Perbankan Nasional Harus Berkontribusi - Menguatkan Rupiah

NERACA

Jakarta - PT Bank Negara Indonesia Tbk menilai industri perbankan nasional harus berkontribusi dalam menguatkan nilai tukar rupiah yang hingga kini masih berada di level Rp12 ribu per dolar AS. "Dari aspek perbankan nasional, mereka dapat melakukan upaya untuk tetap menjaga likuiditas dolar AS dalam batas aman sesuai dengan regulasi Bank Indonesia (net open position atau NOP, dan secondary reserve)," ujar Kepala Ekonom BNI, Ryan Kiryanto di Jakarta, Selasa (17/12).

Dia menuturkan, perbankan dapat menghentikan sementara waktu pengajuan dan pencairan kredit dalam dolar AS dalam rangka menjaga likuiditas valas. "Namun, perbankan juga bisa tetap memberikan fasilitas kredit dalam dolar AS sejauh orientasi usaha debitur untuk pasar ekspor, bukan pasar domestik," ungkapnya.

Selain itu, kata Ryan, perbankan diharapkan mendorong debitur dolar AS untuk melakukan lindung nilai (hedging) untuk menghindari kerugian karena selisih kurs atau forex risk. Dia pun menambahkan, bank-bank juga dapat menerapkan forward strategy (tiga atau enam bulan ke depan) untuk pemenuhan kebutuhan dolar AS bagi nasabahnya di kemudian hari.

Dengan begitu, dia mengharapkan, perbankan juga tidak melakukan aksi spekulasi untuk keuntungan sesaat di tengah kondisi melemahnya rupiah. "Terakhir, untuk bank BUMN, dapat melaporkan kepada otoritas (Pemerintah dan BI) sekiranya memiliki utang dalam dolar AS dan jatuh temponya," terangnya.

Sementara Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengklaim pelemahan nilai tukar rupiah hingga mencapai Rp12.050 per dolar AS, kemarin, disebabkan oleh tingginya permintaan dolar AS dari korporasi untuk membayar kewajiban utang.

"Biasanya akhir tahun permintaan dolar meningkat, karena kebutuhan perusahaan untuk membayar utang kewajibannya meningkat," aku Hatta di Jakarta. Dia juga meyakini Bank Indonesia (BI) tidak akan membiarkan terjadinya depresiasi terlalu dalam dan nilai rupiah kembali mencerminkan kondisi sesuai fundamental, meskipun perekonomian saat ini menghadapi tantangan eksternal terkait potensi tapering off.

Hatta meminta agar seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD), sebagai upaya memberikan ketenangan kepada pelaku pasar keuangan serta memperkuat pondasi internal, agar volatilitas rupiah tidak tinggi.

"Bank Indonesia ada di pasar, rupiah nanti akan mencerminkan fundamentalnya. Yang perlu dijaga adalah bagaimana mengatasi current account deficit. Ini adalah pekerjaan yang harus dilakukan," tegasnya.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo mengatakan kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih aman dan mencerminkan fundamental perekonomian nasional, meskipun kondisi global saat ini sedang bergejolak.

Dia mengatakan dalam tiga bulan terakhir, Bank Indonesia selalu melakukan intervensi untuk mencegah pelemahan rupiah. Namun cadangan devisa (cadev) masih tetap terjaga di posisi US$96 miliar atau setara dengan enam bulan impor.

"Bank Indonesia melakukan intervensi terukur, tapi diikuti cadangan devisa kita yang masih US$96 miliar. Jadi walaupun kita aktif, kita masih bisa menjaga (cadangan devisa) sama dengan bulan lalu, walaupun situasi bergejolak," ujarnya. [ardi]

Related posts