BI Keluarkan Aturan untuk Bank Syariah - Terkait Perolehan DPK

​NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) akan mengeluarkan aturan kelembagaan untuk meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah. Utamanya agar perolehan dana pihak ketiga (DPK) bisa bertambah, mengingat rasio pembiayaan terhadap DPK yang cukup tinggi.Untuk meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah, Bank Indonesia (BI) akan mengeluarkan aturan kelembagaan terkait dengan peningkatan perolehan dana pihak ketiga (DPK) Direktur Eksekutif Perbankan Syariah BI, Edy Setiadi mengatakan hal ini dilakukan mengingat rasio pembiayaan terhadap DPK yang cukup tinggi

“Selain itu, dorongan induk kepada Bank umum syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) bisa diselesaikan dan dikeluarkan akhir tahun, hal ini sebagai lanjutan dari aturan multiple lincense,” kata Edy di Jakarta, Senin (16/12).Menurut dia, melalui aturan kelembagaan ini, memungkinkan kepada bank syariah untuk membuka outlet di bank umum konvensional sesame perusahaan. Misalnya induk atau sister company untuk memperoleh DPK. “Aturan selama ini hanya surat saja, belum memiliki kekuatan, diharapkan nanti cabang akan lebih terdorong, kan kalau holdingnya sama saja mau masuk saku kanan atau kirinya,” imbuh dia,

Pertumbuhan DPK sepanjang tahun ini mencapai 18% di posisi Oktober dibandingkan dengan Desember 2012. Sementara dalam setahunan tumbuh sebesar 29,4%. Hal ini masih lebih baik ketimbang pertumbuhan DPK perbankan konvensional. Namun, dia mengatakan, di dua bulan terakhir pertumbuhan DPK bisa membaik bahkan melebihi target 30%

Selain itu, tambah Edy, dari sisi perluasan pemanfaatan jaringan, bank syariah juga bisa memanfaatkan kompetensi yang dimiliki oleh bank konvensional yang terafiliasi dengannya. “Misalnya di bank syariah belum memiliki kompetensi pembiayaan infrastruktur, nah ini bisa menggunakan sumber daya manusia (SDM) dari bank konvensionalnya, ya memang keputusan tetap di bank syariah,” ujar dia.

Sementara itu, BI menilai rasio pembiayaan terhadap DPK perbankan syariah pada level 100% masih berada di batas aman. Menurut Edy, untuk bank konvensional, loan to deposit ratio (LDR) telah diturunkan dari 100% kini maksimal menjadi 92%. “Saat ini FDR di angka 103%, jika dipelajari, ini terdiri dari yang dimiliki oleh BUS dan UUS yang memberi kontribusi ke angka itu,” jelas dia.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kebanyakan dari BUS memiliki FDR di bawah 100%, meskipun ada juga yang FDR nya melewati angka tersebut. Selanjutnya, untuk UUS sendiri, Edy mengatakan FDR di atas 100% masih diijinkan karena adanya dorongan dari induk usaha terkait dengan likuiditas.

Edy menambahkan, upaya pengembangan pasar perbankan syariah yang telah dilakukan BI dan pelaku industri yang tergabung dalam iB Campaign mampu memperbesar market share perbankan syariah dalam peta perbankan sehingga mencapai ± 4,8% per Oktober 2013 dengan jumlah rekening di perbankan syariah mencapai kurang lebih 12 juta rekening atau 9,2% dari total rekening perbankan nasional serta jumlah jaringan kantor mencapai 2.925 kantor.

Perkembangan perbankan syariah dalam kurun waktu satu tahun terakhir tergolong cukup pesat, khususnya pada BUS dan UUS yang mendominasi aset perbankan syariah. Aset perbankan syariah meningkat per Oktober 2013 (yoy) menjadi Rp.229,5 triliun. Edy menambahkan, jika ditotal dengan aset BPR Syariah, maka aset perbankan syariah bisa mencapai Rp.235,1 triliun.

Pertumbuhan ini masih berada dalam koridor revisi proyeksi pertumbuhan tahun 2013 yang dipertimbangkan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi, ditambah dengan siklus pertumbuhan akhir tahun yang pada umumnya aset perbankan syariah akan mengalami peningkatan yang cukup berarti.

Sepanjang 2013, dampak makro ekonomi lanjutan atas krisis keuangan global yang cenderung melambatkan laju pertumbuhan ekonomi di banyak negara di dunia serta menurunkan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia ke tingkat di bawah 6%, tentunya mempengaruhi industri perbankan syariah nasional.

Pada 2014 diharapkan kondisi perekonomian global membaik dan geliat ekonomi domestik semakin positif sehingga memberikan lingkungan usaha yang kondusif bagi pertumbuhan industri perbankan nasional yang lebih baik.

Dengan kondisi tersebut, BI pada 2014, pertumbuhan aset perbankan syariah tetap akan berada dalam 3 skenario dari baseline sampai dengan optimis, namun diharapkan berada dalam kisaran moderat sampai dengan optimis dengan kisaran growth dari 19% - 29%. [sylke]

Related posts