Bankir Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Lima Persen - Proyeksi 2014

NERACA

Jakarta - Direktur Utama PT Bank Jabar Banten Tbk, Bien Subiantoro, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2014 akan bergerak di kisaran lima persen, seiring pertumbuhan kredit perbankan yang melambat. "Bank Indonesia (BI) akan meminta perbankan menekan laju pertumbuhan kredit. Perlambatan pertumbuhan kredit ini berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi," ujar Bien, saat kumpul media di Denpasar, Bali, Jumat (20/12), pekan lalu.

Dia mengatakan, Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan kredit perbankan pada tahun depan di kisaran 15%-17%. Namun, menurutnya, pertumbuhan kredit perbankan bisa saja menyentuh hingga 20% pada 2014. Pertumbuhan ekonomi Indonesia, kata Bien, biasanya seperempat dari pertumbuhan kredit perbankan. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan kredit perbankan selalu berada di atas 20%, sehingga turut memacu pertumbuhan ekonomi Tanah Air hingga enam persen.

"Ke depan kalau ditargetkan hanya tumbuh 20%. Artinya, perekonomian kita tumbuh lima persen, makanya Bank Dunia juga memprediksi pertumbuhan Indonesia lima persen," ujarnya. Upaya stabilisasi ekonomi yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga 2014 menjadi alasan penurunan angka pertumbuhan kredit perbankan oleh Bank Indonesia, antara lain dalam bentuk menjaga agar defisit transaksi berjalan kita bisa berada di tingkat yang lebih berkesinambungan.

Tantangan bagi perbankan

Selain itu, Bien juga mengatakan likuditas dan kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) masih akan menjadi tantangan bagi perbankan di tahun depan. "Tahun 2014 likuditas masih berat. Sekarang ini banyak dana dari sistem perbankan keluar dari sistemnya," ungkapnya. Bien menuturkan, dana yang keluar dari sistem perbankan itu digunakan untuk pembelian Surat Utang Negara (SUN) yang kemudian berdampak terhadap mengetatnya likuditas.

"Kami memperkirakan akhir Desember ini DPK (dana pihak ketiga) sejumlah bank akan turun. Itu terjadi karena dana dari sistem perbankan banyak keluar," kata dia. Sementara itu, lanjut Bien, kredit bermasalah (NPL) diperkirakan masih akan membayangi perbankan pada tahun depan, khususnya di sektor komersil dan korporasi.

"NPL itu sebenarnya paling berat adalah bisnis komersial dan korporasi. Yang menengah itu kira-kira kreditnya Rp5 miliar-100 miliar. Ini NPL-nya paling tinggi," tambah dia. Menurut Bien, pengusaha di level ini masihh banyak yang agresif, sehingga kemampuan membayar kredit lebih rendah dibandingkan kapasitas membayar.

"Karena mereka ingin tumbuh lebih cepat," kata Bien. NPL komersial BJB saat ini mencapai 6,6%, jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 14%. Bien menambahkan, kredit ke sektor mikro juga dinilai masih cukup rawan mengingat biaya produksi meningkat.

Sebelumnya, DBS Vicker Securities Indonesia, subsidary DBS Group Singapura, merevisi pertumbuhan sektor keuangan Indonesia pada 2014 menyusul tingginya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate)yang berada di level 7,5%.

Analis DBS Vicker, Lim Sue Lin mengatakan, revisi pertumbuhan dengan memperhitungkan tingginya biaya kredit dan potensi kenaikan rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL). Kebijakan otoritas moneter yang berharap pendapatan bunga bersih (net interest margin/NIM)ditekan akan berpengaruh pada tingginya biaya dana (cost of fund). Dengan demikian, Lim memperkirakan, pertumbuhan pendapatan perbankan di Indonesia diperkirakan sebesar 11% dari proyeksi awal 16% di 2014. [ant/ardi]

Related posts