Indeks BEI Masih Bergerak di Zona Merah

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham awal pekan ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) di tutup anjlok 48,874 poin (1,17%) ke level 4.125,956. Sementara Indeks LQ45 ditutup jatuh 10,535 poin (1,52%) ke level 680,978. Derasnya tekanan jual dan sentimen negatif nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga menembus Rp 12.100 menjadi pemicunya.

Menurut analis Trust Securities, Reza Priyambada, pelemahan indeks BEI Senin awal pekan juga dipengaruhi belum kondusifnya bursa saham Asia,”Belum kondusifnya bursa saham Asia masih mendorong pelaku pasar melakukan aksi jual sehingga indeks BEI ikut melanjutkan pelemahan," katanya di Jakarta, Senin (16/12).

Menurut dia, sentimen stimulus keuangan (tappering off) the Fed menjelang rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada pekan ini masih menjadi salah satu penghalang bursa saham kembali ke area positif. Pasalnya, pelaku pasar lebih memilih untuk menahan diri jelang rapat FOMC sehingga laju bursa saham cenderung melemah.

Sementara Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah menambahkan, investor sedang mencermati FOMC pada 17--18 Desember 2013 dan mengharapkan bisa memperoleh sinyal arah kebijakan stimulus ekonomi Amerika Serikat, “Pernyataan The Fed atas waktu 'tapering off' bisa mengurangi spekulasi di pasar saham dan keuangan,"ujarnya.

Terlepas dari berbagai sentimen eksternal, dia menambahkan Indonesia perlu meningkatkan daya dukung dan daya saing domestik terutama sektor riil untuk memperkuat fundamental dalam jangka panjang. Hal itu diharapkan menjadikan mata uang rupiah lebih kuat dan stabil. Kebijakan moneter oleh BI dan paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah diharapkan mengatasi depresiasi nilai tukar dan defisit neraca berjalan saat ini.

Berikutnya, indeks BEI masih melanjutkan tren pelemahan lantaran belum pulihnya nilai tukar rupiah dan menanti kabar soal tappering off. Perdagangan kemarin, saham komoditas paling banyak dilepas investor, sektor agrikultur anjlok lebih dari tiga persen. Aksi jual ini dilakukan baik investor lokal dan asing. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 95.182 kali pada volume 5,105 miliar lembar saham senilai Rp 6,565 triliun. Sebanyak 66 saham naik, sisanya 184 saham turun, dan 95 saham stagnan.

Transaksi melompat cukup tinggi setara dengan rata-rata harian tahun ini gara-gara transaksi saham PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk (TBIG) senilai Rp 1,5 triliun di pasar negosiasi. Transaksi ini difasilitasi oleh dua broker, Indo Premier (PD) dan Mahakarya Artha. Pergerakan yang suram bagi bursa-bursa regional di awal pekan ini, seharian terjebak tak berdaya di zona merah. Bursa saham Jepang memimpin pelemahan dengan jatuh 1,6%.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Gowa Makassar (GMTD) naik Rp 1.200 ke Rp 6.200, Akbar Indo (AIMS) naik Rp 220 ke Rp 1.220, Matahari (LPPF) naik Rp 100 ke Rp 11.000, Asahimas (AMFG) naik Rp 100 ke Rp 6.900. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 1.900 ke Rp 60.000, Mandom (TCID) turun Rp 1.500 ke Rp 10.500, Astra Agro (AALI) turun Rp 1.250 ke Rp 22.550, dan Gudang Garam (GGRM) turun Rp 800 ke Rp 38.600.

Menutup perdagangan sesi pertama, indeks BEI masih ditutup melemah 37,246 poin (0,89%) ke level 4.137,584. Sementara Indeks LQ45 anjlok 7,000 poin (1,01%) ke level 684,513. Hanya sektor industri di lantai bursa yang bisa menguat, sembilan sektor lainnya kompak melemah terkena aksi ambil untung. Saham-saham unggulan memimpin pelemahan.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 58.340 kali pada volume 1,850 miliar lembar saham senilai Rp 1,66 triliun. Sebanyak 73 saham naik, sisanya 120 saham turun, dan 95 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia masih kompak melemah di teritori negatif hingga sesi pertama. Bursa saham China dan Jepang malah jatuh lebih dari satu persen. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Akbar Indo (AIMS) naik Rp 220 ke Rp 1.220, XL Axiata (EXCL) naik Rp 100 ke Rp 5.050, Bank Mayapada (MAYA) naik Rp 60 ke Rp 1.870, dan Tower Bersama (TBIG) naik Rp 50 ke Rp 5.900.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Astra Agro (AALI) turun Rp 850 ke Rp 22.950, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 800 ke Rp 38.600, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 500 ke Rp 27.400, dan Bukit Asam (PTBA) turun Rp 400 ke Rp 11.250.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 17,07 poin atau 0,41% ke posisi 4.157,76, sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 4,38 poin (0,63%) ke level 687,13. Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan bahwa sentimen "tappering off" The Fed menjelang rapat FOMC pekan ini masih menjadi penghalang laju bursa saham domestik untuk dapat menguat,”Pelaku pasar lebih memilih untuk menahan diri dengan kecenderungan mengambil posisi jual saham sehingga laju bursa saham masih di area negatif," katanya.

Dia menambahkan, meski berita aksi korporasi untuk 2014 mendatang cukup optimis terkait peningkatan dengan belanja modal (capex) untuk ekspansi, masih kurang mampu memberikan sentimen positif pada IHSG BEI. Dimana laju IHSG semakin menunjukkan pelemahannya seiring maraknya aksi jual. Belum adanya tanda-tanda kebangkitan membuat IHSG terperangkap dalam negatif.

Tercatat bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 108,81 poin (0,47%) ke level 23.137,15, indeks Nikkei-225 turun 73,14 poin (0,47%) ke level 15.329,97 dan Straits Times melemah 5,29 poin (0,17%) ke posisi 3.060,73. (bani)

Related posts