Asuransi Harta Bidik Laba Bersih Rp 30 Miliar - Proyeksi Kinerja di 2014

NERACA

Jakarta - Meskipun tahun depan diproyeksikan bakal terjadi perlambatan ekonomi, kondisi ini menjadi tantangan bagi industri asuransi untuk terus survive dan bahkan terus tumbuh. Merespon hal tersebut, PT Asuransi Harta Aman Pratama Tbk (AHAP) menargetkan mampu membukukan laba bersih sebesar Rp30 miliar pada tahun 2014.

Direktur sekaligus Sekertaris Perusahaan AHAP Sutjianta mengatakan, kenaikan angka ini meningkat 50% bila dibandingkan perolehan laba bersih hingga akhir tahun ini yang diproyeksi hanya Rp20 miliar,”Laba kami pada tahun depan (2014) akan bisa mencapai kira-kira sebesar Rp25 miliar-Rp30 miliar. Hingga akhir tahun (2013), kami harapkan dapat mencapai Rp20 miliar,"kata dia di Jakarta, Senin (23/12).

Menurutnya, kenaikan laba bersih ini diiringi kenaikan pendapatan premi bruto perseroan dari Rp216,87 miliar di tahun 2013 menjadi Rp360 miliar di tahun depan. Disebutkan, kontribusi premi perseroan paling besar dari kendaraan bermotor sebesar 60% dan sisanya dari broker, agen, direct marketing.

Tercatat hingga November 2013, perseroan telah membukukan premi bruto sebesar Rp216,87 miliar atau naik 32% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp164,32 miliar. Sedangkan laba bersih hingga November mencapai Rp13,392 miliar atau naik 10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp12,150 miliar,”Tahun ini kami targetkan laba bersih dapat mencapai Rp20 miliar karena biasanya di desember portofolio kami besar,”ungkapnya.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Julian Noor pernah bilang, setidaknya ada tiga lini asuransi yang tetap mendominasi pasar industri asuransi umum Indonesia di tahun 2014 mendatang, salah satunya asuransi kendaraan bermotor,”Tiga besar asuransi, yaitu asuransi kendaraan bermotor, asuransi properti, dan asuransi kesehatan masih tetap mendominasi di tahun 2014,”ujarnya.

Terkait dengan asuransi kendaraan bermotor, Julian mengatakan terdapat sebuah fenomena di masyarakat Indonesia di mana mereka cenderung membeli mobil atau sepeda motor karena alasan emosional. Tren model menjadi alasan mereka."Fenomena masyarakat Indonesia kadang unik dalam pembelian kendaraan bermotor. Kalau harga naik, mereka akan stop sebentar dulu lalu beli. Setiap ada model baru langsung beli. Kecenderungannya mereka membeli karena alasan emosional,"paparnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Kembangkan Inftastruktur dan SDM - Rifan Financindo Bidik Transaksi 1,5 Juta Lot

NERACA Jakarta – Sukses mencatatkan performance kinerja yang positif di tahun 2018 kemarin, menjadi alasan bagi PT Rifan Financindo Berjangka…

Kinerja BUMN dalam 4 Tahun Kepemimpinan Jokowi-JK

  Oleh:  Aditya Ihsan, Pemerhati Kebijakan Publik Salah satu urusan pemerintahan yang harus diselenggarakan oleh Presiden RI Jokowi yakni bidang…

Kebutuhan Gula Seiring Kinerja Positif Industri Pengguna

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memproyeksi kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Anak Usaha BUMN Bakal IPO di 2019

Menyadari masih sedikitnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang go public atau tercatat di pasar modal, mendorong Kementerian Badan…

Impack Pratama Beri Pinjaman Anak Usaha

Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melakukan perjanjian hutang piutang dengan anak usahanya PT Impack…

Layani Pasien BPJS Kesehatan - Siloam Tambah Tujuh Rumah Sakit Baru

NERACA Jakarta – Tidak hanya sekedar mencari bisnis semata di industri health care, PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) terus…