Kemenperin Dorong IKM Percantik Kemasan

NERACA

Bali - Produk-produk olahan yang dihasilkan pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) masih banyak yang belum memperhatikan ketentuan yang ada di kemasan produknya. Sehingga, produk yang dihasilkan masih lemah daya saing untuk menembus pasar global.

Menurut Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Euis Saedah mengatakan, pihaknya terus mendorong para pelaku IKM untuk memperbaiki dan mempercantik kemasan dari produk mereka. Karena, masih banyak kekurangan.

"Ke depan, kemasan IKM harus mencantumkan kadar gizi dan komposisi dari makanan yang diproduksi misalnya berapa kadar gula, berapa kadar garam, karena saat ini masyarakat kita makannya kurang terkontrol sehingga berpotensi menderita berbagai penyakit,"terang Euis saat mengunjungi Rumah Kemasan di Bali, akhir pekan lalu.

Lebih lanjut Dirjen IKM ini akan melakukan pembenahan kelembagaan Rumah Kemasan agar sistemnya berjalan lebih efektif. Karena, rata-rata satu wilayah memfasilitasi sedikitnya 10 IKM, sistemnya mereka mengajukan proposal lalu tim Rumah Kemasan rapat dan kalau lolos IKM tersebut boleh berkonsultasi di Rumah Kemasan, semua melibatkan direkturnya.

"Oleh sebab itu dikhawatirkan direktur Rumah Kemasan akan kewalahan, sehingga akan dibentuk sebuah tim khusus untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus IKM,"tukasnya.

Rumah kemasan awalnya dibangun tahun 2007 di Bandung. Rumah kemasan membantu meningkatkan keterampilan Sumber Daya Manusia (SDM) IKM agar memiliki produktivitas, kapasitas yang tinggi terhadap karya yang ulet, kreatif, inovatif.

Rumah Kemasan di Bali, hingga saat ini baru memfasilitasi sekitar 107-an IKM dari 74 ribu IKM yang ada. IKM yang datang berkonsultasi tidak dipungut biaya atas biaya pendampingan baik disain maupun terkait hal lain yang berkaitan dengan merek dagang seperti hak cipta dan kehalalan.

Sekedar informasi, pengemasan produk yang menarik masih menjadi kelemahan pelaku usaha kecil menengah kluster makanan. Pengemasan memang menjadi problem mayoritas anggota. Aspirasi mereka untuk mendapatkan pengetahuan seputar pengemasan.

Kelemahan pelaku usaha makanan mengemas produk hingga menarik, terkadang membuat barang dagangan mereka kurang diminati pelanggan. Soalnya barang dagangan sangat dipengaruhi kesan pertama pembeli. Kalau dirasa tidak menarik, kemungkinan mereka tak akan membelinya.

Pengemasan memegang peranan yang besar dan penting dalam kehidupan sehari hari manusia. Karena manusia hampir selalu menggunakan produk produk yang dikemas, seperti makanan dan minuman, kosmetik, obat obatan ataupun produk produk kebutuhan rumah tangga lainnya, maka pasti kita akan selalu “bertemu” kemasan. Oleh karena peranan yang penting itulah, maka kemasan harus dibuat dengan memenuhi standar yang tinggi dan memenuhi syarat syarat yang sudah ditetapkan baik oleh BPOM ataupun oleh lembaga lembaga Internasional, seperti ISO (GMP, HACCP), CE, dll. Sehingga, produk – produk yang dikemas tersebut bisa dikonsumsi dengan baik, sehat dan aman

Secara global ada 4 (empat) sektor indusri pengguna kemasan. Sektor industri makanan & minuman adalah sektor industri terbesar pengguna kemasan. Sektor ini menguasai sekitar 51% penggunaan kemasan, diikuti sektor industri rumah tangga 25%, sektor industri lain 15%, dan yang terakhir sektor industri farmasi dan kecantikan 9%.

Sedangkan dari segi jenis kemasan yang digunakan, sebagian besar didominasi oleh penggunaan kaleng, gelas, keramik, logam dan aluminium sebesar 30%, kemudian diikuti oleh kotak karton gelombang 20%, plastik rigid/semi rigid 14%, flexible pack/laminating 15%, kotak karton lipat 12% dan yang terakhir adalah kertas/label sebesar 9%.

Adapun kebutuhan akan penggunaan kemasan di dunia didominasi oleh Benua Asia 32%, Eropa 30%, Amerika 29%, Australia 5%, dan Afrika 4%. Dari data ini dapat ditarik kesimpulan betapa besarnya kebutuhan dunia akan penggunaan kemasan.

Related posts