Perbankan Didorong Tingkatkan Modal di 2014

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) mendorong perbankan untuk meningkatkan permodalan dan menyiapkan dana pencadangan kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) untuk mengantisipasi pelonjakan NPL yang dipengaruhi situasi ekonomi global dan domestik pada 2014.

"Memang ada situasi, mungkin untuk profitability perbankan dalam jangka pendek tertekan. Karena ada kenaikan bunga, mungkin marjin akan turun dan mungkin juga bisa ada kredit bermasalah yang juga meningkat," kata Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityswara di Jakarta, Rabu (18/12).

Dia menuturkan hal tersebut dengan alasan bahwa industri perbankan di Indonesia sebelumnya juga sudah mengalami permasalahan serupa pada 2005 dan 2008. "Masalah seperti ini setelah ada respon berupa kebijakan moneter dan kebijakan fiskal bisa diatasi," tambahnya.

Kebijakan yang sudah dilakukan BI dan pemerintah sendiri yang sudah dilakukan saat ini yakni berupa kenaikan BI rate dan kenaikan harga BBM bersubsidi serta beberapa paket kebijakan moneter dan fiskal lainnya. "Kalau sudah ada respons kebijakan moneter dan fsikal itu, nanti kalau ada kejelasan mengenai tapering, maka situasinya akan kembali ke situasi normal. Nah, saat ini perbankan Indonesia dalam masa penyesuaian," kata dia.

Saat pemerintah dan BI melakukan pengetatan di 2005 dan 2008, memang terjadi kenaikan jumlah kredit bermasalah. Oleh karena itu, dia mengingatkan dana pencadangan untuk NPL harus cukup. "Yang penting adalah bahwa bank harus cukup pencadangan untuk kredit bermasalahnya. Ini bukan masalah dimana kredit bermasalah naik dari 2% menjadi 10%. Misal NPL 2%, kalau provisi sudah 100%, maka kalau terjadi kenaikan NPL di atas 2% tentunya sudah tercover," terangnya.

Saat ini sebenarnya rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan masih kuat di kisaran 17%-18%. Sejauh ini bank-bank besar dan menengah juga sudah memiliki coverage ratio NPL di atas 100%.

Mirza menambahkan, saat ini roadmap permodalan bank di seluruh dunia sudah mengarah pada Basel III, sehingga tren bank di luar negeri ada pada upaya penambahan modal. "Karena Basel III memang meminta permodalan yang lebih tinggi. BI juga akan menyesuaikan dengan Basel III. Jadi, pasti perbankan harus memenuhi Basel III," tandasnya. [sylke]

BERITA TERKAIT

Waspadai Kejahatan Keuangan - NICE Actimize Ajak Perbankan Pentingnya Penerapan AML

Perkembangan produk, aktivitas, dan teknologi dalam industri keuangan telah semakin kompleks yang mana meningkatkan peluang pihak-pihak tidak bertanggungjawab menggunakan produk…

Bank Syariah Bukopin Fokus Tingkatkan Porsi Dana Murah

  NERACA   Jakarta - PT Bank Syariah Bukopin fokus meningkatkan porsi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA)…

Disperindag Lebak Minta Pelaku IKM Tingkatkan Kualitas Kemasan

Disperindag Lebak Minta Pelaku IKM Tingkatkan Kualitas Kemasan NERACA Lebak - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak meminta pelaku…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BRI Syariah dan Paytren Lanjutkan Kerjasama

      NERACA   Jakarta - Anak perusahaan Bank Rakyat Indonesia (BRI), BRI Syariah dan Paytren lanjutkan kolaborasi terkait…

Bank Bukopin Siapkan Rp1 Triliun untuk Pembiayaan Kendaraan

    NERACA   Jakarta - PT Bank Bukopin Tbk (Bukopin) menyiapkan kredit modal kerja hingga Rp1 triliun untuk pembiayaan…

BI Tahan Suku Bunga Acuan

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan sebesar enam persen pada rapat…