Kinerja IHSG Tertinggal Dari Negara Lain - Dipicu Pelemahan Nilai Rupiah

NERACA

Jakarta –Meskipun PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengklaim likuiditas perdagangan saham tahun ini naik menjadi Rp 6,3 triliun perharinya dibandingkan tahun lalu hanya Rp 4,5 triliun, namun tidak mempengaruhi prestasi indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI dibandingkan dengan negara lain.

Chief Economist and Director Investor Relation PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mengatakan, kinerja IHSG diakui masih jauh tertinggal dari indeks saham negara lain, akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan defisit neraca transaksi berjalan, “Prestasi indeks BEI masih tertinggal dibandingkan dengan negara lain,”paparnya di Jakarta, Rabu (18/12).

Menurutnya, dengan kondisi seperti ini pemerintah seharusnya berusaha menjadikan pelemahan rupiah sebagai alat untuk memacu ekspor agar posisi neraca transaksi berjalan membaik. Dirinya juga berharap, hal ini tidak hanya menjadi harapan kosong melihat potensi Indonesia yang besar. Setidaknya dapat berharap IHSG akan turut meningkat setelah valuasi bursa global dan region dianggap relatif mahal,”Kinerja portofolio saham berdasarkan pengalaman selama 2013, ada risiko yang mendorong peningkatan suku bunga cenderung berimbas negatif terhadap emiten properti, consumer finance dan perbankan,”ujarnya.

Alhasil, dengan kondisi seperti ini, investor perlu berhati-hati terhadap perusahaan yang sensitif terhadap volatilitas nilai tukar rupiah baik melalui harga bahan baku hingga penggunaan utang. Sedangkan, kondisi pengetatan likuiditas, kemampuan emiten untuk mengalihkan peningkatan bunga kepada konsumen menjadi pertimbangan bagi investor dalam memilih emiten.

Tahun depan, kata Budi Hikmat, kondisi IHSG tidak akan berbeda jauh dibandingkan rata-rata GDP nominal growth selama 5 tahun terakhir yang berkisar 13%. Angka sektor riil diprediksi terus mengalami penurunan dibandingkan periode 10 tahun terakhir di angka 15,7% dan 15 tahun terakhir di angka 17,8%.“Kondisi Indonesia saat ini normal dan indeks tidak akan jauh dari pertumbuhan GDP. Harus selalu diingat, pasar modal selalu mendahului sektor riil. Bisa dilihat dari rata-rata kinerja IHSG di angka 17,8%, 3 kali lipat dari GDP”, jelasnya.

Dia menyebutkan, kinerja perbankan besar selama triwulan ketiga 2013 dinilai tetap baik karena mereka dapat memindahkan beban BI rate yang lebih tinggi dengan menaikkan bunga kredit. Sehingga, sektor properti tetap perlu diwaspadai.

Diakuinya, prospek properti dalam jangka panjang terbilang cerah berkat dukungan penduduk berusia muda yang sedang membentuk keluarga,”Namun, secara menyeluruh, prospek investasi saham di tahun depan secara umum sangat tergantung oleh pertumbuhan laba emiten alias perusahaan yang masuk bursa. Melemahnya nilai tukar rupiah masih akan memberi tekanan”, ungkapnya.

Dia menyebutkan, terkait properti, ada indikasi BI bakal lebih ketat mengendalikan property boom, tidak hanya karena risiko bubble, tetapi booming sektor properti ini mempersulit pengendalian defisit neraca berjalan.“Kami cermati ada dua komoditas yang termasuk 5 penyumbang defisit perdagangan terbesar yang terkait sektor properti seperti kimia dan baja ringan”, katanya. (nurul)

Related posts