Potensi Eksodus Dana Ke Negara Maju Terbuka

NERACA

Jakarta- Di tengah kondisi perekonomian yang belum stabil, pihak otoritas dan para pemangku kepentingan diminta dapat mengembalikan kepercayaan investor. Apalagi di tengah keluarnya dana-dana asing (capital outflow) dari pasar modal. Hal tersebut seiring kebijakan The Fed untuk mengurangi stimulusnya menjadi US$75 miliar dari negara emerging market seperti Indonesia pada 2014.

Head of Fixed Income Research PT Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan, dengan membaiknya perekonomian negara maju seperti Amerika Serikat, dan adanya permasalahan fundamental perekonomian dalam negeri, bukan tidak mungkin akan ada pelarian dana ke negara-negara maju tersebut. Terlebih dengan posisi nilai tukar rupiah yang mengalami pelemahan.

Di pasar obligasi, menurut dia, dalam jangka pendek ini masih akan volatile. Sementara sepanjang tahun ini, kinerja pasar obligasi tercatat paling buruk dengan koreksi sebesar 13%, dan penurunan harga sebesar 21%. Akan tetapi, di sisi lain telah terjadi kenaikan yield akibat terjadinya inflasi yang kemudian direspons dengan kenaikan suku bunga acuan (BI Rate). “Kita lihat di September ada asing masuk, yield di 8% dengan posisi nilai tukar rupiah Rp11.100.” jelasnya.

Namun, sambung dia, karena adanya permasalahan pada nilai tukar rupiah sehingga menyebabkan appetite (gairah) investor asing berkurang. Oleh karena itu, jika terjadi pelemahan yang signifikan pada mata uang rupiah, tentunya masih membuka peluang terjadinya koreksi di pasar karena currency risk menjadi pertimbangan asing untuk ambil posisi. “Kalau pelemahannya signifikan, Rp12.000 bisa menjadi trigger outflow.” tandasnya.

Selain itu, kata dia, juga dilihat seberapa besar US treasury yield. Pasalnya, kepemilikan investor asing di pasar obligasi masih cukup besar, sekitar 32,5% dibandingkan investor institusi dan lainnya. Dia menilai, butuh tenor yang agak panjang sehingga investor asing lebih confident ke Indonesia.

Meski demikian, dia optimistis, pasar obligasi akan berangsur membaik pada tahun depan. Prediksi inflasi yang lebih rendah dan membaiknya defisit neraca transaksi berjalan dapat berdampak positif bagi pasar obligasi. Apalagi dengan proporsi investor asing yang sudah berkurang, dan digantikan pemain lokal. “Meskipun ada tapering, support dari domestik masih ada. Kalau bank Indonesia, dengan asuransi dan dana pensiun bisa memanaj terus, trennya masih bagus. Inflow sekitar Rp50 triliun.” tuturnya.

Sementara itu, analis obligasi dari Lembaga Penilai Harga Efek Indonesia, Fakhrul Aufa pernah mengatakan, dari sisi supply, penerbitan obligasi saat ini dipengaruhi kenaikan imbal hasil (yield) obligasi, terlebih apabila terjadi kenaikan inflasi secara signifikan. “Dari sisi penerbit, dengan kenaikan yield atau kupon, biasanya diikuti oleh turunnya target penerbitan obligasi dari emiten yang bersangkutan, karena pertimbangan cost of fund yang lebih tinggi.” jelasnya. (lia)

Related posts