungkapkan pelemahan nilai mata uang memang sedang terjadi di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Oleh karena itu, Agus mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu panik dengan kondisi yang terjadi. Agus juga menegaskan bank sentral akan melakukan langkah-langkah konkret guna menjaga stabilitas nilai rupiah.

"Harus bisa tetap tenang melihat itu. Yakinlah BI ada di pasar menjaga stabilitas dan Indonesia ada dalam kondisi yang lebih baik dari sebelumnya," ujar Agus.

Menurut Agus, BI akan melakukan intervensi di pasar spot apabila pelemahan rupiah sudah melampaui batas kewajaran. "November kemarin gejolak mata uang kan bukan main. Di situ BI lakukan intervensi terukur, tapi diikuti cadangan devisa kita masih US$97 miliar," kata Agus.

Saat ini, ia melanjutkan, bank sentral belum melakukan intervensi karena pelemahan nilai tukar rupiah masih dalam taraf wajar. "Rupiah masih aman di kisaran 12 ribu per dolar," kata Agus

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo meminta kepada pelaku pasar untuk tidak panik atas pelemahan nilai tukar Rupiah yang mencapai Rp12.018 per Dolar Amerika Serikat (AS).

Sebab menurut Agus, pelemahan Rupiah selain akibat ketidakpastian perekonomoian global akibat rencana tapering di AS, juga akibat kondisi akhir tahun dimana para investor banyak melakukan perubahan posisi.

"Tak perlu panik, kalau di indonesia sendiri tekanan nilai tukar karena memang dalam akhir bulan ada permintaan (dolar) yang cukup tinggi. Tidak hanya akhir bulan tetapi juga menjelang akhir tahun dimana banyak sekali kaum investor atau pengelola keuangan menjelang akhir tahun mereka melakukan perubahan posisi," kata Agus.

Agus mengatakan kondisi yang ada saat mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia saat ini. "Jadi Rupiah karena situasional karena akhir tahun banyak investor global ingin cuti liburan," ujar Agus.

Menurutnya, pelemahan Rupiah yang terjadi karena mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang selaras dengan nilai tukar regionalnya. "Kemarin itu currency lebih dalam dibanding Indonesia, jadi yang ingin disampaikan, bahwa kondisi di dunia saat ini juga ikut berpengaruh di nasional," paparnya.

Agus mengklaim, bahwa kondisi valuta asing (valas) di semester II-2013 ini lebih baik kondisinya bila dibandingkan semester I 2013. Pasalnya, menjelang akhir tahun 2013 ini pasar valas lebih efisien dan likuid. "Ini cerminan satu pricing yang confiden. BI selalu memperhatikan terus kalau ada gejolak dalam menjaga stabilitasnya," tandasnya.

BERITA TERKAIT

Nilai Transaksi Pameran Koperasi Lebak Rp3,4 Miliar

Nilai Transaksi Pameran Koperasi Lebak Rp3,4 Miliar NERACA Lebak - Nilai transaksi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) dalam pameran…

Astra Property Groundbreaking Arumaya - Targetkan Serah Terima Tahun 2022

NERACA Jakarta - Dua developer ternama, yakni Astra Property dan Hongkong Land melaksanakan groundbreaking ceremony pembangunan Arumaya, sebuah hunian eksklusif…

Zumi Zola Dituntut 8 Tahun Penjara

Zumi Zola Dituntut 8 Tahun Penjara NERACA Jakarta - Gubernur Jambi nonaktif Zumi Zola Zulkifli dituntut 8 tahun penjara ditambah…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…