Perikanan Budidaya Siap Jadi Andalan Ketahanan Pangan - Kualitas dan Produktivitas Bakal Terus Digenjot

NERACA

Karawang – Di tengah maraknya impor pangan untuk memenuhi kebutuhan domestik, sektor perikanan, khususnya perikanan budidaya, justru digadang-gadang sebagai salah satu andalan ketahanan pangan, baik nasional maupun internasional. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mengaku akan terus mendorong peningkatan produksi dan kualitas perikanan budidaya di Indonesia.

“Oleh karena itu menghadapi tahun 2014 nanti, perikanan kian mantap menjadi salah satu andalan ketahanan pangan nasional maupun international,” katanya sesaat setelah menghadiri acara penandatanganan naskah kerjasama pengkajian penerapan dan pengembangan teknologi budidaya perikanan dalam rangka mendukung peningkatan produksi dan industrialisasi perikanan indonesia dan pencanangan pengembangan ikan nila salina, di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, Jawa Barat, Selasa (17/12).

Sejauh ini, berdasarkan data yang dihimpun oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/ FAO),produksi perikanan budidaya dunia telah mencapai 66 juta ton, jumlah itu melebihi produksi daging sapi yang hanya 63 juta ton. Dan untuk produksi ikan Indonesia dari tahun ketahun terus meningkat tahun 2012 produksinya 9,6 ton, 2013 targetnya 13 juta ton dan untuk tahun 20014 targetnya 16,9 juta naik 40% dari target tahun 2013.

“Tren target dari perikanan budidaya setiap tahun semakin meningkat, dan sejauh ini targetnya selalu terlampaui bahkan hasilnya lebih tinggi, apalagi masyarakat dunia sekarang lebih memilih mengkonsumsi ikan, dibandingkan dengan daging yang penuh dengan resiko maupun penyakit, dan ikan saat ini ikan menjadi pilihan makanan dunia,” imbuhnya.

Itu sebabnya, kata Slamet, perikanan nasional khususnya perikanan budidaya menjadi andalan ketahanan pangan nasional maupun dunia, memang benar adanya. Pasalnya adanya perubahan musim, cuaca yang tidak mendukung, sehingga menjadikan nelayan paceklik produktivitas ikan tangkap. Tapi tidak demikian dengan perikanan budidaya karena bisa dikelola produktivitasnya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial. “Bukan hanya menjadi andalan ketahanan pangan saja tapi bisa diekspor untuk cadangan devisa negara,” ujarnya.

Apalagi ditambah lagi dengan kesiapan industrialisasi yang sudah meyakinkan, pola maupun skema budidaya yang lebih sistematis, adanya ketertarikan sektor perbankan untuk membantu permodalan pembudidaya salina, belum lagi pengembangan teknologi yang terus menerus menjadikan produktivitas perikanan nasional semakin berkelas dan berkualitas tinggi. “Intinya kami dari perikanan budidaya sudah siap menghadapi tantangan tahun 2014 dan tantangan pasar bebas ASEAN tahun 2015 nanti,” tegasnya.

Pengembangan Teknologi

Menurut Slamet, secara umum pengembangan teknologi perikanan nasional tidak kalah dengan negara lain. Buktinya produksi perikanan nasional mampu terbebas dari penyakit. Padahal yang diterapkan baru teknologi ekstensif belum masuk ke intensif. “Maka dari itu, kami selalu bekerjasama dengan lembaga, swasta, maupun pemerintah untuk terus bisa mengembangkan teknologi perikanan nasional. Salah satunya yang sudah sering dilakukan dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Kerjasama perikanan budidaya dengan BPPT sudah terjalin sejak tahun 2007, dan akan terus dikembangan guna mendorong peningkatan produksi perikanan nasional,” jelas Slamet.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BPPT Marzan Al Iskandar mengatakan, potensi bisnis perikanan masing sangat besar dan terbuka lebar ke depan. Adanya kerjasama seperti ini merupakan merupakan langkah awal untuk terus mengembangkan kerjasamanya kedepan untuk peningkatan yang lebih baik lagi untuk perikanan budidaya. “Dengan potensi yang ada saya sangat optimism perikanan budidaya mampu sebagai penopang perekonomian nasional,” katanya.

Adanya kerjasama ini salah satu merefleksikan untuk dapat terus menggali potensi bisnis perikanan yang masih terbuka lebar dalam lingkup perikanan nasional u ntuk terus dikembangkan dengan inovasi yang terus tumbuh dan berkembang. “Adanya sinergi ini sangat penting guna pencapaian produktivitas perikanan budidaya nasional dimasa-masa mendatang,” tegasnya.

Pemanfaatan teknologi ini memang terasa pada hasil produksi perikanan budidaya, selain hasil produksinya meningkat, biaya produksinya juga dapat ditekan sehingga sangat menguntungkan bagi para para pengusaha perikanan budidaya. “Skema yang dibangun dalam balai Karawang ini selain produktivitas yang tinggi juga konsep wirausaha, jadi mampu memunculkan wirausaha muda baru kedepan,” kata Suryadi, Kepala BLUPPB Karawang.

Related posts