Sulit, IHSG Bisa Tembus 4.300 di Akhir 2013

NERACA

Jakarta – Jelang tutup tahun 2013 tampaknya menjadi beban berat bagi industri pasar modal di tengah mulai melambatnya perekonomian dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini. Tak heran, jika pelaku pasar menilai skeptis bisa tutup tahun prestasi indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal tembus 4.500 atau bahkan 5000 seperti yang diekspektasikan sebelumnya.

Menurut praktisi pasar modal, Lucky Bayu Purnomo, peluang Indeks Harga Saham Gabungan untuk menembus angka 4.300 semakin tipis. Hal tersebut ditengarai karena masih tertekan sentimen negatif global maupun dalam negeri. “Level yang akan diuji Indeks sampai akhir tahun di level 4.150-4.050,”ujarnya di Jakarta, Senin (23/12).

Pasca pertemuan The Fed terkait kebijakan mengenai pengurangan stimulusnya belum lama ini, lanjutnya, seluruh dunia menyikapi hasil rapat tersebut secara negatif. Hal tersebut terbukti dari gairah transaksi yang terjadi di pasar. “Setelah pengumuman tersebut, Dow Jones hanya menguat tipis, sebesar 0,18 poin. Hal ini menunjukkan keragu-raguan dari pelaku pasar.” ujarnya.

Imbasnya, kata dia, juga berpengaruh terhadap pergerakan IHSG yang cenderung berada dalam tren pelemahan. Di sisi lain, hingga kini nilai tukar mata uang rupiah masih mengalami pelemahan. Alhasil, mendorong beberapa sektor, utamanya pada industri keuangan mengalami pelemahan. Hal tersebut juga diapresiasi dengan menurunnya beberapa harga saham perbankan. “Karena transaksi yang menggunakan mata uang rupiah pindah ke mata uang negara lainnya sehingga sektor tersebut kesulitan dalam hal likuiditas.” tuturnya.

Aksi window dressing di akhir tahun ini pun, sambung dia, juga tidak berpengaruh banyak. Hal tersebut dapat dilihat dari apresiasi pasar menjelang natal. “Window dressing tidak mengalami rally karena biasa sebelum window dressing diawali dengan adanya apresiasi pelaku pasar menjelang natal.” ucapnya.

Oleh karena itu, dirinya menyarankan pelaku pasar untuk wait and see bagi pemodal yang belum mengambil posisi di pasar. Sementara bagi yang tengah melakukan transaksi, bisa melakukan aksi jual. “Peluangnya terlalu sempit. Bagi yang sudah punya saya sarankan jual. Untung 5-10% rasanya cukup.” imbuhnya.

Sementara Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang mengatakan, dengan sisa waktu empat hari perdagangan hingga akhir tahun 2013 dan sebagian "pemain besar" sudah keluar dari pasar untuk menikmati Christmas Day dan New Year Holiday, semakin sulit IHSG bisa ditutup di atas level 4.300. Walaupun hal tersebut bukan mustahil.

Hal tersebut di tengah semakin melemahnya peluang akan terjadinya window dressing dengan kekuatan penuh dan nilai tukar rupiah yang berpotensi menuju Rp12.300-Rp12.350 hingga akhir tahun 2013. “Memakai acuan closing Jumat (20/12), skenario optimis level IHSG di akhir tahun 2013 diperkirakan akan berada dalam kisaran 4.265-4.284,” jelasnya.

Sementara itu, merujuk sentimen dari luar negeri, menurut dia, efektif perdagangan pekan ini di Wall Street yang hanya sekitar tiga hari perdagangan karena Wall Street pada Selasa akan tutup lebih awal sekitar pukul 13.00 waktu New York dan Rabu tutup untuk perayaan Natal membuat pelaku pasar harus ekstra sensitif.

Dalam kondisi tersebut, beberapa data ekonomi penting yang perlu diperhatikan sepanjang pekan ini, di antaranya di hari Senin ada data personal income and spending serta University of Michigan confidence. Kemudian di hari Selasa ada data durable good orders, new home sales, Richmond Fed manufacturing index dan di hari Kamis ada data jobless claims.

Hal senada juga disampaikan pengamat pasar modal dari FEUI, Budi Frensidy, bahwa IHSG sampai dengan akhir tahun menembus pada level 4300 itu sangat berat, mengingat para pemodal besar libur, rupiah yang kian merosot sudah berada di atas Rp 12.000, window dressing juga sangat kecil jadi untuk menembus di angka itu sangat berat. “IHSG untuk bisa melaju di level 4300 sampai dengan akhir tahun sangat berat,”tandasnya.

Menurut dia, kondisi ini akan terus berlanjut sampai dengan kuartal pertama tahun depan dan bahkan bisa diproyeksikan akan lebih parah dari kondisi sekarang, mengingat tahun depan diprediksi rupiah yang masih belum setabil dan cenderung terus melemah.

Adapun untuk bursa kalau masih ada pergerakan hanya untuk emiten konsumsi saja yang bisa bertahan, karena untuk yang lain seperti pertambangan masih menunggu sampai dengan kondisi rupiah stabil. “Kalaupun ada pergerakan yang bagus di konsumsi, tapi untuk yang lain lebih baik wait and see,” tegasnya.

Sedangkan untuk masuk pada zona aman, Budi memprediksikan bahwa kemungkinan besarnya pada semester kedua tahun depan yang masuk tahun pemilu, dirinya menyakini kondisi tersebut akan lebih tidak stabil lantaran semuanya terfokus pada pemilu. lia/agus/bani

Related posts