Rupiah Anjlok Bikin Lesu Pasar Obligasi

NERACA

Jakarta – Menutup perdagangan valas Selasa (17/12) kemarin, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di posisi Rp 12.125 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan kemarin di Rp 12.100 per dolar AS. Hal ini makin memperburuk kondisi pasar obligasi di akhir tahun hingga kedepan, lantaran masih berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah.

Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy mengatakan, pelemahan rupiah akan berdampak sangat besar terhadap penerbitan obilgasi dalam bentuk rupiah, sedangkan sebaliknya penerbitan obligasi bentuk dollar akan menguat, “Melihat jumlah valuta asing yang terbatas dan nilai cadangan devisa yang tidak bisa menahan rupiah, maka akan bisa berdampak atas penerbitan obilgasi,”ujarnya kepada Neraca di Jakarta, kemarin.

Meskipun perekonomian Indonesia mulai mengalami perlambatan, lanjutnya, penerbitan obligasi harus dilakukan dengan sebaik-baiknya hingga untuk tahun depan. Menurut dia, penerbitan obligasi yang baru mencapai 70% sampai menjelang akhir tahun ini harus digenjot lagi untuk mencapai yang lebih baik lagi.

Meskipun dalam sisa waktu yang tidak sedikit, tapi pencapaian penerbitan obligasi harus tercapai berdasarkan target yang sudah dicanangkan,”Dalam waktu dua minggu ini, pencapaian penerbitan obligasi harus tercapai dan mau tidak mau musti digenjot dalam beberapa hari ini menjelang tutup tahun,” ujar Budi.

Dia juga menuturkan pelamahan rupiah ini harus dilakukan penekanan dari pemerintah sehingga tidak berdampak buruk atas penerbitan obligasi sampai akhir tahun ini. Pemerintah harus cermat dalam menerbitkan suatu kebijakan yang tepat dalam menekan nilai tukar rupiah.“Dengan menekan nilai tukar rupiah akan bisa mendukung target penerbitan obligasi pada tahun ini. Oleh karenanya, pemerintah akan berusaha untuk menekan nilai tukar rupiah dibawah Rp12.000,” tambah Budi.

Budi mengungkapkan, meskipun banyak kendala dari internal maupun eksternal di Indonesia, namun penerbitan obligasi harus tercapai. Diharapkan untuk kedepannya akan banyak perusahaan yang berniat untuk menerbitkan obligasi, meskipun ada korporasi yang menunda penerbitan obligasinya.“Penerbitan obligasi dikarenakan melihat keadaan domestik seperti pertumbuhan ekonomi, apalagi tahun depan yang menyangkut tahun pemilu yang akan sangat berpengaruh,” tutur dia.

Kepala Riset PT Buana Capital Alfred Nainggolan pernah bilang, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar berdampak pada emiten penerbit obligasi dan yang akan menerbitkannya di tahun ini,“Potensi gagal bayar tentunya besar karena risikonya semakin meningkat. Sementara untuk yang mau menerbitkan obligasi maka beban biaya bunga yang harus ditanggung juga semakin besar,”ungkapnya.

Jika emiten harus membayar bunga kupon obligasi yang besar, sambung dia, tentunya beban pokok yang ditanggung emiten meningkat. Tentunya, dengan beban pokok meningkat maka akan dapat menggerus laba mereka. Terlebih, untuk perusahaan yang menerbitkan obligasi dalam denominasi dolar, “Bebannya besar karena sekarang ini untuk dolar itu sulit ketemu investornya.” ujarnya. (mohar)

Related posts