BI Menilai Pertumbuhan EKonomi Domestik Melambat

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai pertumbuhan ekonomi domestik. Dengan perkembangan tersebut, tambah Difi, BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2013 ini masih ada dalam kisaran proyeksi sebelumnya, yakni 5,5% hingga 5,9%.

Namun, untuk proyeksi tahun 2014 mendatang, Difi mengatakan, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, sehingga berada pada batas bawah dikisaran 5,8% hingga 6,2%.

“Perkiraan ini sejalan proses konsolidasi ekonomi dalam merespons berbagai perkembangan ekonomi global dan domestik,” jelas dia masih berada di tren melambat pada triwulan IV tahun ini. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, DIfi A Johansyah mengatakan, perlembatan tersebut terjadi akibat sumber investasi yang juga melemah. “Terutama pada investasi non bangunan,” kata Difi di Jakarta, Kamis (12/12).

Selain itu, perlambatan kegiatan konsumsi diprediksi akan tertahan mengingat meningkatnya pengeluaran terkait persiapan pemilu dan realisasi belanja daerah. “Bank senttral menilai tren perlambatan ekonomi domestik sudah sejalan dengan arah kebijakan stabilisasi pemerintah dan BI dalam membawa pertumbuhan ekonomi kearah yang lebih sehat dan seimbang,” ucap dia.

Sementara itu, dari sisi eksternal, beberapa perkembangan mengindikasikan berlanjutnya perbaikan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan IV-2013. “Perbaikan NPI ditopang oleh menyempitnya defisit Transaksi Berjalan seiring dengan perbaikan pada neraca perdagangan yang kembali mencatat surplus pada Oktober 2013,” imbuh dia.

Selain itu, aliran masuk modal asing baik dari investasi langsung maupun investasi portofolio diperkirakan masih mencatat surplus yang meningkat sehingga memadai untuk membiayai defisit transaksi berjalan. “Cadangan devisa pada akhir November 2013 sebesar 97,0 miliar dolar AS atau setara dengan 5,3 bulan impor dan pembayaran Utang Luar Negeri pemerintah, di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” kata Difi.

Sedangkan menanggapi pelemahan nilai tukar, BI menilai pelemahan tersbut utamanya dipicu oleh sentiment negative pelaku pasar terhadap rencana pengurangan stimulus moneter atau tapering off oleh the federal reserve. “Selain itu juga dipengaruhi defisit transaksi berjalan Indonesia,” kata dia.

Bank Indonesia menilai pelemahan rupiah masih sejalan dengan perkembangan mata uang negara-negara kawasan. Ke depan, Bank Indonesia akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya sehingga dapat mendukung penyesuaian ekonomi secara terkendali.

Inflasi pada bulan November 2013 tetap terkendali dan masih dalam tren yang menurun. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada November 2013 tercatat sebesar 0,12% month to month atau 8,37% year on year (yoy). “Meskipun sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi Oktober 2013 sebesar 0,09% (mtm), inflasi November 2013 lebih rendah dibandingkan dengan pola historisnya dalam lima tahun terakhir,” katanya.

Inflasi yang rendah didukung oleh koreksi harga pada kelompok volatile food dan melambatnya inflasi inti akibat perkembangan harga global yang cenderung rendah. Bank Indonesia memprakirakan inflasi keseluruhan tahun 2013 dapat lebih rendah dari 8,5% dan terus menurun dalam kisaran target 4,5±1% pada 2014. [sylke]

Related posts