Kesiapan Hadapi Tapering-Off

Oleh : Prof. Firmanzah., PhD

Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan

Bank Sentral AS (The Fed) pekan lalu secara resmi mengumumkan akan mengurangi stimulus (tapering-off) quantitative-easing III sebesar US$10 miliar dimulai pada Januri 2014. Pernyataan resmi The Fed itu kemudian ditanggapi secara beragam oleh banyak kalangan di dunia. Namun secara keseluruhan rencana ini disambut baik oleh kalangan pengambil kebijakan maupun pelaku pasar.

Hal ini dikarenakan telah ada kepastian akan rencana pengurangan setelah hal ini menjadi bahan spekulasi dan menciptakan gejolak di pasar keuangan global. Selain itu juga, jumlah tapering-off hanya US$10 miliar, membuat stimulus moneter tetap dilakukan dengan pembelian Surat Utang Negara (SUN) dan Obligasi sebesar US$75 miliar per bulannya.

Seperti halnya negara emerging-countries lainnya, bagi Indonesia kepastian pengurangan stimulus moneter telah memberikan kepastian bagi kita semua. Pemerintah bersama dengan BI, LPS dan OJK terus melakukan koordinasi kebijakan dalam Forum Koordinasi Stabilitas sistem Keuangan (FKSSK) untuk memitigasi setiap gejolak yang timbul akibat tapering-off di Amerika Serikat. Simulasi terkait dengan gejolak yang “mungkin” timbul baik dari sisi pasar uang, pasar modal, pasar obligasi, serta ke indikator lainnya seperti inflasi, non-performing loan (NPL), dan kinerja sektor riil juga telah disimulasikan. Bank Indonesia juga telah melakukan serangkaian upaya pengamanan termasuk melakukan kerjasama Bilateral Swap Arrangement (BSA) dengan Bank of Japan dan Bank Sentral China.

Dari sisi Pemerintah, kebijakan untuk terus melakukan reformasi struktural akan dilakukan. Paket kebijakan yang telah diluncurkan baik 4 paket kebijakan maupun 17 paket kebijakan untuk mengefisienkan doing-business juga telah menjadi komitmen nasional. Upaya untuk terus memperbaiki posisi defisit transaksi berjalan melalui serangkaian kebijakan untuk mendorong ekspor dan melakkan pembatasan impor sedang dilakukan. Untuk saat ini kita semua relatif mampu mengurangi tekanan inflasi yang cukup tinggi dan terjadi pasca kenaikan BBM bersubsidi. Bahkan kita optimis sampai akhir 2013, inflasi di Indonesia dapat kita tekan di bawah 8,5%.

Dampak dari tapering-off yang akan dilakukan pada Januari tahun depan dapat kita mitigasi ketika stabilitas, keamanan dan ketertiban di tengah tahun politik terus kita jaga dan mantapkan. Terjaganya stabilitas dan keamanan pada 2014 merupakan syarat keharusan bagi terjaganya pasar domestik. Selama ini pertumbuhan ekonomi nasional sangat ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi di dalam negeri. Sehingga di sektor riil, transmisi dampak setiap gejolak di pasar keuangan global akan dapat dikurang ketika pasar domestik terjaga. Indonesia telah menunjukkan mampu menjaga stabilitas di tahun politik seperti pada Pemilu 1999, 2004 dan 2009.

Melalui kebersamaan serta upaya kolektif dari segenap elemen bangsa, kita optimistis bahwa pada tahun depan kita dapat menjaga stabilitas politik. Hal ini penting tidak hanya untuk pertumbuhan dan pemerataan pembangunan tetapi juga memitigasi risiko munculnya gejolak di pasar keuangan global akibat realisasi tapering-off di negara adidaya tersebut.

Related posts