Gencarkan Budidaya Laut, KKP Gandeng Investor - Sektor Perikanan

NERACA

Batam - Potensi sumber daya laut Indonesia sangat besar, mulai dari perikanan tangkap, budidaya laut, wisata bahari hingga sumber daya migas yang ada di laut lepas. Namun, Indonesia belum sepenuhnya memanfaatkan hal tersebut. Itu sebabnya, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mengatakan, karena pemanfaatannya baru 0,9%, maka pihaknya akan menggencarkan budidaya laut di Indonesia.

"Di era mariculture (budidaya laut), banyak luasan laut Indonesia yang belum dimanfaatkan. Sejauh ini, kita baru memanfaatkan 0,9% saja. Padahal luasan laut Indonesia mencapai 8 juta ha. Maka dari itu, perlu kiranya ada gerakan untuk memanfaatkan potensi laut dengan cara budidaya di laut," kata Slamet usai kunjungan ke Balai Budidaya Laut Batam, di Batam, Kepulauan Riau, Senin (23/12).

Ia menjelaskan budidaya laut bisa berbagai macam, misalnya rumput laut, ikan kerapu, bawal bintang, kakap putih dan kakap merah. Semua jenis tersebut, merupakan komoditi ekspor yang banyak diminati pasar luar negeri. Slamet mencontohkan seperti ikan bawal bintang. Menurut dia, setiap bulannya Singapura membutuhkan antara 2-4 ton ikan bawal. "Permintaan bawal bintang, akhir-akhir ini cukup tinggi. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan restoran di Batam saja cukup kewalahan. Maka dari itu, hal ini menjadi tantangan kita untuk memenuhinya," ucapnya.

Namun begitu, minat investor untuk berinvestasi di budidaya laut belum terlalu tinggi. Maka dari itu, KKP dalam hal ini Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya melakukan kerjasama dengan berbagai macam instansi termasuk Kamar Dagang dan Industri (Kadin) untuk bisa berinvestasi di sektor tersebut. Slamet mengaku telah berbagai macam cara agar banyak investor yang tertarik.

"Ada beberapa cara yang kita lakukan. Pertama, kita sosialisasikan mengenai prospek budidaya laut seperti apa. Keunggulan dan kelemahannya perlu diketahui oleh investor. Kedua, kita mengajak investor melalui Kadin salah satunya dengan kerjasama antara Balai Budidaya dengan Kadin. Ketiga, kita mengajak perbankan agar mereka (bank) siap untuk mendanai investasi di budidaya laut. Dan selanjutnya prospek pasarnya yaitu dengan mendekatkan pembudidaya dengan pemasar," ucapnya.

Balai Budidaya Batam tidak hanya fokus untuk mengembangbiakkan ikan bawal bintang, namun juga kakap putih. Ada beberapa alasan mengapa investor diminta untuk investasi di budidaya ikan bawal bintang dan kakap putih. Pertama, teknologi budidayanya telah dikuasai. Kedua, kelulusan hidupnya tinggi. (Untuk pembesaran bawal, tingkat hidupnya mencapai 90% dan kakap putih mencapai 80%. Ketiga, masa pemeliharaannya relatif cepat. Untuk bawal bintang mencapai 5-6 bulan dan kakap putih antara 8-24 bulan.

Keempat, kedua jenis ikan tersebut tidak kanibal dan bisa dipelihara dengan kepadatan tinggi. Kelima, lebih tahan terhadap penyakit. Keenam, pasanya cukup luas baik lokal mapun ekspor ke ASEAN, Eropa, Amerika dan Australia. Ketujuh, harga yang relatif stabil antara 50-100 ribu per kilogram. Kedelapan, komposisi daging yang lebih tebal dengan rasa yang gurih, kandungan omega 3 dan 6 yang cukup tinggi dan memungkinkan untuk dikembangkan dgn teknologi off shore (laut lepas).

Lebih jauh diungkapkan Slamet, pihaknya juga telah menyiapkan beberapa Balai guna ikut memanfaatkan potensi laut dengan budidaya ikan laut. "Selain di Batam, kita juga mempersiapkan di Lombok, Lampung dan nanti di Ambon. Dan juga nanti kita kembangkan untuk skala rumah tangga. Karena balai-balai ini hanya memproduksi dari benih-benih masyarakat. Jadi kita sebagai pendorong saja, dan yang akan memproduksi benihnya dari masyarakat," katanya.

Investasi Menarik

Ditemui di tempat yang sama, Ketua Kadin Kepulauan Riau Soraya Djajakusuma mengatakan bahwa setidaknya ada 2 investor yang akan masuk ke Batam yaitu dari Taiwan dan Singapura. "Telah ada 2 investor yaitu dari Taiwan dan Singapura. Jika memang kerjasama KKP dengan Kadin dan beberapa pihak swasta bisa jalan maka mereka (investore) ingin mendirikan pabrik pengngalengan dan villet," imbuhnya.

Menurut dia, investasi budidaya laut memang paling cocok di Kepulauan Riau. Pasalnya 96% wilayahnya adalah perairan dan bersinggungan langsung dengan laut Laut China Selatan dan Selat Malaka serta berdekatan dengan negara tetangga yaitu Singapura yang bisa menjadi pasar ekspor komoditas budidaya ikan. "Dengan adanya Balai Budidaya Perikanan Batam, mudah-mudahan bisa meningkatkan pertumbuhan khususnya di industri kelautan Batam," tambah dia.

Namun begitu, pihaknya merasa pemerintah belum menyiapkan zonasi-zonasi untuk budidaya laut di Batam. Zonasi, menurut dia sangat penting agar memudahkan proses produksi hingga pemasaran dan pada akhirnya memberikan ketenangan kepada investor. "Kami berharap agar KKP bisa memberikan kordinat tertentu sehingga memudahkan investor. Diharapkan pula nanti adanya kawasan industri budidaya laut. Akan tetapi, yang paling penting adalah investasi jangan sampai merusak lingkungan," tukasnya.

Dilanjutkan Soraya, Kepulauan Riau menyimpan potensi besar di dalam laut. Ia memperkirakan bisa mencapai Rp150 triliun pertahun jika benar-benar dimanfaatkan. "Jika ingin serius di sektor kelautan, maka potensinya bisa mencapai Rp150 triliun. Selain itu, akan ada penyerapan tenaga kerja, penerimaan daerah jadi meningkat, investasi menggeliat untuk di pengalengan dan villet. Kalau mengenai pasar, kita ikut agency di Singapura. Dengan begitu, maka produk kita bisa mudah di ekspor ke negeri singa tersebut," pungkasnya.

Related posts