Indo Straits Bidik Kontrak US$20 Juta

NERACA

Jakarta- Sebagai langkah mengantisipasi volatilitas harga jual batu bara, PT Indo Straits Tbk (PTIS) akan menggenjot pendapatan dari bisnis utamanya, konstruksi minyak dan gas bumi (usaha jasa perekayasaan kelautan). Saat ini perseroan mengaku sedang menjajaki kontrak baru di sektor tersebut. “Kita punya pipeline sebesar US$20 juta untuk oil and gas. Saat ini kita sedang ikut tendernya,” kata Komisaris PT Indo Straits Tbk, Dwi Suseno di Jakarta, pekan kemarin.

Dengan perolehan kontrak tersebut, kata dia, pihaknya berharap dapat mengejar pertumbuhan pendapatan di tahun depan yang ditargetkan sebesar US$ 40 juta dari proyeksi tahun ini sebesar US$37 juta. Sementara hingga saat ini perseroan telah mengantongi kontrak baru US$ 48,7 juta. Dari total nilai kontrak tersebut, sekitar US$22,8 juta akan dibukukan sebagai pendapatan hingga akhir tahun ini, sedang sisanya akan dibukukan untuk tahun 2014. “US$48,73 juta pada tahun ini, dan sisanya US$25,98 juta untuk 2014," jelasnya.

Namun, di sisa akhir tahun ini pihaknya memproyeksikan hanya akan dapat memperoleh pendapatan sebesar Rp37,65 juta, turun sekitar 16% dari pendapatan tahun lalu sebesar US$44,93 juta. Hal tersebut ditengarai karena belum pulihnya harga komoditas batu bara global. Sementara lebih dari 70% pendapatan perseroan dihasilkan dari bisnis jasa angkut logistik di bidang pengangkutan batu bara.

Hingga kuartal ketiga tahun ini saja, kata dia, pendapatan perseroan tercatat mengalami penurunan hingga 12,14% menjadi US$28,56 juta. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu perseroan dapat mencatatkan pendapatan sebesar US$ 32,51 juta. “Pendapatan dari bisnis jasa angkut di kuartal tiga turun 20,44% menjadi 21,21 juta. Diperkirakan, tahun ini pendapatan kita turun sekitar 16%, menjadi US$37,65 juta,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pihaknya pun memproyeksikan, laba bersih perseroan juga mengalami penurunan sebesar 1,96%, menjadi US$4 juta dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,08 juta. Tercatat, hingga kuartal ketiga 2013, laba bersih yang dicatatkan emiten penyedia jasa loistik kelautan ini sebesar US$3,16 juta.

Meski demikian, dia menegaskan, pihaknya akan berupaya untuk menekan utang perseroan sehingga pengembangan usaha yang dilakukan perseroan menjadi lebih mudah. Salah satunya, melakukan pembayaran utang kepada PT Bank Permata Tbk (BNLI) sebesar US$12,8 juta. Dengan begitu, total utang perseroan berkurang menjadi 28,82 juta dari posisi utang tahun lalu yang mencapai US$ 31,8 juta. “Pembayarannya dilakukan secara bertahap. Dengan begitu, sisa utang kami di akhir tahun depan menjadi US$ 15,92 juta,” imbuhnya.

BERITA TERKAIT

Kembangkan Inftastruktur dan SDM - Rifan Financindo Bidik Transaksi 1,5 Juta Lot

NERACA Jakarta – Sukses mencatatkan performance kinerja yang positif di tahun 2018 kemarin, menjadi alasan bagi PT Rifan Financindo Berjangka…

Nusa Raya Incar Kontrak Baru Rp 3,5 Triliun

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) perusahaan jasa konstruksi swasta di Indonesia menargetkan kontrak baru…

Waskita Targetkan Kontrak Baru Rp 55 Triliun

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) menargetkan total kontrak baru sekitar Rp55 triliun,”Total kontrak baru…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Anak Usaha BUMN Bakal IPO di 2019

Menyadari masih sedikitnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang go public atau tercatat di pasar modal, mendorong Kementerian Badan…

Impack Pratama Beri Pinjaman Anak Usaha

Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melakukan perjanjian hutang piutang dengan anak usahanya PT Impack…

Layani Pasien BPJS Kesehatan - Siloam Tambah Tujuh Rumah Sakit Baru

NERACA Jakarta – Tidak hanya sekedar mencari bisnis semata di industri health care, PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) terus…