BEI Pastikan Sistem Remote Trading Aman

NERACA

Jakarta – Guna meningkatkan kenyamanan bertransaksi di pasar saham, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) selalu meningkatkan layanan dan termasuk jaringan remote trading. Bahkan hingga akhir tahun dan kedepan, BEI memastikan bawah sistem perdagangan efek yang diselenggarakan oleh Bursa bagi anggota bursa efek melalui jaringan (remote trading) berjalan normal, “Remote trading berjalan normal sehingga tidak ada gangguan penyampaian pesanan," kata Direktur Teknologi Informasi BEI Adikin Basirun di Jakarta, Senin (16/12).

Dia menjelaskan bahwa sistem perdagangan efek sempat mengalami kendala sesaat pada bagian pengguna data "feed" yang disebabkan oleh "flapping" di jaringan komunikasi."Root cause sedang dalam proses investigasi bersama dengan pihak penyedia jaringan. Indikasi disebabkan oleh 'intermittent errors' yang telah berhasil diisolasi sesuai prosedur,"ujarnya.

Kata Adikun, pengguna yang memiliki sistem "backup data feed" tidak mengalami gangguan, demikian juga data vendor tetap bisa melakukan distribusi informasi perdagangan efek di bursa saham domestik.

Sebagai informasi, Direktur Utama BEI Ito Warsito pernah bilang, pihak bursa menganggarkan dana investasi pada 2014 sebesar Rp103,81 miliar atau meningkat sekitar 15,85 persen dibanding tahun ini yang sebesar Rp89,61 miliar,”Kenaikan dana investasi itu seiring dengan langkah BEI yang akan melakukan investasi strategis baru di bidang teknologi informasi, yakni pada sistem perdagangan, sistem edukasi pasar modal untuk pengembangan pasar, sistem pelaporan emiten, dan sistem perkantoran yang terintegrasi," ujar dia.

Dia menuturkan, untuk sistem informasi teknologi itu pihak BEI akan mengembangkan "Trading System Testing Tools" sebesar Rp5,32 miliar, pengembangan sistem "Enterprise Resource Planning" sebesar Rp10,25 miliar, pengembangan aplikasi "Extensible Bussiness Reporting Language" (XBRL) untuk pelaporan emiten sebesar Rp4,82 miliar.

Asal tahu saja, kerusakan remote trading di Bursa bukan kali pertama terjadi tetapi sudah kesekian kalinya. Menanggapi hal tersebut, Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, kejadian kerusakan remoten trading dinilai memalukan, “Di saat BEI ingin menjadi bursa kelas dunia, namun sistem perdagangannya mati,”tuturnya.

Bicara masalah kerugian, kata Edwin, pihaknya melihat dari komisi saja bisa mencapai ratusan miliar. Pasalnya, jika transaksi ramai maka diperkirakan mencapai Rp500 miliar. Sementara analis BNI Securities, Viviet S Putri mengakui, potensi kerugian komisi sekuritas diperkirakan Rp 200 miliar dan potensi kerugian nilai transaksi harian sekitar Rp 4 triliun. Terlebih jika pasca liburan, biasanya minat investor cukup kuat bertransaksi saham dank arena itu pelaku pasar meminta sistem remote trading di Bursa tidak lagi menemui kendala yang menyebabkan kerugian bagi investor dan perusahaane efek.

Konon terganggunya perdagangan saham terjadi pada sistem penerimaan data yang dimiliki oleh beberapa perusahaan sekuritas. Tidak semua sistem Anggota Bursa dapat menerima perpindahan data ketika mengalami masalah. (bani)

Related posts