Kemendag Tuding Pedagang Raup Untung Besar - Harga Daging Tinggi

NERACA

Jakarta - Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menuding para pedagang daging mengambil untung lebih besar. Pasalnya menjelang datangnya natal dan tahun baru, para pedagang kerap menaikkan harga. "Jadi selalu kejadian seperti ini karena terjadi peningkatan permintaan dan pedagang mencoba untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar," ungkap Bayu di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Saat ini, harga karkas (daging plus tulang) di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) telah mengalami kenaikan. Para pedagang sapi mengaku, kenaikan harga mencapai Rp3.000/kg. Harga daging karkas kini Rp 68.000/kg dari posisi semula Rp 65.000/kg. Kenaikan harga karkas ini yang menjadi pemicu kenaikan harga daging sapi di pasar tradisional.

Menurut Bayu, pasokan daging menjelang Natal dan Tahun Baru melimpah. Pasalnya pada September 2013, Kementerian Perdagangan kembali mengeluarkan izin impor sapi bakalan sebanyak 100.000 ekor dengan tujuan digemukan di dalam negeri.

Terhitung hingga minggu kedua bulan Oktober 2013, sapi impor yang telah datang ke Indonesia adalah sebanyak 22.554 ekor yang terdiri dari 6.500 sapi siap potong dan 16.054 ekor sapi bakalan. Sedangkan hingga akhir bulan Oktober jumlah kedatangan sapi akan meningkat menjadi 24.859 ekor sapi bakalan dan 26.250 ekor sapi siap potong.

Untuk bulan November 2013, alokasi sisa sapi bakalan sebanyak 46.231 juga telah didatangkan. Kedatangan puluhan ribu ekor sapi ini ditujukan untuk menurunkan harga rata-rata daging sapi yang cukup tinggi di tingkat eceran.

Pembebasan kuota impor sapi sudah sesuai dengan Permendag Nomor 46/M-DAG/KEP/8/2013 Tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Hewan serta Produk Hewan dimana mekanisme impor sapi baik bakalan maupun sapi siap potong menggunakan harga referensi (harga patokan) yaitu Rp 76.000/kg dan tidak akan menerapkan sistem kuota. "Jumlahnya nggak kurang untuk mencukupi Natal dan Tahun Baru. Sampai tahun baru jumlahnya cukup," imbuhnya.

Ada dugaan kenaikan harga daging sapi disebabkan melemahnya nilai tukar rupiah yang sudah mencapai Rp 12.000/US$. Pelemahan nilai tukar rupiah tidak saja berpengaruh terhadap harga daging, tetapi kedelai dan tepung terigu yang mayoritas kebutuhan masih impor. "Kedelai masih sulit karena rupiah kita sudah Rp 12.000/US$ termasuk daging sapi dan terigu," kata Bayu.

Sementara itu, pedagang daging sapi potong di Pasar Induk Cianjur mengeluhkan belum kunjung turunnya harga penjualan hingga saat ini. Kondisi itu berdampak terhadap tingkat penjualan yang mengalami penurunan.

Nanang misalnya. Dia mengaku, harga daging sapi saat ini masih berada di level Rp87 ribu-Rp90 ribu per kilogram. "Daging sapi seharga itu masih sangat mahal. Kondisi itu terjadi sejak Idul Fitri hingga kini. Akibatnya, jumlah pembeli daging sapi menurun," keluh Nanang.

Jika dilihat, memang harga daging sapi potong sejak Idul Fitri hingga saat ini terbilang relatif stabil, karena tidak ada pergerakan harga. Dia pun tak bisa memprediksi apakah harga akan naik menjelang Natal dan Tahun Baru 2014.

"Pendapatan dari penjualan daging sapi juga ikut menurun. Dulu sebelum ada kenaikan, saya bisa menjual hingga 30-50 kilogram per hari. Namun saat ini hanya mampu menjual sekitar 20 kilogram per hari. Biasanya yang paling banyak membeli itu pedagang bakso atau pemilik warung nasi. Sekarang mah mulai jarang," katanya.

Dion, pedagang daging sapi lainnya mengatakan, memasuki minggu ke dua Desember belum ada kenaikan harga daging sapi. Dia juga bingung dengan harga saat ini yang tak kunjung turun. "Kalau dikatakan stabil, ya stabil. Tapi kikatakan tinggi, ya memang tinggi," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Suswono juga sempat heran karena harga daging tak kunjung turun. Ia mengatakan ada oknum tertentu yang ingin mengambil keuntungan dari kondisi saat ini. Namun, pihaknya belum bisa menyebutkan oknum tersebut.

"Kami penasaran apa yang menyebabkan harga daging di pasar masih tinggi. Sepertinya ada pihak tertentu yang ingin mengambil keuntungan dari kondisi yang ada saat ini,” jelasnya.

Menurut Suswono, kenaikan harga beberapa kebutuhan pokok menjelang Lebaran masih bisa ditoleransi selama kenaikan tersebut masih dalam batas kewajaran. “Memang wajar kalau mendekati lebaran harga kebutuhan naik, hanya saja disini jangan keterlaluan naiknya, kasihan masyarakat,” katanya.

Related posts