Indonesia Eksportir Kepiting Terbesar di Dunia - Perikanan Budidaya

NERACA

Makasar – Indonesia sampai dengan saat ini sebagai negara pengekspor kepiting terbesar untuk pasar international. Nilainya pun cukup fantastis. Untuk semester I tahun 2013 ini saja sudah nilainya telah menembus angka US$ 198,0 juta atau Rp 2,25 triliun.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, mengatakan, selain udang dan komoditas ikan yang lain, yang tidak kalah menarik untuk dibudidayakan adalah kepiting (Rajungan). Karena sampai dengan saat ini Indonesia merupakan negara pengekspor kepiting terbesar di dunia. Kebutuhan kepiting international seperti Amerika dan China didatangkan dari Indonesia. “Sampai dengan saat ini, Indonesia masih menjadi pengekspor terbesar kepiting di dunia,” katanya saat panen perdana budidaya kepiting di Moras, Makasar, Sulawesi Selatan, Jumat (20/12).

Berdasarkan data yang ada untuk semester I tahun 2013, ekspor kepiting dan produk olahannya mencapai 19.786 ton. Volume ekspor ini meningkat 25,76% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu15.733 ton. Adapun nilai ekspor kepiting tercatat pada tahun 2012 lalu US$ 183,7 juta pada semester I atau setara Rp 2,09 triliun, menjadi US$ 198,0 juta (Rp 2,25 triliun) naik 7,82% pada semester I tahun ini. Amerika Serikat menjadi pasar ekspor kepiting terbesar dengan volume ekspor 5.711 ton senilai US$ 104,7 juta atau Rp 1,193 triliun.

Trobosan Baru

Dalam kesempatan ini, Slamet menuturkan bahwa sejauh ini proses pengambilan kepiting masih tergantung dari alam, adapun jika ketergantungan dengan alam produktsinya jadi tidak menentu terkadang banyak, bisa sedikit, bahkan musim tertentu tidak ada. Oleh karenanya DJPB melalui Balai Budidaya Air Payau (BBAP), Takalar, Makasar mencoba mengembangkan terobosan baru untuk budidaya kepiting, dan hasilnya luar biasa, sudah bisa dibuktikan hari ini sudah bisa di panen. “Ini merupakan terobosan baru dari perikanan budidaya yang mampu mengembangkan budidaya kepiting dan ini baru pertama kali di Indonesia, bahkan dunia,” ungkapnya.

Lebih jau lagu, Slamet, menjelaskan, varian untuk perikanan budidaya masih terus kami kembangkan, karena memang budidaya adalah solusi peningkatan produksi perikanan nasional. Mengingat jika mengandalkan tangkapan dari nelayan bisa terkendala musim atau cuaca buruk, sehingga hasilnya tidak bisa diukur. Budidaya memang alaternatif peningkatan produksi perikanan nasional. “Kedepan, kami akan terus kembangkan lagi jenis dan varian baru ikan yang bisa dibudidaya, harapannya mampu meningkatkan produksi perikanan nasional,” tegasnya.

Kepala BBAP, Sugeng Raharjo, mengatakan, proses budidaya kepiting memakan waktu sekitar 2 bulan untuk siap panen, adapun resiko dari budidaya ini tergolong rendah mengingat kepiting lebih tahan terhadap penyakit, dan cost produksinya pun tergolong rendah. “Saat ini untuk bibit dan induk sudah tersedia di balai kami yang siap didistribusikan kepada para pembudidaya,” katanya.

Diakui oleh Aris Guntoro, General Manager PT. Kemilau Bintang Timur, prusahaan pengelolaan kepiting mengatakan, sampai dengan saat ini pasokan bahan baku kepiting masih tidak menentu, makanya tidak jarang kami biasanya menghentikan produksi karena kelangkaan bahan baku. Dengan adanya budidaya kepiting ini diharapkan mampu menjawab kelangkaan bahan baku itu. “Pabrik kami sering tidak berproduksi karena kehabisan bahan baku,” katanya.

Maka dari itu, saya sangat apresiatif dan menyambut gembira adanya budidaya kepiting ini mudah-mudahan keberlangsungan dari pabrik kami bisa berjalan lebih baik. “Sampai dengan saat ini perusahaan kami menampung 600 tenaga kerja, tapi kadang kami harus meliburkan sebagian karyawan karena tidak berproduski, dengan adanya budidaya kepiting ini mudah-mudahan produksi pabrik kami bisa lebih berkelanjutan,” tuturnya.

Rumput Laut

Produksi rumput laut nasional sampai dengan saat ini masih tergolong rendah. Kendati demikian di Makasar, selain kepiting, kini juga mampu mengembangkan budidaya rumput laut Gracilaria sistem tali. Dari percontohan ini ada sekitar 10 hektar lahan yang digunakan, dan sampai dengan saat ini baru ada 4 hektar yang produktif, adapun hasilnya cukup menggembirakan dari 4 hektar ini mampu menghasilkan 60 ton/bulan.

Arman Arfah, Ketua Umum Asosiasi Petani dan Pengelola Rumput Laut Indonesia, menyebutkan bahwa sampai dengan saat ini produksi rumput laut nasional masih sangat rendah. Oleh karenanya kami mencoba untuk menggali bagaimana cara budidaya rumput laut ini dapat dikembangkan. “Permintaan akan rumput laut setiap tahun terus meningkat, hanya saja produksinya masih rendah,” katanya.

Related posts