Sawit Sumbermas Targetkan Produksi Tumbuh 15% - Manfaatkan Pulihnya Harga CPO

NERACA

Jakarta – Perusahaan sawit, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) optomis tahun depan bisa meningkatkan produksi crude palm oil (CPO) tumbuh sebesar 15% hingga 20% dari total produksi tahun ini 270 ribu ton menjadi 320 ribu ton pada tahun depan ditengah proses pemulihan harga komoditas sawit.

Presiden Direktur PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk, Rimbun Situmorang mengatakan, perseroan optimis tahun depan produksi CPO meningkat hingga 20%, “Bila tahun ini produksi CPO kita hanya 270 ribu ton, maka ditahun depan kita targetkan 320 ribu ton”,katanya di Jakarta, Kamis (12/12).

Menurutnya, kenyakinan penjualan dan produksi CPO bakal tumbuh sesuai target karena di dukung kebijakan pemerintah yang mulai mengembangkan industri energi biodisel sebagai energi alternatif. Terlebih saat ini, aplikasi dan utilisasi penggunaan energi bersumber CPO di industri makin berkembang yang tentunya bakal memicu permintaan CPO meningkat.

Melihat peluang tersebut, perseroan juga menargetkan pendapatan dan laba bersih tahun depan bisa tumbuh sebesar 15%. Dimana tahun depan, perseroan mengincar laba bersih sebesar Rp207 miliar atau meningkat sebesar 15% dibandingkan proyeksi laba bersih akhir tahun ini sebesar Rp180 miliar.

Kata Rimbun Situmorang, kendati harga jual minyak sawit mentah hingga kini masih belum pulih, perseroan bakal melakukan strategi melakukan efisiensi biaya untuk meraih target tahun depan."Kenaikan laba bersih SSMS akan diiringi oleh peningkatan penjualannya pada tahun depan, yang diprediksi naik sebesar 10% menjadi Rp1,11 triliun dibandingkan target penjualan 2013 sebesar Rp1,01 triliun,”ujarnya.

Dirinya lagi-lagi tetap optimis bisa mencapai target kinerja perusahaan pada tahun depan. Hal itu melihat harga jual CPO pada 2014 yang diprediksi akan lebih baik dari sebelumnya. Sementara Direktur PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk, Harry M. Nadir mengatakan, sebenarnya harga CPO global saat ini sudah mulai mengalami tren kenaikan dari US$750 per MT menjadi US$ 800 per MT.,”Harga CPO diprediksi akan naik, dengan adanya kebijakan terkait biodiesel menjadikan salah satu indikator peningkatan harga CPO dengan bertambahnya demand. Tapi kita tidak bisa bergantung dengan itu karena harga CPO sangat driven by asing. Kita naikkan produksi supaya bila harga turun kita tetap tumbuh positif,”tandasnya.

Bayar Utang

Meskipun melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar tidak mempengaruhi kinerja keuangan, namun perseroan berencana menurunkan porsi utang perbankannya sebesar Rp250 miliar dari total utang jangka panjang yang dimiliki perseroan mencapai Rp1,2 triliun.

Direktur SSMS Harry M Nadir mengungkapkan, utang perseroan sebesar Rp1,2 triliun tersebut adalah utang dari Bank Mandiri terhadap anak usaha perseroan, “Perseroan miliki utang hanya dari bank lokal, Bank Mandiri yang akan kita lunasi Rp250 miliar dari total Rp1,2 triliun kurang lebih karena masih ada installment yang perlu kita hitung,”ujarnya.

Sebagai informasi, perseroan melepas 1,5 miliar saham ke publik dengan menawarkan harga perdana Rp670. Adapun dana dari hasil IPO sebesar Rp1,005 triliun. Dana hasil IPO itu akan digunakan perseroan untuk pengembangan lahan atau pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit, pembiayaan modal kerja dan pembayaran pinjaman perbankan.

Debut pertama di pasar modal, saham perseroan langsung naik 20 point atau 185% tembus di level Rp 690 per saham dari saham yang ditawarkan Rp 670 per saham. Tidak hanya itu,minat asing terhadap saham perdana PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk cukup besar mencapai 81% dan sisanya lokal disamping adanya kelebihan permintaan, “Kami tidak hanya menawarkan saham di Indonesia, hal ini dilihat dengan komposisi investornya. Investor asing sebesar 81%, domestiknya 19%," kata Direktur Investasi Perbankan Mandiri Sekuritas Iman Rachman.

Dia menuturkan, investor asing yang berhasil menyerap saham SMSS berasal dari Singapura, Hongkong dan Malaysia. Menurut dia, minat investor asing sangat tinggi, walaupun harga minyak sawit mentah atau CPO menurun. (bani)

BERITA TERKAIT

Anehnya Boikot Uni Eropa Terhadap Sawit Indonesia

      NERACA   Jakarta – Industri kelapa sawit Indonesia menjadi penopang terhadap perekonomian. Data dari Direktorat Jenderal Pajak…

Terbitkan Produk KIK Dinfra - Jasa Marga Targetkan Dana Rp 1 Triliun

NERACA Jakarta –Besarnya kebutuhan modal PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dalam mendanai proyek jalan tol, mendorong perseroan untuk terus memanfaatkan…

Maret, Volume Penjualan SMBR Tumbuh 8%

NERACA Jakarta - Di kuartal pertama 2019 atau pada Maret, PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR) mencatatkan pertumbuhan volume penjualan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Astrindo Raih Pendapatan US$ 27,16 Juta

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) membukukan pendapatan sebesar US$27,16 juta atau melesat…

Optimalkan Tiga Lini Bisnis Baru - Mitra Investindo Siapkan Capex US$ 3 Juta

NERACA Jakarta – Menjaga keberlangsungan usaha pasca bisnis utama terhenti pada akhir tahun lalu, PT Mitra Investindo Tbk (MITI) bakal…

Laba Betonjaya Melesat Tajam 144,59%

Di tahun 2018, PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON) mencatatkan laba tahun berjalan senilai Rp27,81 miliar atau naik 144,59% dibandingkan periode…