Tekan Pertumbuhan Kanker Payudara - Pemeriksaan Sejak Dini

NERACA

Kita ketahui penyakit kanker payudara salah satu penyakit pembunuh nomor satu di dunia. Dari penelitian organisasi kesehatan dunia (WHO) mencatat sekitar 60% kasus kanker payudara terjadi di negara-negara berkembang. Separuh dari jumlah pasien di negara berkembang meninggal dunia. Hal itu karena umumnya pasien terlambat pemeriksaan pada dokter.

Kasubdit Penyakit Kanker Kementerian dan Kesehatan Republik Indonesia Niken Wastu Palupi mengatakan, kanker payudara memang sangat menghantui bagi semua wanita di seluruh dunia seperti halnya di Indonesia kasus kanker payudara mengalami peningkatan.

Sedangkan di Indonesia, prevalensi kanker payudara 17-25 kasus dari 100.000 populasi penduduk yang mencengangkan, kanker payudara di Indonesia cenderung lebih ganas dan menyerang pasien berusia 40-50 tahun. Kanker payudara di Indonesia berkembang secara progresif, lebih ganas, dan sulit diatasi.

“Beberapa tahun lalu, kanker payudara berada di urutan kedua pada penyebab kematian perempuan di Indonesia. Saat itu, pembunuh utama perempuan di Indonesia adalah kanker mulut rahim atau kanker serviks,” tuturnya.

Menurutnya hal ini, setelah ditemukan vaksinasi yang bisa mencegah virus HPV, virus penyebab kanker serviks, membuat angka penderita menurun. Sedangkan meningkatnya kanker payudara tidak lepas dari belum ditemukannya obat pencegah kanker payudara.

Sedangkan Ketua Umum PP POI (Perhimpunan Onkologi Indonesia), Dr. Dradjat Ryanto Suardi, Sp. B (K) mengatakan, mengenai penyebabnya, hingga saat ini belum diketahui secara pasti. “Perempuan yang mempunyai risiko besar terkena kanker payudara, adalah mereka yang sudah memasuki usia 40 tahun. Salah satu pengobatan kanker yang paling umum dilakukan adalah kemoterapi (chemotherapy),” tutur Dradjat.

Namun, menurutnya, kemoterapi banyak meninggalkan keluhan dan efek samping bagi pasien kanker. Efek kemoterapi sebagai pengobatan kanker yang paling sering terjadi adalah muntah-muntah, mielosupresi (menekan produksi darah), kelelahan, rambut rontok dan sariawan. “Efek samping terjadi, akibat obat kemoterapi tidak , hanya membunuh sel kanker tapi juga sel normal yang ikut membelah cepat. Seperti, sel saluran pencernaan, kulit, rambut dan sperma. Dan, tingkat efek samping kemoterapi bisa berbeda antara pasien yang satu dengan yang lain, tergantung dari ketahanan tubuh masing-masing. Faktor psikologis, sangat berpengaruh,” kata dia.

Drajat mengatakan, suatu pendekatan baru dilakukan untuk membatasi efek samping dan meningkatkan efektivitas kemoterapi, yaitu dengan menggunakan jenis obat yang dapat bekerja dengan cara menargetkan secara molekuler. “Obat-obat ini membutuh sel-sel kanker dengan menyerang jalur dan proses tertentu yang penting untuk kelangsungan hidup dan dan pertumbuhan sel-sel kanker. Misalnya, sel-sel kanker memerlukan pembuluh darah untuk memberikan gizi dan oksigen,” ujarnya.

Ia menambahkan, beberapa obat bisa menghalangi pembentukan pembuluh darah ke sel-sel kanker atau mengganggu jalur utama yang mengatur pertumbuhan sel-sel kanker. “Obat-obat yang dapat menargetkan secara molekuler telah terbukti berguna dalam mengobati banyak kanker lain termasuk kanker payudara,” tutur Dradjat.

Related posts