BI Dukung Pengendalian Harga dan Pengembangan Klaster UMKM

NERACA

Medan - Bank Indonesia Kantor Perwakilan IX Sumatera Utara dan Aceh mengaku akan memfokuskan pada pengendalian harga-harga kebutuhan pokok serta pengembangan klaster usaha kecil dan menengah atau UMKM.

Deputi Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia IX, Mikael Budisatrio, menuturkan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Utara memprediksi dan berharap pada akhir Desember 2013, Sumatera Utara mengalami deflasi mengingat harga cabai merah tidak melonjak akibat sedang memasuki musim panen.

"Kalau bulan November, Sumatera Utara masih mengalami inflasi sebesar 0,68%. Nah, akhir bulan ini kita harapkan deflasi karena salah satu pemicu inflasi yakni cabai merah, harganya akan turun karena sedang panen,"kata Mikael, yang juga anggota tim TPID Sumatera Utara, di Medan, Sumatera Utara, akhir pekan lalu.

Menurut dia, berdasarkan laporan Dinas Pertanian Sumatera Utara, pada Desember 2013-Januari 2014, akan ada panen cabai di sentra produksi Kabupaten Karo dan Simalungun. Di wilayah Karo, lanjut Mikael, akan ada panen cabai merah hasil tanaman di ladang seluas 557 hektar dan wilayah Simalungun 157 hektar.

"Dengan adanya panen, maka harga jual (cabai merah) diyakini tidak bergejolak yang akhirnya bisa menekan inflasi,"kata Mikael. Dia juga mengakui, hingga November 2013, secara kumulatif inflasi Sumatera Utara tercatat tinggi atau sudah mencapai 10,16%. Asal tahu saja, inflasi Sumatera Utara pada November lalu dipicu kenaikan harga cabai merah, angkutan udara, tarif listrik dan harga batu bara.

"Mudah-mudahan akan terjadi deflasi, sehingga inflasi secara tahunan (year on year/yoy) bisa di bawah angka bulan November 2012 yang sudah 10,78%," tambah dia.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Utara, Bidar Alamsyah menyebutkan, stok berbagai barang kebutuhan menjelang Natal dan Tahun Baru cukup memadai sehingga diharapkan harga jual di pasar tidak mengalami lonjakan di luar batas normal meski permintaan sedang mengalami kenaikan.

Jumlah persedian sapi misalnya ada sebanyak 16.772 ekor di mana kebutuhan pada Natal dan tahun baru diperkirakan sekitar 13.497 ekor. Persedian ayam ras dan beras juga cukup aman, di mana ayam ras ada 17 juta ekor dari konsumsi 10.500 juta ekor , sedangkan beras Bulog stoknya sebanyak 54.535 ton dari kebutuhan 11.200 ton per bulan.

Tumbuh 11,44%

Selain mengendalikan harga pokok, BI juga mengaku sedang fokus pada pengembangan klaster usaha kecil dan menengah atau UMKM lantaran merupakan pendekatan penting untuk meningkatkan sektor tersebut yang cukup potensial dan mempercepat bertumbuhnya, baik pengusaha, Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) maupun nasional.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kantor Perwakilan IX Sumatera Utara dan Aceh, Hari Utomo mengatakan, hingga September 2013, penyaluran kredit perbankan untuk UMKM di Sumatera Bagian Utara sudah mencapai sebesar Rp45,9 triliun, atau tumbuh 11,44% dari periode yang sama tahun lalu. Dengan meningkatnya penyaluran kredit itu, kata Hari, pangsa kredit UMKM terhadap total kredit perbankan di wilayah Sumatera Bagian Utara ini trennya menguat atau sudah dikisaran 26,8%.

"Perbankan tampaknya sudah makin peduli dengan sektor UMKM dan BI akan terus mendorong untuk perhatian yang lebih besar lagi, antara lain dengan pengembangan klaster UMKM," katanya. Beberapa klaster UMKM yang sudah dikembangkan BI Perwakilan IX antara lain Klaster Opak di Kabupaten Serdang Bedagai dan Klaster Sapi Potong di Langkat. [ardi]

Related posts