Pemerintah Jangan Panik

Ketika menghadapi gejolak finansial terutama dampak keputusan rapat dewan gubernur bank sentral Amerika Serikat (The Fed) pekan ini soal pengurangan stimulus (tapering off), yang tentunya berpotensi memicu capital outflow dari sejumlah negara berkembang termasuk Indonesia. Ini yang dikhawatirkan menimbulkan destabilisasi yang lebih besar. Arus modal keluar bisa lebih besar. Dana jangka pendek yang easy come easy go akan terbang dalam sekejap pulang kampung ke AS.

Adalah yang perlu diwaspadai pelemahan nilai rupiah yang bisa jadi bergerak lebih liar. Kendati upaya stabilisasi ekonomi sudah dilakukan melalui kenaikan bunga BI Rate, yang sudah naik 175 basis poin sejak Juni 2013 (5,75%) menjadi 7,5% dan bertahan tetap pada bulan ini, setidaknya mampu menahan dana investasi portofolio asing yang ditanamkan di deposito dan berbagai instrumen surat berharga. Tingkat bunga surat utang negara (SUN) dan swasta diharapkan tetap memberikan imbal hasil yang menarik.

Artinya, tingkat bunga simpanan yang tinggi diharapkan mampu mengurangi uang beredar sekaligus mengurangi permintaan terhadap barang. Impor dan laju inflasi diharapkan turun. Dengan kebijakan stabilisasi, laju pertumbuhan ekonomi tidak lagi sekencang target awal, yakni kurang dari 6% tahun ini dan 6% pada 2014.

Namun dengan berbagai kebijakan stabilisasi, terutama kenaikan BI Rate dan loan to value (LTV) untuk kredit properti, laju pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan sekitar 5,5-5,9% dan tahun 2014 sekitar 5,8-6,2%. Laju pertumbuhan ekonomi tidak dikorbankan, melainkan hanya diperlambat. Karena bila dikorbankan, sejumlah target pemerintah yang lain tidak akan bisa tercapai.

Selain itu, beberapa indikator ekonomi terlihat kurang menggembirakan seperti pelemahan nilai tukar rupiah, inflasi Desember, cadangan devisa, pembengkakan jumlah subsidi BBM, dan membesarnya defisit transaksi berjalan. Wajar jika Presiden SBY patut memperhatikan perkembangan ini.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini cenderung terus melemah, bahkan beberapa hari terakhir diperdagangkan di kisaran Rp 12.000- Rp 13.000 per US$, jauh di atas proyeksi APBN yang hanya Rp 9.600. Sudah pasti semua pihak mencemaskan nilai rupiah belum menggembirakan hingga tahun depan, akibat pengaruh faktor eksternal maupun internal. Bahkan, bila terjadi guncangan psikologis yang mendorong ketidakpercayaan masyarakat kepada otoritas moneter, laju depresiasi rupiah bisa makin cepat.

Di sisi lain, suku bunga bank baik untuk pinjaman maupun simpanan terus merambat naik menyusul kenaikan BI Rate yang konon akan naik lagi pada 2014. Tujuan kenaikan suku bunga acuan untuk meredam depresiasi rupiah, ternyata nilai rupiah justeru terus melemah bahkan pelemahan rupiah terhadap mata uang AS itu sudah mencapai 25%.

Kondisi inilah yang membuat pengusaha sekarang mulai resah serta pemerintah dan BI terlihat agak panik. Jika rupiah melemah hingga menembus level Rp 13.000, pergerakan mata uang kita akan kian tak terkendali. Banyak ruginya bagi Indonesia bila nilai rupiah makin terdepresiasi tajam terhadap dolar AS.

Dampaknya terhadap korporasi, beban bunga dan cicilan pokok utang luar negeri akan semakin membengkak akibat selisih kurs. Nasabah bank akan menjerit karena kewajiban angsuran kreditnya membengkak. Bunga tinggi dan rupiah yang kelewat rapuh tentu mengingatkan pelaku usaha akan krisis 1997/98. Kelompok usaha mikro, kecil dan menengah (UKM) pasti kalang kabut, mereka sangat rentan terhadap kenaikan bunga kredit.

Ke depan, industri manufaktur harus dibangun di luar Jawa, di dekat sumber energi. Apa pun yang dibuat untuk jangka menengah dan panjang, ekonomi Indonesia dalam janga pendek harus diselamatkan. Meski pelemahan rupiah selama ini lebih disebabkan oleh faktor struktural, yang perbaikannya memakan waktu, nilai rupiah dalam jangka pendek harus dibawa ke level yang sudah ditargetkan aman oleh pemerintah.

Related posts