Indonesia Cenderung Dijadikan Pasar oleh Jepang

NERACA

Jakarta - Peneliti dari Lembaga Pengkajian Penelitian dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin Prof Dr Ina Primiana mengatakan kerjasama ekonomi antara Indonesia dengan Jepang tidak menguntungkan, pasalnya Indonesia lebih banyak dijadikan pasar oleh jepang.

"Menurut data yang saya miliki, sejak 2007 neraca perdagangan dengan Jepang defisit, yang lebih parah lagi janji Jepang untuk transfer of technology sampai sekarang jalan ditempat," ujarnya Ina saat dihubungi Neraca, Kamis (12/12)

Lebih lanjut, Ina memaparkan Jepang menjadikan Indonesia sebagai pasar otomotif mereka, semua mobil produksi mereka terjual habis disini. Bahkan yang lebih parah lagi, pemerintah sepertinya menuruti semua permintaan Jepang. Untuk itu, sebaiknya pemerintah bisa bersikap tegas dan selalu memikirkan keuntungan dan kerugian setiap perjanjian kerjasama ekonomi atau perdagangan dengan negara lain.

"Perjanjian perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA) yang disepakati Indonesia dengan beberapa negara, diyakini membuat defisit perdagangan semakin lebar. FTA juga menyebabkan impor berbagai komoditas dan produk semakin menjamur masuk ke Indonesia. Penandatanganan FTA mengakibatkan defisit perdagangan Indonesia makin besar. Bahkan, dalam lima tahun terakhir nilai impor mengalami peningkatan tiga kali lipat lebih besar,"papar Ina.

Menurut dia, jika kesepakatan FTA terus dibuka,kejadian ini akan terus berlanjut dan berpengaruh pada industri nasional untuk jangka panjang," katanya dalam diskusi di Menara Kadin, Jakarta, kemarin. Melihat efek melebarnya defisit perdagangan dan makin besarnya impor akibat perjanjian perdagangan bebas tersebut, dia mengatakan seharusnya dikaji kembali apakah FTA memberikan keuntungan atau tidak bagi Indonesia.

Dia menekankan, pemerintah harus memiliki pertimbangan yang matang sebelum menyepakati perjanjian kerjasama ekonomi atau perdagangan bebas. Selain itu, kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Jepang pekan ini terkait memperingati 40 tahun kerja sama ekonomi Indonesia-Jepang, selain meghadiri KTT ASEAN yang akan berlangsung di Tokyo.

Berdasarkan data Kemendag, nilai impor dari Jepang terus mengalami peningkatan. Pada 2009 tercatat mencapai US$9,8 miliar. Sementara di 2010 meningkat cukup tinggi hingga US$16,9 miliar. Pada 2011 juga meningkat US$19,4 miliar dan 2012 mencapai US$22,7 miliar. Sementara dari Januari-Agustus 2013, impor dari Jepang mencapai US$13 miliar.

Menurut pengamat ekonomi UI Faisal Basri, kemerosotan daya saing relatif Indonesia di mata investor Jepang sejalan dengan kinerja industri manufaktur Indonesia yang melemah pasca krisis. Pertumbuhan sektor industri manufaktur merosot, bahkan dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan sektor ini selalu lebih rendah daripada pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).

Lebih jauh, menurut dia, terjadi gejala dini deindustrialiasi sebagaimana tercermin dari pangsa industri manufaktur di dalam PDB yang sudah mengalami penurunan sebelum mencapai titik optimalnya. Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa peranan industri manufaktur baru akan mulai turun ketika telah mencapai sekitar 35% dari PDB. Ada pun di Indonesia penurunan porsi manufaktur sudah terjadi ketika pangsanya di dalam PDB baru mencapai sekitar 27 %.

Sangat kuat dugaan bahwa kinerja industri manufaktur yang melemah terkait erat dengan kecenderungan peran PMA yang menurun. Padahal terbukt di banyak negara berkembang, termasuk China, bahwa PMA sangat berperan dalam percepatan industrialisasi dan peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Ada fenomena baru yang diperkirakan bakal muncul setelah krisis ekonomi global. Salah satunya ialah kecenderungan pergeseran PMA dari negara-negara yang menjadi basis produksi untuk ekspor ke negara-negara yang memiliki pasar domestik cukup besar. Ini merupakan peluang baik bagi Indonesia untuk menyerap lebih banyak PMA.

Bagi Jepang pun, ini adalah peluang untuk lebih banyak menanamkan modalnya di negara yang memiliki pasar domestik cukup besar, yang telah terbukti selama krisis terakhir ini lebih mampu bertahan. Kepentingan yang selaras antara jepang dan Indonesia bisa menjadi babak baru dalam hubungan ekonomi kedua negara.

Tentu saja peluang ini tak akan terwujud secara otomatis. Untuk mewujudkannya kedua belah pihak perlu melakukan langkah-langkah yang saling mendukung. Dari sisi Indonesia, prasyarat mutlak yang harus dihadirkan ialah mempercepat pengintegrasian ekonomi domestik, agar hasil produksi PMA di suatu lokasi bisa dengan lancar dan murah didistribusikan ke seluruh penjuru tanah air. Tanpa itu, tak ada insentif yang memadai bagi PMA untuk menjadikan Indonesia sebagai basisi produksi untuk mengisi pasar domestik yang potensinya cukup besar itu.

Wakil Ketua Apindo Anton Supit mengatakan, kerjasama ekonomi Indonesia dengan Jepang tidak memberikan manfaat bagi Indonesia. Meskipun neraca perdagangan Indonesia-Jepang surplus, akan tetapi Indonesia lebih banyak dirugikan.

Dia mencontohkan mengenai capacity building seperrti pusat penelitian dan alih teknologi yang tidak banyak dimanfaatkan oleh Indonesia. "Bagaimana dia membantu kita untuk engineering dan industri, tapi kita tidak pernah minta, ya tidak diberikan," ujarnya, kemarin.

Anton mencontohkan bagaimana besarnya volume impor bodi mobil dari Jepang, tapi pemerintah tidak mampu memanfaatkan peluang itu untuk penguatan capacity building bagi sektor industri Indonesia. Akibatnya, kata dia, manfaat kerja sama itu seolah lebih menguntungkan Jepang daripada Indonesia.

Lebih jauh lagi, ia menyebutkan beberapa barang yang diekspor Indonesia ke Jepang, antara lain gas dan minyak bumi. Sementara, sebaliknya, impor yang masuk berupa otomotif dan elektronik dengan nilai tambah lebih tinggi. "Kalau kita tidak minta, dia senang saja. Jepang itu paling baik dibanding kerja sama dengan negara lain. Kita saja yang tidak mengambil peluang itu, mereka banyak menawarkan," kata dia.

Anton menyatakan lemahnya koordinasi pemerintah dengan kalangan pengusaha lokal menjadi penyebab minimnya penyerapan potensi yang diberikan Jepang. “Harusnya kan sektor swasta bisa dilibatkan dengan optimal, bukan sebaliknya ditinggalkan,” ujar dia. iwan/bari

Related posts