Mitigasi Risiko Kredit, BTN Terbitkan KIK EBA ke-6

NERACA

Jakarta - Sesuai dengan rencana bisnis perseroan, PT Bank Tabungan Negara Tbk di penghujung 2013 menerbitkan KIK EBA (Kontrak Investasi Kolektif - Efek Beragun Aset)ke-6 atau KIK EBA D BTN 04 ini telah mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 17 Desember 2013.

KIK EBA ini merupakan transaksi yang ke-6 sejak dilaksanakan pertama kali pada 11 Februari 2009. “Sesuai rencana bisnis kami telah memenuhinya untuk menerbitkan KIK EBA yang kami harapkan untuk mitigasi risiko kredit dari sisi maturity mismatch pembiayaan perumahan yang menjadi core business kami,” ungkap Maryono, Direktur Utama Bank BTN, usai listing KIK EBA ke-6 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (23/12).

Menurut dia, pada transaksi sekuritisasi kali ini, BTN menunjuk PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) sebagai arranger dan pendukung kredit. PT Danareksa Investment Management sebagai Manajer Investasi serta PT Bank Mandiri Tbk sebagai Bank Kustodian yang didukung oleh DanareksaSekuritas, BCA Sekuritas danTrimegah Securities selaku underwriter.

Sekuritisasi KPR BTN ke-6 ini, imbuh Maryono, memiliki underlying sebanyak 34.452 rekening tagihan KPR dengan jumlah total penerbitan Rp1.000.000.005.941. Aset portofolio tagihan KPR yang di sekuritisasi ini diseleksi berdasarkan daftar kriteria seleksi untuk menjamin kualitas aset yang di sekuritisasi, sehingga bisa menghasilkan EBA dengan rating idAAA dari Pefindo selaku lembaga pemeringkat.

Dengan penetapan bunga kupon KIK EBA BTN yang dibagi dalam dua seri, yaitu 8,90% untuk seri A1 dan 9,50% untuk seri A2, diharapkan dapat menyesuaikan suku bunga KPR sehingga lebih terjangkau. Total penerbitan EBA yang mencapai Rp1.000.000.005.941 yang menunjukkan bahwa produk ini makin dikenal oleh investor dan mampu menjadi salah satu alternatif investasi jangka menengah dan panjang yang menawarkan imbal hasil menarik dengan rating terbaik, aman dan risiko yang minimal.

“Produk KIK EBA tersebut merupakan lanjutan transaksi sekuritisasi di tahun-tahun sebelumnya bagi Bank BTN, dan diharapkan mampu memitigasi permasalahan maturity mismatch pembiayaan KPR,” tambahMaryono. BTN sendiri terus berupaya untuk menjalankan prinsip kehati-hatian dengan tetap membuka peluang untuk mengembangkan usaha perseroan agar terus bertumbuh menjadi lebih baik.

“Kami tetap berkomitmen untuk tetap memberikan pelayanan unggul dalam pembiayaan perumahan dan transparansi informasi keuangan,” tandasnya. Terkait kinerja, hingga triwulan III 2013, BTN masih menunjukkan konsistensi pada core business dalam pembiayaan industri perumahan. Porsi pembiayaan pada kredit perumahan masih mendominasi dengan share 86,12% dari total kredit yang disalurkan selama triwulan III 2013 sebesar Rp83,138 triliun. Sementara sisanya yang sebesar 13,88% atau sebesar Rp13,401 triliun disalurkan untuk pembiayaan kredit nonperumahan. [kam]

BERITA TERKAIT

Genjot Ekspansi Kredit - Lagi, BTN Gelar Akad Massal Serentak

Penetrasi pertumbuhan kredit kepemilikan rumah (KPR) lebih besar lagi, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) untuk kesekian kalinya menggelar akad…

Akusisi 30% Saham PNMIM - Bank BTN Investasikan Dana Rp 114,3 Miliar

Di penghujung kuartal pertama tahun ini, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mulai merealisasikan target ekspansi perseroan untuk memperluas…

Mandiri Investasi Bakal Terbitkan KIK- EBA

NERACA Jakarta – Sukses mengantarkan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) menerbitkan produk inovatif di sektor pasar modal Indonesia, yaitu…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BCA Pastikan Akuisisi Bank Royal

    NERACA   Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk memastikan telah memulai proses akuisisi seluruh saham PT. Bank…

Allianz Luncurkan Perlindungan Kesehatan Tambahan

    NERACA   Jakarta - PT Asuransi Allianz Life Indonesia melalui Allianz Health & Corporate Solutions (AHCS), memperkenalkan manfaat…

Pemerintah Tetapkan Penjualan SBR006 Sebesar Rp2,2 Triliun

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menetapkan hasil penjualan Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR006 sebesar Rp2,2 triliun yang…