Perdagangan Saham Syariah Belum Maksimal

NERACA

Jakarta- Perdagangan saham syariah yang cukup besar nyatanya belum banyak disadari masyarakat. Hal tersebut diungkapkan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang juga Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Muliaman D Hadad. “Perlu kita sosialisasikan lagi karena saham syariah, sukuk syariah, baik itu pemerintah dan swasta mestinya bisa diperdagangkan,” katanya di Jakarta, pekan kemarin.

Menurut dia, banyak masyarakat yang belum sadar bahwa jumlah perdagangan saham syariah cukup besar. Padahal, kapitalisasi saham syariah dapat mencapai Rp3.000 triliun atau setengah dari jumlah seluruh perdagangan saham. Karena itu, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi instrumen keuangan syariah karena banyak potensi nilai perdagangan syariah yang masih belum tergali lebih lanjut.

Dalam pengembangan keuangan syariah tersebut, kata dia, diharapkan dapat menyasar kelompok menengah yang jumlahnya terus mengalami peningkatan. Karena saat ini, mereka tidak hanya melihat lembaga keuangan syariah di sektor perbankan, namun juga sudah tertarik dengan asuransi dan saham syariah.

Di lain pihak, Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia, Friderica Widyasari Dewi mengakui, sejauh ini jumlah investor Indonesia masih terbilang sangat minim dibandingkan jumlah penduduk yang ada. Pasalnya, pasar modal di Indonesia masih terbatas pada segmentasi tertentu. “Sub rekening di KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) sekitar 405 ribu, reksa dana 500 ribu. Ditambah sukuk ritel, ORI dan sebagainya masih sekitar satu juta.” ungkapnya.

Angka tersebut tentunya, kata dia, masih sedikit dibandingkan kelas menengah. Bahkan, kurang dari 1% jumlah penduduk Indonesia, dan tidak dapat dibandingkan secara apple to apple dengan Singapura dan Malaysia. Oleh karena itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi dan edukasi di tengah-tengah masyarakat terkait investasi dan produk pasar modal sehingga investor domestik di pasar modal semakin meningkat.

Dengan begitu, sambung dia, pasar modal Indonesia pun akan lebih siap jika terjadi keluarnya dana asing (capital outflow) seperti yang terjadi saat ini akibat adanya pengurangan stimulus The Fed. Salah satunya, yaitu dengan meningkatkan kinerja pasar modal syariah.

Pihaknya mencatat, perdagangan saham syariah terus berkembang dan mengalami pertumbuhan secara positif. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) maupun Jakarta Islamic Index (JII), masing-masing bertumbuh sebesar 24,8% dan 21,3% dibanding triwulan kedua 2012. Dari total 483 jumlah saham di pasar modal pun, ada sebanyak 313 saham yang sudah masuk dalam kategori syariah. “Dulu tahun 2007, jumlahnya baru 200 saham. Ada peningkatan 100 emiten lebih,” ujarnya.

Meski demikian, kata dia, produk investasi berbasis syariah saat ini masih minim. Oleh karena itu, pihaknya akan mendorong perusahaan manajer investasi untuk menerbitkan instrumen investasi berbasis syariah. “Produk syariah masih minim, yang tercatat di bursa hanya ETF (exchange trade fund) syariah. Ke depan kami fokus sosialisasi dulu,” imbuhnya. (lia)

Related posts