2014, UMKM Jadi Fokus Perbankan Syariah - Ingin Menyasar Wilayah Terpencil

NERACA

Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator industri keuangan mengimbau agar perbankan syariah lebih fokus ke pembiayaan kredit kepada sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pada 2014. Pasalnya, mayoritas debitur perbankan syariah berasal dari UMKM sehingga pasar mereka dinilai lebih strategis untuk mendorong pertumbuhan perbankan syariah.

“Selama ini mayoritas debitur perbankan syariah banyak dari kalangan UMKM. Hingga Juni 2013, 60,63% debiturnya dari sektor tersebut. Sementara dari sektor non-UMKM hanya sebesar 39,37%. Hal itu menandakan bahwa perbankan syariah memiliki komitmen dan peluang yang lebih besar di sektor tersebut,” kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan sekaligus Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Muliaman Darmansyah Hadad di Jakarta, Jumat (13/12) pekan lalu.

Dia juga menjelaskan, orientasi pembiayaan dalam perbankan syariah sendiri masih didominasi untuk kredit konsumtif sebesar 44,56%. Sementara sektor pembiayaan untuk modal kerja sebesar 37,17% serta kedit investasi hanya sebesar 18,27%.

“Dengan komposisi tersebut perbankan syariah masih didominasi oleh pembiayaan dengan tenor (jangka waktu) pendek. Sehingga dapat terlihat pertumbuhan pembiayaan kredit konsumtif memang mengalami peningkatan yang jauh lebih tinggi dibanding kredit investasi dan kredit modal kerja. Namun dari kredit konsmsi itu sendiri memang banyak disalurkan ke sektor UMKM,” terangnya.

Mengenai mekanisme pembiayaan, Muliaman mendorong perbankan syariah agar masuk ke wilayah-wilayah yang paling terpencil. Sebab, banyak juga pelaku UMKM di wilayah-wilayah tersebut yang kurang tersentuh akses perbankan, termasuk perbankan syariah.

“Perbankan syiariah harus bisa menembus sektor UMKM di hingga di wilayah terpencil. Caranya bisa bekerjasama atau memanfaatkan lembaga keuangan mikro (LKM) di daerah-daerah. Atau dengan memperluas kantor cabang,” tandasnya.

Pengembangan LKM Syariah

Tak hanya itu. Muliaman juga mengatakan pengembangan sektor keuangan syariah pada 2014 akan lebih terfokus pada upaya meningkatkan peran Lembaga Keuangan Mikro (LKM) berbasis syariah. Hal ini dinilai sebagai ujung tombak bagi berkembangnya keuangan syariah.

Menurut dia, LKM Syariah dinilai mampu untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap industri keuangan secara lebih luas. Oleh sebab itu, OJK akan lebih mengedepankan pengembangan LKM syariah, terutama di daerah-daerah yang terpelosok.

Kemampuan LKM dalam menjangkau masyarakat kelas bawah menjadi modal besar terhadap pengebangan industri keuangan. Dengan demikian, konsentrasi OJK di 2014 yakni pada pengembangan variasi produk syariah. “Tahun 2014 kita akan bangun mekanisme atau skema pengembangan syariah, serta perluasan jaringan,” tukasnya. Sementara itu, dalam mendukung rencana OJK dalam mengembangkan LKM Syariah, saat ini OJK sendiri tengah merumuskan berbagai kajian dalam membangun konsepsi LKM Syariah.

Industri berlabel halal

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal MES, Muhammad Syakir Sula, mengungkapkan industri berlabel halal kian menjanjikan pada tahun depan. Hal ini semestinya dapat dimanfaatkan perbankan syariah untuk menghimpun atau menyalurkan dana. Pasalnya, jangan sampai industri yang harusnya direbut oleh pasar syariah justru diraih oleh perbankan konvensional.

“Nilai produksi makanan halal di wilayah Asia bisa mencapai US$400 miliar per tahun. Hal tersebut disebabkan karena mayoritas umat Islam ada di benua Asia, yaitu sebanyak 61,7%,” tutur Syakir. Bahkan industri fesyen muslimah seperti jilbab dan gamis juga akan terus berkembang di 2014. Terlebih industri jilbab juga mulai melakukan banyak inovasi terhadap desainnya.

“Perlu diketahui dalam satu pameran jilbab saja bisa ada transaksi hingga Rp3 miliar dalam empat hari. Belum lagi penjualan jilbab secara online atau melalui toko fisik. Potensi ini harusnya dapat dimanfaatkan oleh perbankan syariah dan jangan sampai justru perbankan konvensional yang menguasainya,” tukar Syakir Sula. [lulus]

Related posts