Muamalat Dikucuri SMF Rp520 Miliar - Pembiayaan Ritel Hunian

NERACA

Jakarta - PT Bank Muamalat Tbk menandatangani kontrak pendanaan baru dengan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) Persero senilai Rp520 miliar. Sejumlah dana itu akan dialokasikan untuk menyalurkan pembiayaan retail jenis hunian. Pasalnya, pendanaan untuk hunian dinilai masih akan tumbuh di 2014. “Bank Muamalat kembali menandatangani naskah kerja sama dengan SMF dengan sistem bagi hasil senilai Rp520 miliar. Imbal hasilnya akan terbagi menjadi 82,42% untuk SMF dan 17,58% untuk Bank Muamalat. Sejumlah yang tersebut akan digunakan untuk pembiayaan retail hunian pada tahun depan,” kata Direktur Korporasi Bank Muamalat, Luluk Mahfudah di Jakarta, Jumat (13/12) pekan lalu.

Dalam mekanisme kerja, kata dia, sejumlah uang tersebut akan dikelola oleh Bank Muamalat sebagai penyelenggara. Sedangkan SMF sebagai pihak penyedia dana memiliki hak untuk menentukan arah saluran dana tersebut.”Pada kesempatan kali ini KPR Muamalat dipilih oleh SMF karena dianggap sektor yang masih menjanjikan untuk tahun depan,” tambah Luluk. Hingga kuartal III 2013, KPR Muamalat telah berkontribusi sebesar 53,73% atau senilai Rp7,2 triliun dari total pembiayaan ritel Bank Muamalat sebesar Rp13,4 triliun. Pertumbuhan KPR Muamalat sendiri mencapai 67% dari September 2012 ke September 2013. Adapun total pembiayaan pionir perbankan syariah pertama di Indonesia ini tercatat sebesar Rp39,58 triliun.

“KPR Muamalat sendiri memiliki plafon minimal Rp100 juta. Di pasaran produk ini juga cukup laris terjula mengingat kita memberikan dua alternative transaksi bagi nasabah. Pertama, sistem kongsi untuk kepemilikan properti baru, second, maupun take over dari Bank sebelumnya. Kedua, sistem jual beli dapat diterapkan untu pembelian properti secara indent dan renovasi,” terang Luluk.

Pada kesempatan yang sama Direktur Utama SMF Raharjo Adisusanto mengatakan pertumbuhan bisnis retail properti pada 2014 juga masih terbilang tinggi. Mengingat kebutuhan masyarakat terhadap kebutuhan masyarakat terhadap perumahan yang terus tumbuh. Hal ini terlihat dari prediksi pertumbuhan penduduk di Indonesia pada tahun depan akan meningkat sebanyak 1,4% atau sekitar 3,75 juta jiwa. “Dengan asumsi jika satu rumah dihuni oleh empat orang maka masih dibutuhkan 800 ribu-900 ribu rumah per tahun. Angka ini sangat potensial untuk menopang pertumbuhan perusahaan. Bahkan bisa terus berlanjut hingga beberapa tahun ke depan,” ungkap Raharjo.

Dia pun mengakui dengan ditandatanganinya perjanjian pendanaan baru itu maka SMF telah melakukan refinancing pembiayaan hunian syariah kepada dengan bank syariah di Indonesia senilai Rp2.419 miliar. Semuanya disalurkan untuk plafon debitur maksimal Rp500 juta. “Sejauh ini kita memang memberi prioritas kepada golongan masyarakat kelas menengah ke bawah. Dengan begitu bisnis kita juga tidak terkendala dengan kebijakan-kebijakan perlambatan pertumbuhan seperti LTV (loan to value). Jadi untuk ke depannya kami masih akan terus agresif di bisnis pendanaan hunian,” tukas Raharjo. [lulus]

Related posts