Pertamina Targetkan Produksi Minyak 2,2 Juta Bph di 2025

NERACA

Jakarta – Memanfaatkan beberapa produksi baik di dalam maupun luar negeri, PT Pertamina (Persero) menargetkan produksi minyak dan gas mencapai 2,2 juta barel per hari pada 2025 atau meningkat 10 kali lipat dibandingkan produksi sekarang. Hal tersebut seperti diungkapkan Senior Vice President Upstream Strategic Planning and Operation Evaluation PT Pertamina, Djohardi Angga Kusumah di Jakarta, Selasa (17/12).

Menurut dia, pihaknya merasa yakin bahwa target tersebut bisa tercapai mengingat produksi migas Pertamina selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Djohari menjelaskan, pada tahun 2009 lalu, produksi Pertamina kurang lebih 176.000 barel per hari (bph) kemudian naik menjadi 191.000 bph pada tahun 2010, sementara di tahun 2012 kembali meningkat menjadi 196.000 bph. “Untuk tahun 2013 produksi Pertamina sudah berada pada 200.000 bph,” ujar Djohari.

Menurut Djohari, dengan produksi mencapai 2,2 juga bph pada 2025, diperkirakan pendapatan Pertamina juga akan meningkat menjadi US$200 miliar. Saat ini pendapatan baru berada di angka US$70 miliar. "Pada 2025, kami menargetkan pendapatan US$200 miliar atau meningkat tiga kali lipat dari saat ini yang baru sebesar US$70 miliar," kata Djohari.

Djohari mengatakan, beberapa langkah yang akan diambil oleh Pertamina untuk meningkatkan produksi tersebut antara lain adalah dengan meningkatkan efisiensi dan kapasitas kilang minyak agar bisa bekerja lebih efisien dan menghasilkan profit. "Sementara untuk gas, kami merencanakan integrasi untuk Jawa dan Sumatera," kata Djohari.

Sementara itu, tingginya konsumsi bahan bakar minyak di dalam negeri masih belum mampu dispulai oleh produksi nasional. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), importasi minyak mentah pada Agustus 2013 tercatat sebesar US$990 juta, dan meningkat pada September 2013 menjadi US$1,1 miliar, atau mengalami peningkatan sebesar 20,88%.

Meskipun demikian, secara keseluruhan, total impor migas Indonesia pada September 2013 mengalami penurunan sebesarr 0,06% atau setara dengan US$2,2 juta, namun jika dibandingkan antara periode Januari-September 2013 dengan tahun lalu mengalami kenaikan 8,51%.

Penurunan tersebut dipicu oleh turunnya impor hasil minyak dari sebelumnya US$2,4 miliar menjadi US$2,2 miliar atau sebesar 8,87%, namun untuk periode Januari-September 2013 mengalami kenaikan sebesar 1,20% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012 lalu.

Sementara itu, rata-rata produksi minyak nasional saat ini hanya 827.000 barel per hari. Angka ini di bawah target pemerintah dalam APBN Perubahan 2013 yang mencapai 840.000 barel per hari. “Produksi minyak nasional kita hanya 827.000 barel per hari. Target produksi minyak nasional dalam APBN ditetapkan mencapai 840.000 barel per hari, sementara target SKK Migas sendiri sebesar 830.000 barel per hari,” ujar Kepala Bagian Humas Satuan Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Elan Biantoro.

Elan mengungkapkanm beberapa masalah membuat produksi minyak menurun adalah, seperti berhentinya sebagian produksi PHE ONWJ karena mengangkat 5 platform atau anjungan minyak, pencurian minyak di Tempino-Plaju, serta beberapa masalah klasik lainnya seperti pembebasan lahan, serta banyaknya perizinan yang harus dipenuhi.

“Ada beberapa proyek yang membuat produksi menurun, seperti berhentinya produksi PHE ONWJ yang 5 platformnya mau tenggelam, jadi saat ini dalam proses pengangkatan, pencurian minyak di Tempino-Plaju itu kan Pertamina menghentikan produksinya, itu mempengaruhi turunnya rata-rata, ada juga penutupan sumur di Tanjung Jabung Timur dan masalah-masalah klasik lainnya seperti perizinan dan lainnya,” kata Elan.

Dikuasai Asing

Disaat Pertamina mengingkan adanya peningkatan produksi baik di dalam maupun luar negeri, namun perusahaan migas lokal masih kalah bersaing di dalam negeri. Pasalnya sebesar 84 persen produksi migas yang dimiliki Indonesia kini dikuasai asing, sementara sisanya yang kebanyakan adalah sumur tua dikelola PT Pertamina (Persero). “Sebanyak 329 blok migas di tangan asing. Jika diletakkan titik-titik pada peta Indonesia, maka Indonesia sudah tergadaikan,” kata Deputi Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Erwin Usman.

Dia mengatakan luas lahan konsesi yang dikuasai asing untuk migas mencapai 95,45 juta hektar. Luas daratan seluruh Indonesia mencapai 192.257.000 hektar, sedangkan luas hutan Indonesia mencapai 101.843.486 hektar. Menurut dia, pada 2006 ada sekitar 1.194 kuasa pertambangan dikeluarkan oleh pemerintah. Saat itu cadangan minyak Indonesia mencapai 4,3 miliar barel dan kemampuan memproduksi minyak mentah mencapai satu juta barel per hari.

Karena itu, katanya, sangat tidak mungkin Indonesia kekurangan minyak. Dan menurut dia, adalah kesalahan pemerintah yang lebih banyak mengekspor minyak ketimbang memenuhi kebutuhan dalam negeri. Atas alasan itu pula, lanjutnya, Walhi menolak kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar 28,7 persen yang telah dilakukan pemerintah pada 23 Mei lalu.

Sementara itu, ekonom dari Institute for Global Justice (IGJ), Salamuddin Daeng mengatakan, posisi perusahaan asing memiliki kemampuan produksi paling besar. Keuntungan yang diperoleh juga besar karena perusahaan yang menjadi kontraktor BP Migas tidak menanggung risiko apapun, karena seluruh biaya produksi ditanggung pemerintah.

Related posts