Kementan Dukung Pengembangan Bahan Bakar Nabati

NERACA

Sukabumi - Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengatakan Kementerian Pertanian (Kementan) mendukung pengembangan bahan bakar nabati (BBN) sesuai Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2006, yaitu dengan menyediakan tanaman sumber bahan bakar tersebut.

"Sesuai dengan amanat Inpres Nomor 1/2006 ini, kami siap mendukung pengembangan BBN," ujarnya, dalam pertemuan lapangan pemanfaatan Kemiri Sunan sebagai sumber BBN di Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegaran Kementan Parung Kuda, Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (14/12) pekan lalu.

Rusman menyebutkan berkaitan dengan kebijakan penyediaan energi nasional, pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan. Salah satu yang penting adalah mengurangi impor solar sebesar 100 ribu barel per hari melalui subtitusi dengan biodisel atau 5,6 juta kiloliter per tahun.

"Jumlah tersebut setara dengan 30% total ekspor CPO," tambahnya.

Dia mengatakan Kementan dalam pengembangan tanaman penghasil bioenergi, menggunakan simulasi sistem modeling. Dalam konseptualisasi sistem penyediaan bahan baku bioenergi berkelanjutan, lanjut Rusman, input lingkungan, input terkontrol, input tidak terkontrol menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan untuk hasil yang diharapkan.

Rusman mengatakan kebijakan Kementan dalam menyediakan bahan baku bioenergi dikelompokkan menjadi tiga yaitu pertama kebijakan jangka pendek.

"Kebijakan jangka pendek yaitu pengembangan atau intensifikasi komoditas yang sudah ditanam secara luas, antara lain kelapa sawit, kelapa, tebu, sagu dan ubi kayu," terangnya.

Selanjutnya kebijakan jangka menemgah yaitu pengkajian dan pengembangan komoditas potensial dan penghasilan bioenergi antara lain Kemiri Snan, Jarak Pagar, Nyamplung, Aren dan nipah.

Kelompok ketiga yaitu kebijakan jangka panjang berupa pemanfaatan biomassa limbah pertanian (generasi kedua). "Penyediaan bahan baku jangka pendek untuk biodiesel sumber utamanya adalah CPO, di mana produksinya dianggap mencukupi untuk memenuhi kebutuhan," kata dia.

Saat ini, produksi biodiesel mengandalkan CPO. Sementara itu, untuk bioetanol sumber yang sangat memungkinkan adalah memanfaatkan hasil samping industri tebu yaitu molases.

Selain itu, juga ada ubi kayu tapi memerlukan penambahan areal tanam, sedangkan sagu juga berpotensi menjadi sumber penghasil bioetanol tapi diperlukan dukungan infrastruktur untuk meningkatkan aksebilitas produk dan wilayah.

"Untuk kebijakan jangka menengah difokuskan pada pengembangan komoditas potensial penghasil BBN terutam yang tidak bersaing dengan pangan," kata Rusman.

Dia juga menyebutkan saat ini komoditas potensial yang paling menonjol adalah Kemiri Sunan. Tanaman tersebut mulai berproduksi pada umur empat tahun dan delapan tahun produksi biji mencapai 15 ton atau ekuivalen dengan enam hingga delapan ton biodiesel per hektare per tahun.

Kemiri Sunan juga dapat dikembangkan di lahan suboptimal. Dapat dikembangkan sebagai tanaman konservasi dan reklamasi lahan bekas tambang.

"Namun pengembangan komoditas ini perlu dukungan kepasian harga dan pasar agar tidak mengulangi kegagalan Jarak Pagar," paparnya.

Rusman menambahkan kebijakan Kementan dalam mendukung penyediaan bahan baku bioenergi sangat memerlukan dukungan sektor lain sehingga beberapa masalah terkait perlu dipecahkan yaitu ketersediaan lahan untuk mendukung pengembangan perkebunan energi terintegrasi, jaminan pasar dan harga ekonomi bahan baku BBN. "Juga perlu intensif lain untuk mendukung pengembangan dan pengembangan industri pengolahan BBN skala pedesaan untuk mendukung Desa Mandiri Energi," tandas dia. [ant/ardi]

Related posts