Edukasi Keuangan Bidik Ibu Rumah Tangga

NERACA

Program Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia akan digelar selama empat tahun ke depan hingga 2017. Dalamblue print(cetak biru) yang diluncurkan Presiden, edukasi 2014 dan 2015 akan diprioritaskan terhadap anak sekolah, ibu rumah tangga, pengusaha, dan ekonomi lemah. Sedangkan untuk tahap berikutnya pada periode 2016-2017 target edukasi ditujukan kepada pekerja informal, formal, dan pensiunan, serta masyarakat lain. Dalam masa ini, tidak hanya terbatas pada edukasi, tapi juga dampak dari materi yang diberikan.

Ada banyak tantangan yang harus dihadapi dalam meningkatkan literasi keuangan di Indonesia. Literasi keuangan merupakan tugas seluruh pihak, baik regulator, pelaku usaha, maupun masyarakat. Oleh karena itu perlu ada komitmen bersama dalam menyosialisasikan produk keuangan.

Terkait hal tersebut, OJK bersama seluruh pemangku kepentingan di industri keuangan mencanangkan tiga pilar utama untuk memastikan pemahaman masyarakat tentang produk dan layanan yang ditawarkan oleh lembaga jasa keuangan, yaitu mengedepankan program edukasi dan kampanye nasional literasi keuangan, penguatan infrastruktur literasi keuangan, dan pengembangan produk dan layanan jasa keuangan yang terjangkau.

“Program Literasi Keuangan Indonesia ini merupakan suatu program yang mengangkat masyarakatless literate(melek keuangan rendah), di pilar satu, dua, tiga, dan kerja sama denganstakeholder, outcomekepada masyarakat yangliterate,cerdas keuangan, rapi pengelolaan keuangan, sehingga meningkatkan kesejahteraan,” kata anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Kusumaningtuti S. Soetiono, belum lama ini.

Pilar pertama difokuskan pada kampanye edukasi keuangan terhadap enam kluster penduduk, yakni anak sekolah, ibu rumah tangga, pekerja informal, pekerja formal, penguasaha, dan masyarakat ekonomi lemah. Pilar kedua, lanjutnya, dilakukan survei untuk mengetahui di mana tingkat literasi dan utilitas, pengukuran program-program yang diselenggarakan, seberapa besar manfaatnya.

Sementara pilar ketiga adalah pengembangan produk yang diharapkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, di mana regulator dinilai perlu untuk memberikan inovasi agar produk cocok dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Bank Indonesia (BI) mencatat literasi keuangan di Indonesia sangat dipengaruhi gender. Bila dibandingkan dengan pria, perempuan memiliki tingkat literasi keuangan lebih tinggi.

"Analisis menunjukkan perempuan lebih dominan dalam mengelola keuangan meskipun laki-laki lebih paham tentang keuangan," ujar Direktur Stabilitas Sistem Keuangan BI Mulya Siregar.

Lebih lanjut Mulya memaparkan, survei yang dilakukan BI pada 2012 menyatakan literasi finansial juga sangat dekat hubungannya dengan usia dan level pendidikan. Selain itu jarak rumah ke kantor cabang bank juga memberikan pengaruh terhadap tingkat literasi keuangan. “Jauhnya rumah dari kantor cabang bank terdekat menunjukkan korelasi negatif terhadap tingkat literasi keuangan,” kata dia.

Related posts