Uji Coba Penutupan GT Semanggi I Dimulai - Awal Pekan Depan

NERACA

Jakarta - Kemacetan merupakan momok menakutkan bagi warga Jakarta, selain banjir. Segala cara telah ditempuh. Mulai dari pemberlakuan jalur three in one, membangun moda transportasi massal seperti busway, monorel dan subway. Kemudian, pembangunan fly over dan underpass hingga yang terbaru, uji coba penutupan Gerbang Tol (GT) Semanggi I dan lajur keluar (Off Ramp).

Nah, untuk yang terakhir ini, tujuannya adalah mengurangi kepadatan Tol Dalam Kota, terutama di sekitar Jembatan Semanggi. Oleh karena itu, PT Jasa Marga Tbk, selaku operator jalan tol, bekerjasama dengan Polda Metro Jaya dalam melaksanakan uji coba penutupan GT Semanggi I tersebut.

Menurut Hasanuddin, Direktur Operasional Jasa Marga, mulai Senin (16/12) pukul 16.00-20.00 WIB penutupan GT Semanggi I resmi diberlakukan. “Uji coba ini akan dilaksanakan satu minggu, untuk kemudian akan dievaluasi bersama Polda Metro Jaya, efektif atau tidak kebijakan ini. Kalau ternyata makin memperparah kemacetan, ya, dihentikan. Karena (kebijakan ini) sifatnya sementara atau temporary,” ujar Hasanuddin di Jakarta, Kamis (12/12).

Lebih jauh dia mengatakan, pada saat dilakukan penutupan GT Semanggi I nanti, maka kendaraan yang akan masuk ke arah Cawang akan masuk tol melalui GT Semanggi 2. Untuk mengantisipasi lonjakan antrean di GT Semanggi 2, Jasa Marga telah menyiapkan 12 Petugas Jemput Transaksi (Putra). Sementara untuk mengatasi kepadatan antrean di GT Senayan, perseroan juga sudah menambah empat ‘Putra’ di gerbang tersebut.

Selain itu, kata Hasanuddin, pihaknya sudah memasang kamera pengawas atau CCTV, di mana khusus Tol Dalam Kota jumlahnya mencapai 30 unit dan di setiap tempat transaksi atau gerbang tol jumlahnya sebanyak 141 unit. “Dengan begitu, Polda Metro Jaya bisa mengakses CCTV yang kita miliki untuk mengawasi pengendara yang tidak taat berlalu lintas,” terangnya.

Meski begitu, Hasanuddin berharap modal transportasi massal seperti monorel dan subway, segera dibangun dan secepatnya diresmikan untuk mengurangi kepadatan kendaraan di Jakarta. Hal ini diakuinya karena jumlah jalan raya saat ini sudah tidak bisa dikembangkan lagi. Sementara jumlah kendaraan bermotor setiap tahunnya makin bertambah.

“Justru kalau trasportasi massal berjalan, kepadatan kendaraan berkurang. Itu harapan kita semua,” tambah dia. Jasa Marga, imbuh Hasanuddin, sebelumnya sudah menerapkan sistem contra flow sejak 1 Mei 2012 lalu, mulai dari KM 1+700 Cawang hingga 8+100 Semanggi pukul 06.00-09.30 WIB. Sedangkan contra flow dari arah sebaliknya, yaitu Tomang-Semanggi, mulai KM 13+550 sampai dengan 9+650 beroperasi setiap pukul 07.00-10.00 WIB setiap hari kerja sejak 1 April 2013 kemarin.

10%-15%

Pada kesempatan yang sama, Kepala Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Chrysnanda Dwi Laksana, mengungkapkan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas antara Cawang sampai dengan Kuningan, Jakarta Selatan, juga dilakukan uji coba penutupan lajur keluar (Off Ramp) ke arah Patung Pancoran (Bank Bukopin) serta lajur keluar Tegal Parang pada pukul 08.00-10.00 WIB. Sementara untuk mengatasi kepadatan lalu lintas di sekitar Tomang, pihaknya juga melakukan penutupan Off Ramp persis depan Rumah Sakit Dharmais pada pukul 08.00-10.00 WIB. “Kita juga memberlakukan sterilisasi jalur busway sepanjang Ruas Cawang sampai Grogol yang menyebabkan meningkatnya kepadatan kendaraan di jalan non-tol dari arah MT Haryono, Gatot Subroto serta S Parman,” paparnya. Chrysnanda menyebutkan, setiap hari kerja atau peak hour, jumlah kendaraan di Off Ramp Patung Pancoran sebanyak 1.700 unit, Tegal Parang 1.700 unit, Semanggi I 1.500 unit dan Polda Metro Jaya serta RS Dharmais sebanyak 2.200 unit. “Walaupun sifatnya sementara, kita berharap bisa mengurangi kemacetan antara 10%-15%. Karena jalan-jalan yang diterapkan uji coba ini adalah bottle neck (jalur padat),” jelas dia. Dengan demikian, ketika Off Ramp ke arah Patung Pancoran dan Kuningan ditutup setiap pukul 08.00-10.00 WIB, maka kendaraan dari arah Jagorawi, Jakarta-Cikampek, dan Tol Tanjung Priok, yang akan menuju Pancoran atau Kuningan, diharuskan keluar menuju Cawang untuk kemudian melewati jalan non-tol.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menuding GT Semanggi I sebagai biang kemacetan di kawasan Semanggi dan sekitarnya. Sehingga dianjurkan agar GT Semanggi I tersebut ditutup. Apabila wacana ini terealisasi, maka para pengendara yang melintas dari arah Semanggi menuju Cawang, yang ingin melewati tol, dapat masuk melalui GT Semanggi II yang letaknya tak jauh dari GT Semanggi I. [ardi]

Related posts