Indonesia Fokus Sektor Jasa - Hadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

NERACA

Jakarta - Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, Indonesia akan fokus di sektor jasa. Pasalnya sektor tersebut menjadi penyumbang cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut dibuktikan dengan kontribusi sektor jasa menyumbang 50,31% dari total PDB ASEAN.

Direktur Perundingan Perdagangan Jasa Direktorat Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan, Sondang Anggraini dalam seminar standarisasi bidang perdagangan, akhir pekan kemarin mengatakan Indonesia akan turut meningkatkan kualitas di sektor jasa.

Sejauh ini, kontribusi ekspor jasa ASEAN mencapai 12% dari total PDB ASEAN 2011. Total perdagangan jasa intra ASEAN mencapai US$ 598 miliar, lebih kecil dibanding perdagangan jasa extra ASEAN yang mencapai US$ 1,79 triliun. Sedangkan, investasi jasa di ASEAN pada tahun yang sama mencapai US$ 12,2 juta dari total investasi. "Saat ini mulai dilakukan pembahasan enhancement of AFAS menjadi ASEAN trade ini service agreement," ujarnya.

Sektor jasa yang bakal menjadi primadona antara lain jasa logistik, E-ASEAN yakni computer dan related service dan jasa komunikasi. Selain itu, sektor pariwisata melalui agen travel, hotel, restoran, pemandu wisata, dan lainnya. Terakhir jasa kesehatan yang mencakup jasa rumah sakit, perawat dan lainnya.

Sondang mengaku, penyerapan tenaga kerja terbesar di sektor jasa Indonesia masih di bidang pertanian. Namun Indonesia memiliki unggulan jasa di sektor pariwisata, komunikasi dan kontruksi. "Hampir semua komponen jasa mencatat defisit kecuali jasa perjalanan, jasa komunikasi dan jasa pemerintah. Jasa konstruksi pada 2011 mulai menunjukkan surplus," jelasnya.

Indonesia dan beberapa negara ASEAN lain berkomitmen memprioritaskan peningkatan jasa kesehatan. Selama ini, jasa keperawatan untuk perawat asing profesional hanya diizinkan sebagai pelatih atau konsultan dan tidak dapat memberikan jasa keperawatan langsung kepada pasien.

Disisi lain, Dirjen Standardisasi dan Perlindungan Konsumen (SPK), Widodo mengatakan Indonesia belum optimal dalam menggali potensi pasar ekspor Asia Tenggara atau ASEAN. Ekspor non-migas Indonesia ke pasar ASEAN pada periode Januari-Agustus 2013 baru mencapai 23% dari nilai total ekspor atau sebesar US$22,7 juta. "Hal ini karena tujuan ekspor Indonesia masih terfokus pada pasar tradisional seperti Amerika Serikat, China dan Jepang," ujarnya.

Selain tujuan ekspor masih pasar tradisional, Widodo mengaku tingkat utilisasi preferensi tarif ASEAN yang digunakan Indonesia untuk penetrasi ke pasar ASEAN, baru mencapai 34,4%. Padahal, Asia diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi baru dengan dukungan pertumbuhan ekonomi India, China, dan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.

Berangkat dari kondisi itu, penting bagi pemerintah untuk mendorong peningkatan daya saing menghadapi pasar Bersama ASEAN 2015 atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Untuk bisa maksimal menggarap pasar ASEAN, pemerintah perlu memperhatikan standar produk dan jasa.

Dalam hal daya saing, Indonesia menurut global competitiveness index, berada di posisi ke 38 dari 148 negara di dunia. Jauh di bawah negara lain dalam satu kawasan semisal Malaysia dan Singapura yang menempati posisi ke 24 dan ke 2, Thailand dan Vietnam posisi ke 37 dan 70 dan Filipina posisi ke 59. "Ini menandakan daya saing produk Indonesia masing kalah dibandingkan Malaysia, Thailand dan Singapura," jelasnya.

Meski begitu dia yakin Indonesia memiliki kemampuan untuk bersaing. Oleh karena itu perlu dibangun bisnis yang kokoh, diperkuat kreativitas pelaku usaha untuk menciptakan produk dan jasa yang sanggup bersaing dengan produk negara lain.

Indonesia harus fokus pada 12 sektor prioritas yang dikembangkan dalam menghadapi pasar bebas ASEAN. Mulai dari elektronik, produk kesehatan, produk pertanian unggulan, produk berbasis karet, produk kayu, otomotif, tekstil, produk kelautan, perjalanan wisata hingga logistik. "Singapura, Jepang portensi masih besar mudah-mudahan dengan pembinaan dengan daya saing tinggi, meningkatkan pencapaian. Kalau pencapaian besar maka penyerapan tenaga kerja terjadi," jelasnya.

Daya Saing

Daya saing Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia dan Asia Tenggara. Sesungguhnya Indonesia memiliki daya saing yang cukup baik untuk bisa berkompetisi menjelang pasar bebas ASEAN atau ASEAN Economic Community 2015.

Kebijakan industrialisasi yang konsisten diyakini punya peran penting dalam membangun dan meningkatkan daya saing. Sama halnya dengan kebijakan moneter dan perbankan yang juga mendukung pertumbuhan industri dan jebakan liberalisasi dan globalisasi.

Indonesia punya keunggulan dari sisi komparatif atau sumber daya alam (SDA). Sebagai bagian dari pusat pertumbuhan ekonomi dunia sekaligus anggota G20, Indonesia punya peluang memanfaatkan keunggulan komparatif itu untuk berkompetisi.

"Bagaimana daya saing komparatif ini masuk ke global dengan daya saing kompetitif. Kalau komparatif saja hanya menggali, merusak lingkungan kita. Tantangannya adalah bagaimana membentuk daya saing komparatif menjadi kompetitif?," ujar Ketua Pembina ASEAN Competition Institute (ACI), Soy Martua Pardede.

Persaingan di pasar bebas ASEAN bakal sangat ketat dan tidak ditemui di regional lainnya semisal Eropa atau Amerika. Sehingga, mutlak untuk meningkatkan daya saing produk dalam negeri. "Saya cukup skeptis, open regionalism. Eropa dan Amerika itu closed," katanya.

Untuk pengusaha, tentu saja pasar bersama ini idealnya dipandang sebagai peluang. Agar tidak menjadi kambing hitam dan dianggap tidak siap, pengusaha perlu memandang pasar bebas sebagai peluang sekaligus tantangan yang perlu dijawab dengan hasil nyata. Pemerintah seharusnya tidak menyalahkan pengusaha dengan menyatakan mereka tidak siap menghadapi pasar bebas. "Dia lah yang menciptakan infrastruktur dan finansial," katanya.

Related posts