Perusahaan Lokal Diharapkan Ikut Bangun Pelabuhan Cilamaya - Antisipasi Kepadatan Arus Barang di Tanjung Priok

NERACA

Jakarta - Saat ini pemerintah akan memberikan peran kepada perusahaan lokal atau pelayaran nasional untuk berinvestasi dalam pembangunan Pelabuhan Cilamaya di Karawang, Jawa Barat. Menurut Dirjen Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Capt Bobby R Mamahit tujuan utama pembangunan pelabuhan itu dilakukan sebagai antisipasi kepadatan arus barang di Pelabuhan Utama Tanjung Priok.

"Selama ini kita juga mengharapkan agar perusahan nasional mengambil peran. Dan kita akan mendukung jika perusahan pelayaran kita mau ikut berinvestasi dalam pembangunan di Cilamaya. Kita harapkan dengan adanya sentuhan pihak lokal pembangunan pelabuhan tersebut lebih maju," kata Bobby di Jakarta, Jakarta, Senin (16/12).

Selain Cilamaya, katanya, pemerintah juga mengembangkan pelabuhan eksisting sebagai hub port domestik, di antaranya, Bitung, Makasar, Sorong, Surabaya, dan Tanjung Mas Semarang. Pengembangan pelabuhan dilakukan ke kawasan Timur, sebagai hub port, sehingga kapal pengangkut barang ke kawasan timur bisa langsung ke lokasi dan tidak perlu ke Priok.

Pengembangan pelabuhan secara menyeluruh memerlukan biaya besar dan pemerintah tentunya akan menggandeng swasta. Karena, sampai 2030 arus petikemas di sejunmlah pelabuhan utama meningkat tajam. Misalnya Priok dipridiksi mnencapai 21,24 juta TEUs.

Tingkat pertumbuhan itu, kata Bobby, akan diikuti pelabuhan utama lainnya. Dia bahkan memproyeksikan, kebutuhan investasi pengembangan pelabuhan di luar Cilamaya hingga 15 tahun kedepan mencapai US$ 47 juta.

Proyeksi itu menjadi salah satu dasar Surat Keputusan Menteri Perhubungan No. KP.414 Tahun 2013 tentang Rencana Induk Pelabuhan Nasional. Dasarnya, kata dia, lajunya proyeksi trafik petikemas di sejumlah pelabuhan utama di Indonesia. "Cilamaya harus dimulai dari sekarang, karena dalam lima tahun, ketika Priok sudah penuh, bisa bergeser ke Cilamaya. Lokasi baru itu dinilai strategis dan pengurai kemacetan di Jakarta," katanya.

Selain Tanjung Priok, tingkat pertumbuhan menonjol juga akan terjadi di Tanjung Perak 9,44 juta TEUs, Pelabuhan Belawan 4,81 juta TEUs, Pelabuhan Tanjung Emas 3,11 juta TEUs, dan Pelabuhan Makassar 2,47 juta TEUs. "Kita tidak bisa diam, kita harus berbuat, karena tingkat pertumbuhan tinggi. Antisipasi itu juga dilakukan terhjadap Kalibaru di Priok, yang saat inbi sudah over capacity," kata dia.

Sementara itu, Ketua Komite Tetap Pelaku dan Penyedia Jasa Logistik Kadin Indonesia Irwan A Hasman mendesak Pemerintah lebih serius melakukan pembenahan terhadap pelabuhan Tanjung Priok sebab para pemilik barang sangat dirugikan dengan lama waktu bongkar muat di pelabuhan tersebut yang mengakibatkan melonjaknya biaya logistik.

"Saat ini, beberapa lokasi bongkar muat di pelabuhan Tanjung Priok atau yang biasa disebut Jalur Merah, Jalur Hijau, dan Jalur Kuning belum berjalan sebagaimana yang menjadi harapan dunia usaha," katanya.

Dijelaskannya waktu tunggu Jalur Merah seharusnya bisa ditekan dari sekarang 1 bulan menjadi 1 pekan. Jalur hijau bisa ditekan menjadi 2 hari dari kondisi sekarang 3-4 hari, sedangkan jalur kuning bisa ditekan menjadi 3 hari dari kondisi sekarang mencapai 7 hari.

Membuka Tender

Sebelumnya, Direktur Pelabuhan dan Pengerukan Dirtektorat Jenderal Perhubung Laut Kemal Haryandri mengatakan membuka peluang kepada investor swasta nasional menggarap untuk menggarap empat Pelabuhan kecil di bawah Unit Pelayanan Teknis (UPT) yang siap ditender bulan Maret 2014 guna meningkatkan potensi komersial.

“Tender dibuka untuk empat pelabuhan UPT yang berpotensi menjadi komersial karena sudah banyak diminati oleh swasta. empat pelabuhan yang dimaksud adalah Garongkong, Probolinggo, Bau-bau, dan Maloy. Keempatnya memiliki potensi cukup besar untuk menjadi pelabuhan komersial berhubung sejumlah pihak swasta tertarik untuk berlabuh di sana," katanya.

Diungkapkan, proses studi kelayakan (feasibility study) atas empat pelabuhan tersebut sudah selesai dilaksanakan, dan tinggal menawarkan pada investor pada Maret 2014. Diperkirakan, setiap pelabuhan membutuhkan dana sekitar Rp 300 miliar untuk pengembangannya. Karena itu, para investor swasta dalam negeri dinilai cukup mampu untuk ikut mengembangkan ke empat pelabuhan tersebut tanpa perlu melibatkan pihak asing.

Dalam skema pengembangan pelabuhan, lanjutnya, para investor diminta untuk memperbesar pelabuhan dengan berbagai cara termasuk memperpanjang dermaga sehingga bisa dipergunakan oleh kapal break bulk juga memperbesar wilayah open storage.

Disisi lain, Menteri Perindustrian MS. Hidayat mengatakan bahwa pembangunan pelabuhan Cilamaya sudah harus dipercepat, karena dibutuhkan untuk jalur logistik menggatikan kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. "Mengenai kemacetan yg sangat tinggi membuat logistic costnya terlalu tinggi, jadi satu-satunya jalan membuat port baru di Cilamaya, Pak Hatta tadi ngepush itu jadi prioritas," ujar Hidayat.

Menurut Hidayat dalam pembangunan pelabuhan tersebut sudah banyak para investor yang siap mendanainya, karena demi kepentingan bisnis mereka juga, terutama para investor yang bergerak dibidang otomotif, produksi komponen otomotif, kemudian elektronik, IT, dan bidang produksi mesin.

Related posts