Smartfren Bayar Pita Frekuensi Rp 222 Miliar

NERACA

Jakarta – PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) melunasi kewajiban pembayaran Biaya Hak Penggunaan (BHP) pita frekuensi sebesar Rp222 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (17/12). Sebelumnya perseroan telah membayarkan BHP sebesar Rp321 miliar dari total BHP yang harus dibayarkan sebesar Rp543 miliar sesuai dengan keputusan Kemenkominfo total senilai Rp543 milIar telah tuntas dilunasi.

Direktur PT Smartfren Telecom Tbk Merza Fachys mengatakan, pelunasan ini merupakan komitmen pereroan sebagai operator telekomunikasi nasional, “Langkah ini semakin memperkuat posisi perseroan untuk menjadi operator seluler yang semakin siap untuk melayani semua pelanggannya dengan jauh lebih berkualitas lagi,”ujarnya.

Saat ini, total jumlah pelanggan Smartfren hingga kuartal ketiga tahun 2013 mencapai 12,5 juta pelanggan, dan 5,5 juta diantaranya merupakan pelanggan data. Sementara pembangunan Base Transceiver Station (BTS) Smartfren semakin tersebar di Jawa, Bali, Sumatera, dan kota besar di Sulawesi.

Sepanjang 2013 Smartfren juga memperluas area pelayanannya dengan membuka galeri Smartfren baru di Lombok, Pematang Siantar, Pontianak, Jambi, Manadi, Padang, Bangka-Belitung, Aceh, Batam, Pekanbaru, Banjarmasin, dan Samarinda. Dengan demikian total keseluruhan galeri yang dimiliki Smartfren mencapai 185 Galeri.

Berdasarkan data IDC (International Data Center) kuartal III-2013, saat ini Smartfren juga tercatat sebagai perusahaan yang berada di posisi nomor dua dalam memasarkan smartphone, dengan brand Andromax, di Indonesia setelah Samsung.

Posisi Andromax juga berada di atas dua produk handphone internasional yaitu Blackberry serta Nokia. Hal tersebut didukung dengan suksesnya serial Andromax, Smartphone yang dihadirkan oleh Smartfren sebagai usaha untuk memberikan pilihan perangkat berkualitas dan enak dipakai bagi masyarakat.“Kami optimistis mampu memberikan layanan terbaik di tengah persaingan yang ketat dengan penyedia jasa telekomunikasi seluler lainnya”, katanya.

Pada 12 November 2013 lalu, perseroan telah menandatangani perjanjian kredit dengan First Anglo Financial Pte Tld, perusahaan tidak terafiliasi mengenai pemberian fasilitas pinjaman ke-2 sebesar US$90 juta. Disebutkan juga bahwa jangka waktu maksimal 24 bulan untuk fasilitas pinjaman tersebut.

Perseroan juga telah memperoleh fasilitas pinjaman pertamanya pada tahun ini juga dari First Anglo Financial Pte Ltd dengan nilai nominal sama yaitu US$90 juta dengan jangka waktu 24 bulan. Perseroan berencana menggunakan fasilitas pinjaman tersebut untuk pembayaran hutang perseroan dan anak perusahaan, serta untuk tambahan modal kerja yaitu pembayaran kegiatan operasional lainnya.

Hingga September 2013, perseroan menderita rugi sebesar Rp1,54 triliun atau mengalami peningkatan kerugian dari dari periode tahun sebelumnya sebesar Rp1,01 triliun. Pendapatan usaha naik menjadi Rp1,75 triliun dari pendapatan usaha tahun sebelumnya yang Rp1,11 triliun.

Sementara beban usaha naik lebih tinggi yakni Rp2,93 triliun dari beban usaha tahun sebelumnya yang Rp2,29 triliun membuat rugi usaha tercatat menjadi Rp1,17 triliun dari rugi usaha tahun sebelumnya yang Rp1,18 triliun. Total aset perusahaan ini naik jadi Rp15,68 triliun per September 2013 dari total aset per Desember 2012 yang Rp14,34 triliun. (nurul)

Related posts