Humpuss Intermoda Siapkan Capex US$ 650 Juta

PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (HITS) berencana fokus pada 4 sektor bisnis dengan menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2014 mencapai US$650 juta. Rencananya, 4 sektor yang akan difokuskan perseroan adalah pengangkutan LNG (liquid natural gas), Petro Chemical, Offshore Support dan cement carrier (angkutan semen).

Untuk jasa angkutan semen, perseroan menilai, adanya Semen Indonesia, Holcim dan lain-lain akan meningkatkan produksinya tahun depan,”Sehingga, kalau produksi naik berarti kebutuhan angkutan untuk distribusi juga naik. Makanya kami mulai melirik sektor pengangkutan semen lantaran melihat peluang ditengah rencana sejumlah produsen semen untuk meningkatkan kapasitas produksinya di tahun depan”, kata Direktur Utama PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk Theo Lekatompessy di Jakarta, Rabu (18/12).

Namun, dia menyebutkan anggaran capex 2014 tersebut nantinya masih akan diserap banyak untuk angkutan LNG yang mencapai US$340 juta. Adapun rincian untuk belanja modal adalah di sektor LNG dengan nilai total US$340 juta dimana sebesar US$120 juta-nya untuk membeli 3 kapal mini LNG, dan US$220 juta untuk membeli 1 LNG Shuttle Tanker.

Sementara di sektor Petro Chemical dan Minyak, total investasinya diperkirakan mencapai US$35 juta, dimana US$15 Juta untuk membeli 1 Tanker Amoniak, dan US$20 juta untuk membeli 1 Oil Tanker. Di sektor Offshore, perseroan berencana mengalokasikan investasi dengan total mencapai US$255 juta, dimana US$150 juta-nya untuk membeli 7 kapal Offshoer Support, US$50 Juta untuk membeli 3 Ancor Handling Tug, US$25 juta untuk membeli 1 Accomodation Work Barg dan US$30 Juta untuk membeli Floating Storage.

Terakhir di sektor Cement nilai total investasinya dipatok US$20 Juta yang akan dipergunakan untuk membeli 2 Cement Carrier (kapal angkut semen).“Selain untuk beli kapal, total belanja modal US$650 juta itu juga untuk kebutuhan operasional praproduksi (operasional sebelum produksi) seperti bayar bunga bank, training tenaga ahli dan lain-lain”, katanya.

Sementara itu, untuk tahun ini perseroan menargetkan perolehan kontrak pengangkutan kapalnya sebesar Rp2,2 triliun atau turun dari target awal senilai Rp3,6 triliun. Hal ini akibat lambannya birokrasi di Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK MIGAS) yang membuat perseroan harus merevisi target kontrak.“Seperti kita tahu, bahwa keputusan ekonomi memang ada di pihak swasta. Namun, jika sudah sampai sana, akan jadi keputusan politik”, katanya.

Perseroan saat ini sedang mengikuti tender pengangkutan gas alam cair (LNG). Namun sayangnya, tender tersebut tertunda. Padahal, nilai proyek ini terbilang lantaran lambannya birokrasi. Nilai tender tersebut, sekitar Rp400-800 miliar yang masa kontraknya mencapai lima hingga sepuluh tahun. (nurul)

Related posts