Menguji Kejujuran Kasus Hambalang - Oleh: NasibTS, Peminat Masalah Sosial Budaya dan Sastra

Apa susahnya jujur. Ini pekerjaan hati yang tidak membutuhkan energi maupun kepintaran hingga sekolah tinggi-tinggi. Meski demikian tidak mudah untuk jujur pada kasus proyek Hambalang, gedung pelatihan olahraga terpadu yang menelan biaya hingga Rp 1,2 triliun itu.

Mari kita urut kronologisnya. Kasus itu mengemuka setelah Nazaruddin tersangka kasus korupsi proyek wisma atlet di Palembang ”nyanyi” skandal lebih besar ditemukan pada proyek Hambalang. Kasus itu menyeret nama Ketua Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Menpora Andi Malarangeng.

Anas jelas berkelit. Andi juga. Mereka, semula saling melempar bola dengan Komisi X DPR RI soal kebijakan anggaran yang dinilai tidak wajar. Konon KPK pun tengah menggali informasi seputar ada aliran uang ke Kongres Partai Demokrat 2010 terkait penyelidikan proyek Hambalang. KPK sempat yakin Anas terlibat dalam proyek pembangunan kompleks olahraga terpadu di Hambalang itu. Keyakinan KPK muncul setelah mendapatkan pengakuan dari anggota Komisi II DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Ignatius Mulyono, bahwa dia diperintah Anas ikut membereskan sertifikat tanah untuk proyek Hambalang.

Penyelidikan kasus pembangunan pusat olahraga Hambalang ini berawal dari temuan KPK saat melakukan penggeledahan di kantor Grup Permai milik Muhammad Nazaruddin terkait penyidikan kasus dugaan suap wisma atlet SEA Games. Nazaruddin yang juga terdakwa kasus dugaan suap proyek wisma atlet menyebutkan adanya keterlibatan Anas dalam kasus Hambalang.

Nazaruddin mengatakan, ada aliran dana Hambalang ke Anas. Dalam Kongres Partai Demokrat di Bandung, kata Nazaruddin, Anas membagi-bagikan hampir 7 juta dollar AS kepada sejumlah dewan pimpinan cabang.

Uang 7 juta dollar AS tersebut berasal dari Adhi Karya selaku pelaksana proyek Hambalang. Selain itu, Nazaruddin mengungkapkan bahwa Anas membantu penyelesaian sertifikat lahan Hambalang yang sejak lama bermasalah. Berkat jasa Anas melobi Badan Pertanahan Nasional, Joyo Winoto, sertifikat lahan itu selesai diurus.

Semua tudingan Nazaruddin tersebut dibantah Anas yang saat itu masih Ketua Umum DPP Partai Demokrat. Dia juga beberapa kali memastikan tidak ada politik uang dalam kongres Partai Demokrat di Bandung tersebut. Dia bahkan berani bersumpah digantung di Tugu Monas bila tuduhan itu terbukti.

Tentu saja tidak hanya Anas yang berkelit. Banyak pihak yang kemudian cuci tangan, tidak ingin terlihat kotor. Andi Malarangeng, misalnya, ia berkeras proyek Hambalang hanya meneruskan program lama saat Menpora dijabat Adyaksa Daud.

Namanya disebut-disebut Adyaksa Daud berang dan memastikan proyeknya tidak lebih dari sekadar sekolah olah raga dengan anggaran yang wajar. Hmm. Hambalang tampaknya sebuah rangkaian gerbong koruptor yang panjang. Siapa sajakah yang terlibat? Publik sedang menunggu kejujuran sebuah kesaksian dan kejujuran penyidik Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) sehingga kebusukan bisa terungkap sekalipun melibatkan orang-orang berpengaruh di lingkungan kekuasaan. Kita tunggu!

Menunggu Kejujuran

Kasus Hambalang hanyalah satu dari banyak kasus korupsi di negeri ini yang bertabur pelaku pandai berkelit. Mereka menyembunyikan kejujuran ke dasar hati yang terkunci. Karena itu segala pertanyaan yang masih tersisa dari pengusutan kasus korupsi, kita simpan dulu. Biarlah KPK bekerja dan kita tunggu hasil akhirnya.

Sementara aparat penegak hukum bekerja, kita tutup tulisan ini dengan renungan kecil: jujur itu mudah, namun menjadi sulit bagi hati yang terkunci. Mudah?

Jujur sebuah sikap yang boleh jadi ada secara alamiah sejak bayi, jauh sebelum orangtua mengajarkannya. Karena itulah tidak jarang orang-orang dewasa sadar atau tidak sadar, belajar tentang kejujuran dari seorang anak kecil. Ya, anak kecil!

Sekali peristiwa seorang buronan licin harus bertekuk lutut pada polisi berkat kejujuran seorang bocah. Ceritanya, ketika polisi mendatangi rumah sang buronan, hanya mendapatkan istrinya bersama seorang anak kecil. Polisi pun bertanya pada istri buronan mengenai keberadaan suaminya. Sudah pasti, sang isteri berusaha melindungi suaminya dengan mengatakan, “Suami saya sudah lama tidak pulang-pulang!”.

Tidak pulang-pulang? Sering tidak pulang, ya, karena sebagai buronan ia harus berusaha lihai menghindari polisi yang mengincarnya. Tapi kalimat “tidak pulang-pulang” diam-diam mendapat protes dalam hati si anak kecil yang ada dalam pangkuan ibunya. Sang anak yang mendengar percakapan itu, ‘membantah’ dalam hati keterangan yang diberikan ibunya pada polisi. Soalnya, baru beberapa menit yang lalu bocah itu bercengkerama mesra dengan ayahnya.

Ketika secara iseng polisi bertanya kepada sang bocah, “Di mana ayah?”, tidak terduga sang bocah jujur. Dengan polos ia menunjukkan keberadaan ayahnya yang saat itu berada di kebun belakang rumah. Polisi pun berhasil menangkap buronan kakap itu berkat bantuan kejujuran sang bocah, yang tida lain anak si buronan sendiri.

Dari seorang bocah kejujuran dipertahankan tanpa kompromi. Dia bahkan tidak perlu mengetahui akibat kejujurannya berisiko orangtuanya harus dipenjara. Jujur sebuah harga mati. Dari seorang anak kecil, kita belajar untuk jujur. Orang tidak perlu lulus perguruan tinggi dulu untuk jujur. Tidak perlu jadi pejabat dulu. Tidak perlu jadi penegak hukum dulu. Namun, untuk jadi apa pun yang dicari pasti orang jujur. Setidaknya dianggap jujur.

Lambannya kasus-kasus penting yang tidak terungkap, bukannya penyidik tidak tahu. Selain saksi bisa saja berbohong, juga karena aparat penegak hukumnya bersandiwara. Bila negara ini ingin bangkit, saatnya untuk jujur dan mulai bersih dari kebohongan dan kecurangan! (analisadaily.com)

Related posts