Tahun Depan, Saham Sektor CPO Bakal Melesat

Kondisi pasar modal Indonesia pada tahun politik dinilai tidak terlalu berbeda. Namun, beberapa sektor seperti CPO, batubara dan perbankan menjadi sorotan. Deputy Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Tjandra Lienandjaja menyebutkan, ketiga sektor ini perlu diperhatikan pada tahun politik. Pasalnya beberapa sentimen menjadikan ada yang melemah dan menguat.“CPO, outlook tahun depan akan ada kenaikan harga pada CPO-nya. Hal ini dikarenakan beberapa hal yang terjadi sejak awal 2013 dimana terus menurun dan akhir-akhir ini justru menguat”, katanya di Jakarta, Kamis (19/12).

Dia menyebutkan, hal ini dikarenakan telah terjadi penurunan produksi sementara permintaannya meningkat yang mendorong harga naik. Sehingga, dalam beberapa bulan ke depan dipastikan ada kenaikan namun tidak terlalu tinggi.“Tetapi harus diketahui, harga CPO tidak akan terjun lagi karena sudah turun jauh, jadi tidak mungkin lebih rendah lagi”, katanya.

Sementara untuk batubara, dia menyebutkan sudah ada kenaikan harga. Sehingga dia memprediksi kenaikan tidak akan terjadi lagi. “Sektor ini ga kita rekomendasikan”, katanya. Sedangakan dampak Quantitative Easing (QE) diakui dia saat ini sudah belum kelihatan karena memang belum akan dirasakan oleh perusahaan-perusahaan Indonesia terutama yang harus membayar hutang dalam dolar dengan kurs saat ini.“Karenanya tahun depan kinerja emiten yang memiliki utang dalam dolar masih berat dalam beberapa bulan ke depan”, katanya.

Sedangkan untuk sektor pembiayaan, perbankan, properti dan infrastruktur masih harus memperhatikan kebijakan Bank Indonesia (BI) ke depannya. Dia menyebutkan, jika BI tidak menaikan suku bunga acuan (BI Rate) lagi, akan ada interest lagi pada sektor-sektor ini.“Jika BI tidak memperlemah sektor-sektor ini dengan kenaikan BI Rate, sektor-sektor tersebut akan menarik lagi. Karena semuanya terkait dengan BI Rate”, ujarnya.

Untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), masih berkisar pada level 4300-4400 hingga April 2014, namun ada harapan bisa mencapai 4800 jika stabilitas sudah ada setelah terpilihnya orang nomor satu di Indonesia.“Kami hanya bisa memprediksi sampai April 2014, seccond half belum bisa karena kami tidak tahu siapa yang terpilih sebagai presiden dan akan seperti apa arah kebijakannya”, ungkap dia.

Namun, jika melihat prediksi BI rate kkonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih yang melihat BI Rate masih berpotensi mengalami kenaikan 25 basis poin menjadi 7,75% pada kuartal pertama 2014 tentu sektor-sektor yang bersinggungan langsung dengan bunga bank akan memburuk.

Dia menyebutkan meski ada potensi kenaikan di kuartal pertama 2014, BI Rate berpotensi turun menuju 7% jika ada perbaikan yang signifikan pada transaksi berjalan dan inflasi. Hal tersebut dilakukan sebagai proses percepatan penurunan defisit dan antisipasi inflasi akibat pemilu. Sementara nilai tukar rupiah, dinilai memiliki nilai teoritisnya di Rp10.500 per dolar. Namun, level ini dengan mempertimbangkan masih belum optimisnya investor asing masuk ke pasar Indonesia semester pertama 2014, sehingga kemungkinan rupiah masih bergerak dikisaran Rp11.500-Rp12.000 per dolar. (nurul)

Related posts