Kue Rambut: Cita Rasa Flores

Berwisata memang tidak lengkap rasanya bila tidak mencicipi sajian kuliner khas masyarakat sekitar. Kuliner yang satu ini berasal dari Lamaholot, sebutan lain bagi daerah Flores Timur, Solor, Adonara dan Lembata. Jawada atau yang lazim disebut kue rambut atau bolo kekera merupakan makanan khas jenis kue asal Lamaholot yang terkenal selain jagung titi, tuak putih dan rumpu rampe.

Jawada atau kue rambut ini biasa dihidangkan pada acara-acara resmi kenegaraan maupun upacara adat serta keagamaan. Kuliner jenis ini sangat diminati masyarakat Lamaholot lantaran cita rasanya yang khas dan tetap awet dalam jangka waktu yang lama.

Kue rambut ini sendiri memiliki banyak sekali penggemar dan peminatnya. Kita pun dapat memesannya kue ini. Biasanya dijual langsung kepada pembeli atau kepada pelanggan. Pada umumnya pembeli memesan terlebih dahulu karena proses pembuatannya yang agak rumit dan membutuhkan waktu yang lama.

Sementara itu untuk bahan dasar pembuat kue rambut atau jawada tidak sulit untuk diperoleh karena semua bahan tersebut tersedia di pasaran. Seperti tepung beras, kanji, santan kelapa dan gula. Bahan-bahan tersebut kemudian dicampur atau diaduk sedemikian rupa hingga terasa kental. Alat yang digunakan pun terbilang sederhana yakni batok tempurung kelapa yang dilubangi dengan beberapa lubang berukuran kecil seperti berbentuk sendok kua.

Proses pembuatanya pun terbilang mudah. Tempayan atau kwali diisi minyak goreng secukupnya lalu dipanaskan di atas kompor atau tunggku api. Setelah panas, cairan tepung dituangkan ke dalam tempurung lalu dikocok-kocok hingga menetes ke dalam tempayan. Waktu yang dibutuhkan tergolong singkat hanya sekitar 3 menit lamanya. Kue jawada dapat dibuat dalam berbagai tipe atau bentuk tergantung selera pembuat.

Jawada atau kue rambut terasa gurih dan enak bila dicicipi. Agar tetap awet dan gurih, biasanya jawada disimpan di dalamtoplesatau tempayan lalu ditutup rapih agar terhindar dari udara dingin, lembab atau terjadi penguapan yang berlebihan. Biasanya jawada disimpan di tempat yang kering dengan suhu yang panas agar menjaga aroma tetap gurih.

BERITA TERKAIT

Gas dan Cita-Cita Bangsa

  Oleh: Dhenny Yuartha Junifta Peneliti INDEF Filsafat Ekonomi Indonesia mencita-citakan aktivitas perekonomian yang dijalankan sesuai dengan semangat keadilan sosial.…

Saham CITA Masuk Dalam Pengawasan BEI

NERACA Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencermati perkembangan pola transaksi saham PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA). Hal…

Mudik: Antara Suka Cita dan Elegi Pilu Kaum Urban

Oleh: Pril Huseno, Pemerhati Sosial Ekonomi Mudik ‘jaman now ’ adalah orkestra satire yang melagukan kidung nestapa kaum urban ketika…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Destinasi Jelajah Gua di Gunungkidul

Bagi pecinta petualangan sekaligus sejarah dan keindahan alam, kegiatan menjelajahi gua paling tepat dijadikan agenda berlibur. Jika ingin menikmati keindahan…

Pulau-pulau Eksotis di Timur Indonesia

Selama ini Bali dan Lombok adalah dua nama pulau yang kerap menjadi pilihan wisatawan mancanegara untuk menghabiskan waktu berliburnya. Padahal…

Kemenpar Siap Kembangkan Ekowisata Hutan Gede Pangrango

Dalam siapkan ekowisata hutan, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) akan menggelar bimbingan teknis (bimtek), salah satunya untuk pengelola Taman Nasional Gunung Gede…