Sido Muncul Bangun Perluasan Pabrik Rp 100 Miliar - Tingkatkan Produksi Jamu Tolak Angin

NERACA

Jakarta - Pasca mencatatkan saham perdana di pasar modal, ambisi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) untuk menguasai bisnis jamu di Indonesia terus ditingkatkan. Dimana salah satunya, perseroan bakal membangun pabrik jamu Tolak Angin dengan nilai investasi sekitar Rp 100 miliar.

Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, David Hidayat mengatakan, pembangunan pabrik di atas lahan seluas 10 hektar tersebut untuk meningkatkan kapasitas produksi jamu Tolak Angin menjadi 20% pada tahun depan,”ujarnya di Jakarta, Rabu (18/12).

Dia menuturkan, saat ini perseroan tengah melakukan pembebasan tanah untuk membangun pabrik di Semarang dengan nilai investasi sekitar Rp1 juta per meter. Namun, perseroan belum bisa memastikan karena belum ada penetapan harga dari penduduk, “Kita berharap bisa mulai bangun tahun depan untuk pabrik bahan baku dan Tolak Angin,”ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat, pembangunan dan perluasan pabrik ini diharapkan bisa meningkatkan kapasitas produksi tumbuh empat kali lipat dan untuk kapasitas jamu Tolak Angin akan naik dua kali lipat, “Kapasitas pabrik Tolak Angin sekarang baru terpakai 70%-80%. Di 2014 nanti diharapkan bisa naik 20%. Mesin sudah kita impor dari Jerman,”ujarnya.

Kata Irwan, tahun depan perseroan menargetkan penjualan sebesar Rp 2,8 triliun dan target laba bersih sebesar Rp450 miliar. Rencana lain, perseroan bakal melakukan rebranding dari 200 produk SIDO yang dinilai kurang mnenarik minat konsumen, "Nanti dikembangkan jadi obat herbal. Jadi kita ubah tampilan jamu menjadi herbal. Ini karena lima tahun lalu kita pernah launcing produk, enak rasanya, tetapi karena masih dikemas dengan brand Jamu, tidak berhasil. Jadi kita akan perbaiki untuk kemasan sekitar 200 produk kita,”tandasnya.

Dia menambahkan, relauncing produk rencanya akan dimulai Februari tahun depan dan bakal di kasih nama baru jadi herbal drink, atau healty drink. Kemudian terkait melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, memberikan dampak pada kinerja perseroan

Dirinya menuturkan, dampak pelemahan rupiah memaksa perseroan harus menaikkan harga jual produk Sido Muncul lantaran sebagian bahan baku masih impor untuk produk minuman energi."Jadi dampaknya HPP jadi meningkat. Kami juga nanti naikan harga. Saat ini harga energi drink kita di Rp565, sementara kompetitor Rp610. Jadi masih ada ruang. Sementara harga produk lain berbahan baku lokal kenaikannya bertahap tiap tahun, lebih karena inflasi," kata dia.

Sebagai informasi, pada debut perdananya di pasar modal, saham SIDO dibuka langsung menguat menjadi Rp660 per saham, naik 13,79% dari harga IPO yang sebesar Rp580 per saham, pada pembukaan perdagangan, Rabu kemarin.

Harga tertinggi di pembukaan perdagangan sempat menyentuh Rp680 per saham, sementara harga terendah di level Rp640 per saham. Adapun jumlah saham yang ditawar dalam IPO adalah sebanyak 1.500.000.000 saham baru atau 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dengan demikian perseroan berhasil mengantongi dana tunai sekitar Rp. 870 miliar dari keseluruhan jumlah saham yang dilepas dalam penawaran umum saham perdana. (bani)

Related posts