JFX Kembali Luncurkan Tiga Produk Baru - Penuhi Kebutuhan Pasar

NERACA

Jakarta – Jakarta Futures Exchange (JFX) kembali meluncurkan tiga produk baru sebagai pemenuhan kebutuhan pasar. Adapun ketiga produk baru tersebut adalah kontrak berjangka kopi, kontrak berkala emas dan pasar fisik karet. Untuk kontrak berkala emas meliputi satuan 5gr, 10gr, 25gr, 50 dan 100gr.

Direktur Utama JFX Sherman Ranakrishna mengatakan, untuk kontrak berkala emas, dilakukan inovasi dari kontrak emas yang sudah ada, “Untuk kontrak pasar fisik karet, ditujukan agar membuat perdagangan komoditi Indonesia makin bergairah,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, kehadiran tiga produk baru tersebut sesuai dengan visi dan misi JFX untuk mampu melayani kebutuhan pasar dengan mempertahankan integritas pasar. Diharapkan, dengan kontrak multilateral tersebut transaksi menjadi lebih transparan. Kemudian untuk kontrak berjangka kopi, diluncurkan kopi arabika dan robusta dengan satuan kontrak arabika sebesar 2 ton dengan kualitas SNI Grade 1 sesuai ketentuan Badan Standarisasi Nasional (BSN).

Disebutkan, bulan kontraknya Maret, Mei, Juli, September, dan Desember. Sementara, satuan kontrak robusta 5 ton, namun diakui dia kualitasnya di bawah arabika, SNI Grade IV-B sesuai ketentuan BSN dengan bulan kontraknya meliputi Januari, Maret, Mei, Juli, September, dan November.

Kata Sherman, kontrak kopi bukan barang baru di Indonesia. Namun untuk memicu daya tarik, JFX mengemasnya lebih baik. Pasalnya, selama ini para pelaku usaha banyak melakukan transaksi di bursa luar negeri. Kali ini JFX menawarkan kontrak dengan spesifikasi yang lebih menarik,”Indonesia sebagai penghasil kopi terbesar ketiga dunia, seharusnya kita mampu menjadi referensi harga kopi",ungkapnya.

Sementara untuk komoditas karet, menurut dia, Indonesia merupakan negara dengan perkebunan karet rakyat terbesar di dunia, namun Indonesia masih mengalami persoalan dengan mutu dan harga yang rendah. Sebagai informasi, sampai saat ini Indonesia masih menjadi penghasil kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Vietnam. Sebagai perbandingan, pada tahun lalu produksi kopi tercatat sebesar 748 ribu ton per tahun atau 6,6% dari produksi kopi dunia.

JFX sendiri menargetkan pertumbuhan volume transaksi multilateral bisa mencapai 100%. Target ini memang disesuaikan dengan penambahan produk yang dapat menarik pelaku pasar. Sementara Direktur JFX Bihar Sakti Wibowo mengatakan, transaksi multilateral merupakan transaksi komoditi primer di bursa berjangka yang dilakukan oleh banyak penjual dan banyak pembeli.

Selain itu, transaksi ini menghasilkan harga yang dibentuk oleh mekanisme pasar. Saat ini pihaknya sedang menunggu perizinan untuk menambah beberapa produk. Produk tersebut terbagi untuk jenis kontrak berjangka yaitu kopi robusta, kopi arabika, kedelai, dan emas.

Sementara, pasar fisik juga akan menambah produk karet dan batu bara.

Kontrak tersebut ditargetkan memperoleh perizinan pada akhir tahun ini atau di awal tahun depan. Diharapkan, nantinya dapat meningkatkan jumlah pelaku pasar.

Hingga Oktober pertumbuhan transaksi multilateral sudah mencapai 50,45%, dan akhir tahun bisa mencapai 70%.

Tercatat transaksi mencapai 285.268 lot, sedangkan di akhir tahun lalu mencapai 189.605 lot. Volume rata-rata transaksi multilateral di tahun ini ditargetkan bisa melampaui 300.000 lot. Nilai tersebut akan menjadi transaksi tertinggi per tahun yang dimiliki JFX. Sementara, kontrak berbasis emas mencapai 171.425 lot atau mencapai 60% total volume. (nurul)

BERITA TERKAIT

Pemkot Sukabumi Kembali Raih Penghargaan Adipura

Pemkot Sukabumi Kembali Raih Penghargaan Adipura  NERACA Sukabumi - Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi kembali meraih penghargaan piala Adipura kategori kota…

Harga Kebutuhan Pokok di PSM Kabupaten Sukabumi Belum Turun - Masuki Pekan Kedua Januari

Harga Kebutuhan Pokok di PSM Kabupaten Sukabumi Belum Turun Masuki Pekan Kedua Januari NERACA Sukabumi - Memasuki pekan kedua Januari…

Kopi Kita Serasi, Produk BUMDes Tabanan Mulai Unjuk Gigi di Toko Modern

Kopi Kita Serasi, Produk BUMDes Tabanan Mulai Unjuk Gigi di Toko Modern NERACA  Tabanan, Bali - Kabupaten Tabanan merupakan Daerah…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Harga Saham Melorot Tajam - Saham Cottonindo Masuk Pengawasan BEI

NERACA Jakarta - Perdagangan saham PT Cottonindo Ariesta Tbk (KPAS) masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) karena mengalami…

Kuras Kocek Rp 460,38 Miliar - TBIG Realisasikan Buyback 96,21 Juta Saham

NERACA Jakarta - Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) telah membeli kembali atau buyback saham dari…

KINO Akuisisi Kino Food Rp 74,88 Miliar

PT Kino Indonesia Tbk (KINO) akan menjadi pemegang saham pengendali PT Kino Food Indonesia. Rencana itu tertuang dalam perjanjian Jual…