Pemerintah Mengklaim Indonesia Bakal Jadi High Income

NERACA

Denpasar – Pemerintah mengklaim Indonesia punya peluang besar untuk keluar dari middle income trap. Bahkan memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi negara berpendapat tinggi atau high income. Pasalnya, hingga saat ini Indonesia belum berada dalam jebakan tersebut.

“Indonesia saat ini Indonesia belum tergolong pada negara yang masuk ke dalam jebakan kelas menengah atau middle income trap. Sebab Indonesia belum sampai 42 tahun ada di level ini. Sedangkan negara yang terjebak umumnya sudah lebih dari 42 tahun dalam level itu,” kata Menteri Keuangan Chatib Basri, di Denpasar, Bali, Kamis (12/12).

Dia mengatakan, Indonesia pada saat ini masih berada dalam status sebagai negara kelas menengah dengan pendapatan per kapita sekitar US$5.170 sesuai standar harga internasional dalam PPP 1990. Indonesia juga telah mencapai prestasi tersebut sejak tahun 1990. Dengan demikian, kata Chatib, peluang Indonesia agar terhindar dari middle income trap masih cukup besar.

“Bahkan Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk naik kelas ke kelompok negara berpendapatan tinggi. Hal ini didasarkan pada beberapa faktor seperti adanya potensi ekonomi yang sangat besar baik berupa kekayaan alam maupun jumlah penduduk yang besar mencapai 250 juta orang. Bahkan secara demograsi struktur penduduk di Indonesia didominasi oleh kelompok produktif yang sangat menguntungkan bagi perekonomian nasional. Fenomena ini dikenal sebagai bonus demografi,” tutur Chatib.

Selain itu, Chatib menilai kinerja ekonomi makro Indonesia saat ini cukup baik. Namun dia mengaku tetap tidak mudah untuk melakukan lompatan dari kelompok kelas menengah kepada kelompok berpenghasilan tinggi. “Studi Bank Dunia bahkan menunjukkan bahwa negara yang terperangkap ke dalam jebakan kelas menengah jauh lebih banyak dibandingkan negara yang mampu naik kelas menjadi negara berpenghasilan tinggi,” tukasnya.

Kemudian, dirinya juga menjelaskan beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh Indonesia untuk bisa melakukan lompatan menjadi negara berpenghasilan tinggi. Secara eksternal beberapa tantangan tersebut adalah ketidakpastian global dan tingginya volatilitas harga minyak. Sementara dari sisi domestik mengenai perlambatan produktivitas ekonomi dan tren penurunan produksi minyak.“Masih tingginya angka kemiskinan dan pengangguran serta adanya peningkatan inequality juga masih perlu perhatian,” papar Chatib.

Dia pun memaparkan, beberapa strategi yang perlu dilakukan untuk naik kelas ke kelompok negara berpendapatan tinggi yaitu pertumbuhan ekonomi harusberkelanjutan sekaligus inklusif. Pertumbuhan ekonomi juga harus berkelanjutan. Serta didukung dengan meningkatnya produktivitas yang ditunjang oleh peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM).

“Pengelolaan SDA yang baik untuk penciptaan nilai tambah tinggi di dalam negeri. Pengembangan teknologi dan inovasi serta tentunya dengan tetap menjaga stabilitas ekonomi. Pendek kata, ada proses transformasi industrialisasi secara gradual harus ke arah industri berbasis nilai tambah tinggi,” tandasnya. [lulus]

Related posts